Rabu 06 Mei 2020, 03:05 WIB

Ke Mana Hiu Putih Besar? Jangan-jangan di Sebungkus Camilan

Abdillah Marzuqi | Weekend
Ke Mana Hiu Putih Besar? Jangan-jangan di Sebungkus Camilan

Sharkfreechips.Com/Mark
Hiu martil yang kerap jadi korban penangkapan ikan untuk komersil.

Beberapa tahun lalu, ilmuwan memperkirakan adanya 300-500 hiu putih di False Bay, Afrika Selatan. Sayangnya, hiu putih tak lagi ditemukan saat ini, dan keseimbangan ekosistem laut bisa jadi bakal terganggu ketika predator puncak itu hilang.

Manajer Riset Shark Spotters Tamlyn Engelbrecht mempelajari aktivitas hiu di Pulau Seal, di kawasan teluk tersebut. Lokasi itu merupakan rumah bagi lebih dari 64.000 anjing laut bulu dan juga lokasi hiu putih besar mencari makan.

"Kami juga melihat perubahan pada spesies hiu lain, seperti hiu tembaga (bronze whaler) dan hiu sevengill yang lebih lazim di Pulau Seal," katanya.
Ketika jumlah hiu berkurang, paus pembunuh Orca (killer whale) pun diduga sebagai biang berkurangnya jumlah hiu. Paus pembunuh atau orca diketahui punya cara spesifik untuk menyerang hiu. Mereka menggunakan sirip dada untuk merobek tubuh hiu.

"Ada bangkai utuh dengan bekas luka yang demikian," jelas Englebricht. "Ketika dua orca bermalam, keesokan harinya akan ada enam, tujuh, atau delapan bangkai. Dan hanya itu yang kami temukan. Beberapa Orca bisa melakukan banyak kerusakan." 

Namun, operator selam dan fotografer satwa liar Chris Fallows punya pandangan kritis terhadap anggapan itu. "Port dan Starboard (sebutan untuk orca) memiliki efek jangka pendek hingga menengah, tetapi tentu saja tidak dapat menjelaskan efek jangka panjang atas hilangnya hewan-hewan ini (hiu putih besar) dari spot mereka," katanya.

Fallows telah bekerja dengan hiu selama hampir 30 tahun di Pulau Seal. Ia menyakini, praktik perikanan rawai dasar (demersal longline) di Afrika Selatan terkait erat dengan perubahan populasi hiu.

Praktik yang menyasar penghuni dasar laut itu ternyata juga menargetkan spesies hiu yang lebih kecil. Di Australia dikenal sebagai hiu bergetah dan hiu sekolah.
Mayoritas hiu kecil itu lalu diekspor ke Australia. Mereka masuk pasar ikan dan diolah jadi makanan ringan semacam keripik, yang disebut flake. Masalahnya, hiu kecil itu menempati 60% persen dari makanan hiu putih besar.

"Ini menghancurkan salah satu ekosistem laut besar dunia, dan semuanya untuk sepiring ikan dan keripik?" kata Fallows.
Fallows bekerja dengan ilmuwan hiu Afrika Selatan Enrico Gennari untuk memantau perikanan. "Afrika Selatan adalah negara pertama di dunia yang melindungi hiu putih. Kami telah melindungi hiu putih selama 30 tahun sekarang," jelas Gennari.

Namun menurutnya, hal itu tidak cukup ketika hanya melindungi spesiesnya dan mengabaikan sumber makanannya.
"Melindungi satu spesies, tanpa melindungi sebagian besar mangsa mereka, jelas tidak cukup," tambahnya.

Jadi camilan
Keripik ikan goreng saat waklu luang, piknik, sembari nonton film. Sempurna. Namun bisa jadi sebungkus keripik itu adalah pembunuh hiu putih besar. Sejak lama, flake (serpihan) menjadi konsumsi warga Australia, hingga mengakibatkan penangkapan berlebih pada hiu bergetah dan hiu sekolah. Akhirnya, kedua spesies itu dilindungi sejak awal 1990-an.

Untuk memenuhi permintaan, Australia mulai mengimpor serpihan, sebagian besar dari Selandia Baru dan Afrika Selatan.
Saat ini, perikanan hiu bergetah Australia dikelola secara berkelanjutan dengan menggunakan metode pengetatatan kuota atau Total Allowable Catch. Sebaliknya, perikanan di Afrika Selatan dikelola berdasarkan Total Allowable Effort atau pembatasan kapal. Saat ini, ada enam kapal yang diizinkan tanpa ada batasan jumlah hiu yang bisa ditangkap oleh keenam kapal itu.

Ahli hiu dari Australian Marine Conservation Society (AMCS) Leonardo Guida bekerja sama dengan Gennari dan Fallows untuk menganalisis data spesies yang dirilis Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Afrika Selatan pada akhir 2019.

"Penilaian stok ini menunjukkan bahwa hiu sekolah bisa punah secara komersial sebelum 2055," jelas Guida. "Smoothhound (hiu kecil Eropa) dicurigai telah turun sekitar 40 persen sejak awal 1990-an."

Saat ini, Fallows dan Gennari giat berkampanye melalui program Shark Free Chips. Mereka meminta warga Australia untuk memilih makanan laut yang berkelanjutan. Mereka juga menyeru pemerintah Afrika Selatan kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. (ABC. Net.AU/M-2) 

Baca Juga

Dok. Samsung Indonesia

Samsung Galaxy A21s Meluncur, Ini Spesifikasinya

👤Fathurrozak 🕔Jumat 05 Juni 2020, 22:30 WIB
Ponsel pintar untuk entry level ini dipasarkan mulai harga Rp2,7...
TOM BJÖRKLUND

DNA Kuno Ungkap Asal Muasal Penduduk Karibia

👤Abdillah Marzuqi 🕔Jumat 05 Juni 2020, 21:51 WIB
Misteri perihal manusia-manusia pertama di Karibia dikaitkan dengan beragamnya kultur di wilayah...
Unsplash/ Tiffany Chan

Manfaatkan Bunga Segar untuk Merawat Kulit Mandiri

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 05 Juni 2020, 19:30 WIB
Jika memiliki kembang sepatu atau mawar di halaman, Anda bisa gunakan untuk bahan masker...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya