Kamis 07 Mei 2020, 14:04 WIB

Kemenaker dan BP2MI Diminta Usut Kasus ABK di Kapal Tiongkok

adiyanto | Internasional
Kemenaker dan BP2MI Diminta Usut Kasus ABK di Kapal Tiongkok

Antara
Sebuah kapal asing asal Guangzhou, Tiongkok di Pontianak, (1/2/2020). Banyak ABK Indonesia di kapal asing kerap diperlakukan tak manusiawi.

 

BELAKANGAN ini di media sosial dan media massa beredar video yang menggambarkan penderitaan para pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK (Anak Buah Kapal)  di kapal pencari ikan Long Xin 605, Long Xin 629 dan Tian Yu 8 (semua berbendera Republik Rakyat Tiongkok) yang beroperasi berpindah-pindah tempat melintas negara.

Apa yang dialami oleh para ABK Indonesia tersebut adalah bentuk dari pelanggaran hak asasi manusia di mana mereka terenggut kebebasannya, bekerja dalam kondisi tidak layak, tidak mendapatkan hak atas informasi, hingga hak yang paling dasar yaitu hak atas hidup yang terenggut.

Kondisi ini makin memperlihatkan kondisi muram pekerja migran Indonesia, terutama yang bekerja di sektor kelautan. Sebelumnya, seperti yang kita ketahui, ribuan pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK di kapal-kapal pesiar juga menjadi korban penularan covid-19, baik tertular penyakitnya maupun kehilangan pekerjaannya. Menurut catatan Badan Perlindungan Pekerja Migran IndonesiaI, sudah lebih dari 6000 ABK mengalami pemutusan hubungan kerja.

Kerentanan pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan memang bukan hal yang baru. Dalam Global Slavery Index yang dikeluarkan Walk Free  tahun 2014-2016 juga menempatkan pekerja migran di sektor kelautan dan perikanan (terutama sebagai ABK di kapal pencari ikan) sebagai praktek perbudakan modern yang terburuk.

“Dalam pemeringkatan ini, terhitung ada ratusan ribu ABK Indonesia di kapal-kapal penangkap ikan berada dalam perangkap perbudakan modern. Jika kondisi tersebut masih berlangsung sampai sekarang,situasi memang belum berubah dan ini tentu sangat menyedihkan,” kata Direktur Migrant CARE, Wahyu Susilo dalam keterangan resminya, Kamis (7/5). Migrant CARE, kata dia, ikut menginisiasi Global Slavery Index yang dikeluarkan Walk Free tersebut.

Kerentanan para pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan, kata Wahyu, juga dipicu oleh ketiadaan instrumen perlindungan yang memadai sebagai payung perlindungan bagi mereka. Meskipun UU No. 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia mengamanatkan adanya aturan khusus mengenai Pelindungan Pekerja Migran di sektor Kelautan dan Perikanan, namun hingga saat ini aturan turunan tersebut belum terbit. “Bahkan, terlihat ada kecenderungan berebut kewenangan antara Kementerian Perhubungan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan pelindungan Pekerja Migran Indonesia,” ujarnya.

Politik luar negeri dan diplomasi, lanjut Wahyu, juga belum maksimal dalam memperjuangkan penegakan hak asasi pekerja migran di sektor kelautan dan perikanan, terkait dengan implementasi dan komitmen antarnegara dalam pelindungan pekerja di sektor kelautan.

Dalam kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami ABK Indonesia di kapal berbendera Republik Rakyat Tiongkok, Kementerian Luar Negeri RI telah mengeluarkan sikap namun hingga saat ini belum ada respons dari Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

Migrant CARE mendesak Kementerian Ketenagakerjaan dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk bersikap proaktif memanggil para agen pengerah ABK tersebut (berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan) untuk meminta pertanggungjawaban korporasi dan apalagi ditemukan pelanggaran hukum harus diteruskan melalui mekanisme hukum yang berlaku. (M-4)

Baca Juga

MI/ Ramdani

Perawat Indonesia Wafat di Kuwait akibat Korona

👤Rudy Polycarpus 🕔Senin 25 Mei 2020, 23:00 WIB
"Kami menyampaikan duka cita mendalam atas kematian salah satu frontliners perawat Indonesia. Beliau juga aktif dalam...
AFP

Juli, Spanyol Izinkan Turis Asing Masuk

👤Ant 🕔Senin 25 Mei 2020, 20:01 WIB
Pemerintah  berencana mencabut aturan wajib karantina 14 hari bagi pendatang dari luar negeri dalam beberapa pekan ke...
INSTAGRAM/kbridsm

Berbagi Keceriaan Idulfitri untuk WNI di Tanzania

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 25 Mei 2020, 14:00 WIB
Duta Besar RI Dar es Salaam Prof. Dr. Ratlan Pardede berharap Idulfitri tahun ini tidak kehilangan makna karena keterbatasan yang ada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya