Selasa 05 Mei 2020, 14:55 WIB

Pandemik Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2,97%

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Pandemik Covid-19, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2,97%

Grafis.MI
Proyeksi pertumbuhan ekonomi

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 sebesar 2,97%, melambat bila dibandingkan kuartal I 2019 yang tumbuh hingga 5,07%.

Pertumbuhan itu membuat Indonesia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp2.625,2 triliun dan PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp3.783,9 triliun.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, penurunan pertumbuhan ekonomi tidak saja terjadi di Indonesia, melainkan di berbagai negara lainnya. Pasalnya dalam situasi pandemi covid-19, setiap negara yang terdampak akan memliki efek yang berbeda pula.

"Memang yang dialami Indonesia serupa dengan negara lain, terjadi pelambatan yang cukup dalam," kata dia dalam video conference, Selasa (5/5).

Ia menambahkan, PDB menurut lapangan usaha dan komponen paling tinggi pertumbuhannya secara tahunan ialah jasa keuangan dan asuransi sebesar 10,67%, jasa kesehaatan dan kegiatan sosial 10,39% serta informasi dan komunikasi 9,81%.

Baca juga: Lawan Covid-19, Kementerian BUMN Perbanyak Kamar Perawatan

Sedangkan berdasarkan strukturnya, menurut lapangan usaha masih didominasi oleh sektor industri dengan sumbangannya pada PDB sebesar 19,98%, diikuti sektor perdagangan 13,20% dan pertanian 12,84%.

"Dari pertumbuhan yang ada, seluruh sektor pada triwulan I 2020 ini masih tumbuh tapi mayoritas tumbuh melambat," jelas Suhariyanto.

Industri pengolahan misalnya, pada triwulan I 2020 tumbuh 2,06%, lebih lambat dari 2019 di periode yang sama sebesar 3,85%. Pelambatan itu sebetulnya terindikasi dari beberapa indikator seperti impor yang kontraksi dan ekspor yang tumbuh melambat.

Bila dilihat secara utuh, lanjut Suhariyanto, sumber pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha yakni informasi komunikasi 0,53%, jasa keuangan dan asuransi dan industri pengolahan yang tumbuh sama sebesar 0,44%.

Sedangkan dari komponen pengeluaran terhadap PDB semuanya mengalami kontraksi bila dibanding triwulan IV 2019. Konsumsi rumah tangga -1,97%, konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) -2,10%, konsumsi pemerintah -44,02%, Pembentukkan Modal Tetap Bruto (PMTB) -7,89, ekspor -6,37% dan impor -11,89%.

"Konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 44%, bisa dipahami karena biasanya konsumsi pemerintah itu pemuncaknya ada di triwulan IV dan triwulan I belum terlalu bergulir. Konsumsi rumah tangga juga kontraksi, demikian juga dengan komponen lainnya," tutur Suhariyanto.

Struktur PDB dari sisi pengeluaran diakui tidak berubah, konsumsi rumah tangga masih mendominasi sebesar 58,14%, PMTB 31,91% dan ekspor 17,43%.

"Menjaga daya beli konsumsi rumah tangga menjadi hal yang penting, karena itu pemerintah berusaha keras mengendalikan inflasi, itu terlihat kemarin secara umum inflasi terkendali karena dari jauh hari pemerintah menjaga pasokan dan distribusi," jelasnya.

Secara garis besar, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2020 dari sisi pengeluaran masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 1,56% dan PMTB 0,56%.

Lebih lanjut, Suhariyanto memaparkan, berdasarkan wilayah, Pulau Jawa masih mendominasi kontribusi pada pertumbuhan PDB ADHB triwulan I sebesar 59,14%, diikuti Sumatera 21,40%, Kalimantan 8,12%, Sulawesi 6,19%, Bali dan Nusa Tenggara 2,95% serta Maluku dan Papua 2,20%. (OL-4)

Baca Juga

AFP

Jelang Pertemuan OPEC+, Harga Minyak Naik 

👤Antara 🕔Rabu 03 Juni 2020, 08:06 WIB
"Ada antisipasi bahwa OPEC+ akan setuju untuk memperpanjang level mereka saat ini selama dua bulan...
ANTARA

Harapan Pemulihan Ekonomi Tekan Nilai Tukar Yen

👤Antara 🕔Rabu 03 Juni 2020, 07:55 WIB
Greenback menguat 1,06% terhadap yen Jepang menjadi 108,72 yen, tertinggi sejak 9...
ANTARA/IGGOY EL FITRA

Emas Turun US$16 karena Investor Ambil Untung 

👤Antara 🕔Rabu 03 Juni 2020, 07:31 WIB
Emas berada di bawah tekanan karena semua indeks ekuitas utama di seluruh dunia naik pada Selasa (2/6), meskipun indeks dolar AS...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya