Rabu 06 Mei 2020, 06:55 WIB

Pemerintah Akui Hadapi Dilema Covid-19

Ind/Ins/Che/Pra/Mir/P-2 | Politik dan Hukum
Pemerintah Akui Hadapi Dilema Covid-19

ANTARA/SETPRES-KRIS
Presiden Joko Widodo mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) secara virtual di Kompleks Istana Bogor, Jawa Barat

 

DAMPAK pandemi penyakit virus korona baru (covid-19) memukul semua sektor, tidak hanya kesehatan. Hal itu memunculkan dilema antara menyelamatkan perekonomian atau kesehatan masyarakat.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan kesehatan masyarakat memang yang lebih diutamakan. Namun, pemerintah tidak boleh
mengabaikan stabilitas ekonomi.

“Kalau duitnya tidak ada bagaimana, uangnya dari mana? Itu dari ekonomi. Sebaliknya kecepatan kita dalam menangani covid-19 akan membuat ekonomi cepat pulih juga, sehingga dua-duanya ini tidak boleh salah satu dikosongkan atau dihilangkan,” ujar Tito dalam siaran pers, kemarin.

Demi penanganan covid-19 yang efektif sembari menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah pada 31 Maret lalu telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah menyatakan Banggar sepakat dan mendukung langkah pemerintah dalam mengimplementasikan perppu tersebut.

“Kami sepakat dan mendukung sepenuhnya, jika setiap kebijakan harus dilakukan dengan prudent, terukur dan dilakukan secermat mungkin, agar tidak menimbulkan dampak ekonomi dan hukum di kemudian hari,” tutur Said saat membuka rapat kerja dengan perwakilan pemerintah, Senin (4/5).

Banggar, sebut Said, menyadari dibutuhkan hal yang tidak biasa dalam menghadapi pandemi covid-19 dan dampak mengularnya pada perekonomian nasional. Prioritas pemerintah setidaknya perlu mengerucut pada tiga hal, yakni bidang kesehatan, bantuan sosial, dan mencegah terjadinya krisis keuangan.

Di kesempatan berbeda, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan berbagai pihak agar tidak keliru menafsirkan rencana pelonggaran PSBB.

Juru bicara Wapres Masduki Baidowi mengatakan dalam rapat terbatas di Istana Wapres, kemarin, Wapres menekankan kalau pun ada pelonggaran, hal tersebut hanya diterapkan terhadap bidang-bidang tertentu seperti kepentingan logistik, perjalanan bisnis, dan dinas pemerintahan.

Masduki menjelaskan, “Ratasnya belum bicara teknis. Namun, yang jelas bukan pelonggaran secara menyeluruh,” pungkas Masduki.

Pada Senin (4/5) malam, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok (GNB) yang digelar secara daring, Presiden Joko Widodo meng ajak negara-negara GNB mengusung solidaritas politik.

Salah satu yang diperjuangkan ialah mendapatkan akses yang berkeadilan dan tepat waktu terhadap obat- obatan dan vaksin covid-19 degan harga yang terjangkau. (Ind/Ins/Che/Pra/Mir/P-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Prabowo bakal Pimpin lagi Partai Gerindra

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 06:20 WIB
Perjuangan Gerindra terutama saat munculnya ide menaikkan ambang batas parlemen dalam Pemilu 2024 dan menyongsong Pilkada...
MI/ADAM DWI

LSI Denny JA Rekomendasikan Cekal Covid-19 ala Bali

👤Indriyani Astuti 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 06:15 WIB
PEMBATASAN sosial berskala besar (PSBB) mulai dilonggarkan di beberapa daerah yang kini menuju tatanan hidup...
MI/MOHAMAD IRFAN

Dua Prajurit Contohkan Amalan Pancasila

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 06:00 WIB
MPR RI memberikan penghargaan sebagai bentuk apresiasi pada dua anggota TNI yang berdedikasi pada masyarakat di tengah pandemi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya