Rabu 06 Mei 2020, 06:15 WIB

Belajar dari Kearifan Nabi Muhammad (1)

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Belajar dari Kearifan Nabi Muhammad (1)

Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

PERAN figur Nabi Muhammad yang didukung nilai-nilai kebersamaan para sahabat dan masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dalam upaya sosialisasi dan penjabaran nilai-nilai Alquran.

Sebaik apa pun sebuah nilai, tidak terkecuali nilai-nilai Alquran, jika tidak didukung lingkungan pacu yang kondusif di dalam masyarakat, tentu tidak akan mencapai hasil maksimum. Inilah makna ayat Alquran ‘Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya’ (QS al-Hijr/15:9). Penggunaan kata ganti plural (sesungguhnya Kami, tidak dikatakan sesungguhnya Aku) mengisyaratkan tidak adanya jaminan keterpeliharaan Alquran tanpa dukungan simetris dari berbagai komponen proses turunnya kitab suci ini.

Ayat pertama yang Allah SWT turunkan ialah Iqra’ bi ismi Rabbik (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu). Menarik untuk dikaji, mengapa wahyu pertama turun kepada Nabi yang buta huruf (ummi) ialah perintah membaca. Lagi pula, kalimat perintah ini tidak disertai objek (maf’ul). Dalam studi Alquran, jika ada sebuah perintah (fi ’il amr) tidak mempunyai objek (maf’ul), itu menunjukkan keumuman lafal.

Seolah-olah yang harus dibaca tidak hanya tanda-tanda kecil (ayat), tetapi juga tanda-tanda besar (’alam, ’alamat). Iqra’ mengisyaratkan pembacaan ayatayat dalam huruf kecil (ayat), yakni ayat-ayat kitabiyah, yakni Alquran, juga pembacaan ayat-ayat dalam huruf-huruf besar (’alam, ’alamat), yakni ayat-ayat kauniyah, termasuk pembacaan masyarakat sebagai objek dakwah.

Beberapa waktu kemudian Allah menurunkan ayat lain dalam bentuk sumpah yang sekaligus merupakan sumpah pertama Tuhan dalam Alquran; ‘Nun, Wal Qalam wa ma yasthurun’ (Demi pena dan apa yang ditulisnya).

Perintah membaca, mendalami masalah, tantangan, dan peluang yang dihubungkan dengan sarana pengetahuan mengisyaratkan kepada kita betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, khususnya bagi seseorang yang diamanati untuk mengemban sebuah misi besar di dalam masyarakat. Urgensi ayat-ayat tersebut agaknya juga sangat relevan jika dihubungkan dengan masyarakat jahiliah yang menjadi adres
utama ayat-ayat tersebut.

Peranan Iqra’ kelihatannya begitu berkesan di dalam kisah sukses perjuangan Nabi Muhammad dan umatnya. Ia tidak jarang menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan emosional-primordial dan lebih mengutamakan prinsip-prinsip rasional dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Sebagian contoh dapat disebutkan beberapa hal berikut ini.

Melalui pembacaan Nabi SAW, ia tahu kapan harus menjalankan misi dakwahnya secara rahasia dan kapan menjalankan misi dakwahnya secara terbuka. Kapan waktunya untuk hijrah dan kapan waktu paling tepat dan paling aman untuk merebut kembali Kota Mekah.

Beliau juga tahu bagaimana taktik dan strategi menghadapi pasukan musuh yang berjumlah lebih besar dan dengan persenjataan lebih canggih. Di antara seluruh peperangan yang pernah dialami, Nabi hanya sekali dikalahkan, yakni pada Perang Uhud. Itu pun karena petunjuk Nabi tidak dilaksanakan para prajuritnya.

Dalam sebuah musyawarah penentuan nasib tawanan Perang Badar, Rasulullah SAW menolak pendapat Umar untuk membunuh tawanan perang laki-laki dan menerima konsep pembebasan bersyarat dari Abu Bakar.

Rasulullah lebih detail meminta para tawanan perang itu diidentifikasi jenisjenis potensi kemampuannya untuk memberdayakan masyarakat Madinah.

Akhirnya teridentifikasi beberapa orang yang ahli dalam pembuatan senjata, tukang besi, tukang kayu, tukang batu, tukang samak kulit, dan tukang rias pengantin. Kemudian Rasulullah meminta orang-orang tersebut mengajari keterampilan kepada kelompok-kelompok masyarakat Madinah berdasarkan kecenderungan bakat masing masing.

Dalam waktu singkat, masyarakat Madinah sudah memiliki sumber daya manusia yang andal dan produk-produknya sudah dapat dipasarkan ke pasar bebas. Pilihan cerdas ini juga meringankan beban ekonomi masyarakat Madinah yang kebanjiran pengungsi muslim Mekah (muhajirin).

Baca Juga

Seno

Muruah Halalbihalal

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Jumat 22 Mei 2020, 06:05 WIB
Kita kini bisa melakukan halalbihalal melalui media elektronik atau media-media konvensional lainnya. Pengiriman oleh-oleh, mungkin karena...
Seno

Silaturahim Lintas Primordial

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Rabu 20 Mei 2020, 06:10 WIB
Ini artinya siapa pun sebagai anak cucu Adam wajib dihormati sebagai manusia. Alquran juga menggagas konsep ukhuwah imaniah, persaudaraan...
Seno

Islam tidak Mengenal Mayoritas-Minoritas

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Selasa 19 Mei 2020, 05:10 WIB
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam’ (QS Al-Isra’/17: 70). Apa pun jenis kelamin, etnik, kewarganegaraan,...

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 06 Jun 2020 / Ramadan 1441 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:20 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More