Selasa 05 Mei 2020, 04:40 WIB

Pendidikan yang Memerdekakan

IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini
Pendidikan yang Memerdekakan

MI/Pius Erlangga
IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem

KURANG lebih delapan bulan setelah RM Soewardi Soerjaningrat meninggal dunia, yang setelah berusia 40 berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, pemerintah Indonesia menetapkan hari lahir beliau sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pahlawan pergerakan kemerdekaan, penulis, dan pelopor pendidikan ini lahir pada 2 Mei 1889 dan meninggal pada 16 Desember 1959.
Secara historis, Perguruan Nasional Tamansiswa, yang didirikan saat Ki Hadjar Dewantara berusia 33 tahun, pada 3 Juli 1922, merupakan lembaga pendidikan bagi kaum pribumi yang menjadi kasta terakhir dalam hierarki sosial kolonialisme.

Sebab, dalam politik kolonial, kesempatan pendidikan bagi pribumi hanya diberikan kepada golongan priayi—kaum berpunya secara sosialekonomi—atau bangsawan dan pribumi yang menjadi pegawai pemerintah. Akses pendidikan hanya untuk orang Belanda dan orang asing yang berada pada strata sosial lebih tinggi—pemegang kekuasaan yang sebenarnya.

Ki Hadjar Dewantara sendiri, karena kesadaran akan kenyataan ini, menanggalkan nama dan gelar kebangsawanannya, sebagai satu cara untuk menegakkan kesetaraan. Serta, bisa secara lebih jauh dan dalam terlibat dalam realitas kehidupan rakyat.

Kurang lebih, pada fase edukatif kehidupan dan pemikirannya, Ki Hadjar Dewantara berpandangan bahwa salah satu jalan terbaik untuk memungkinkan perjuangan menuju kemerdekaan ialah melalui penyelenggaraan pendidikan.

Pada titik awal, pendidikan adalah dalam rangka memampukan setiap peserta didik dalam mengurus diri sendiri. Pada tahap selanjutnya, membuat mereka mampu untuk peduli dan memperjuangkan nasib komunitas sosial mereka.

Dengan gerakan pendidikan yang dilakukannya, Ki Hadjar Dewantara tidak hanya memosisikan diri berhadapan dengan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dan berbagai cara yang dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan itu. Pendidikan yang digagasnya semacam injeksi virus yang mampu melemahkan kekuasan kolonial, bahkan meruntuhkannya. 

Meskipun terdapat dorongan politik di negeri Belanda atau tokoh-tokoh yang mendukung politik etis sebagai hak kemanusiaan,
kesempatan pendidikan bagi kaum pribumi pada dasarnya bersifat fungsional. Pendidikan diberikan secara terbatas demi berjalannya
fungsi birokrasi dan berbagai kepentingan ekonomi kolonial. Dan, lebih diperuntukkan bagi kelompok sosial yang bisa menjadi alat kekuasaan.

Dalam stratifikasi sosial di zaman penjajahan, oleh karena itu, kebijakan elitis ini pada dasarnya untuk melanggengkan tirani kekuasaan. Pendidikan bukanlah demi tujuan kebajikan umum yang mengandaikan kesejahteraan sosial dan kehidupan yang bermartabat bagi semua orang.

Pendidikan pada zaman itu dalam rangka menjadikan peserta didik sebagai bagian dari mesin kekuasaan. Sebagai sebuah catatan kritis, asas fungsionalisme dalam pendidikan zaman Belanda ini telah melahirkan apa yang bisa disebut sebagai cara berpikir pegawai dan melahirkan mentalitas pegawai.

Menjadi pegawai, meskipun bagi pemerintah kolonial atau pegawai rendahan dan boleh jadi tak bernilai signifikan secara ekonomi, dianggap sebagai status sosial terhormat. Status sebagai orang yang digaji dinilai lebih mulia jika dibandingkan dengan petani, peternak atau pedagang umpamanya, yang merupakan pekerjaan mandiri.

Paradigma dan mentalitas ini berkembang dan berlanjut sampai era berikutnya, bahkan hingga saat ini. Bersekolah, dalam bayangan sebagian besar masyarakat, ialah cara memperoleh akses untuk bekerja pada lembaga—pemerintah atau swasta—atau orang lain.
Hemat saya, tak banyak anggota masyarakat yang berpandangan bahwa bersekolah adalah dalam rangka memampukan diri untuk menjadi tuan bagi diri sendiri dan pada gilirannya menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.


Semangat dan gagasan

Kembali pada Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional ini terlahir dari golongan priayi dan oleh karena itu mendapat kesempatan mengenyam pendidikan. Hanya saja, berbeda dari mereka yang bermentalitas pegawai, pendidikan telah membukakan mata beliau tentang realitas penjajahan. Dalam bahasa Paulo Freire (1970), pendidikan membuat beliau mampu sampai pada kesadaran tentang relasi sosial antara the oppressed dan the oppressor—ketidakadilan dalam hubungan antara si tertindas dan si penindas.

Buah dari kesadaran keterjajahan adalah perlawanan, gerakan perbaikan nasib melalui perjuangan untuk mendapatkan hak akan kebebasan, suatu keterlibatan dalam sebuah gerakan sosial.

Dan di awal perjuangannya, Ki Hadjar Dewantara memilih untuk memengaruhi massa yang melek huruf. Bekerja sebagai wartawan dan penulis, beliau mengomunikasikan semangat dan gagasan-gagasan perjuangan di media massa yang terbit zaman itu, seperti Sediotomo, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.

Dalam usia sekitar 19 tahun, Ki Hadjar Dewantara tak merasa cukup dengan propaganda tulisan sebagai alat perjuangan. Beliau terang-terangan aktif dalam organisasi sosial dan politik, terutama saat berdirinya Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Dengan bergerak melalui seksi propaganda, Ki Hadjar Dewantara menempuh berbagai cara untuk menyadarkan masyarakat, terutama di Jawa, tentang paham kebangsaan dan betapa mungkinnya kelahiran sebuah negara.

Tak hanya melalui Boedi Oetomo, Ki Hadjar Dewantara juga anggota Insulinde, organisasi dengan berbagai latar belakang suku bangsa
yang memperjuangkan pemerintahan sendiri Hindia Belanda. Bersama Ernest Douwes Dekker—yang berganti nama menjadi Setyabudi—beliau ikut mendirikan Indische Partij, Partai Hindia.

Lima tahun berselang setelah kelahiran Boedi Oetomo, dalam usia 24 tahun, Ki Hadjar Dewantara menulis artikel berjudul Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku Seorang Belanda (De Expres,
13/71913).

Dalam artikel ini beliau menulis ironi tentang bagaimana orang-orang Indonesia yang terjajah diminta pula “…mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”, dalam rangka memperingati kebebasan Belanda dari kekuasaan Prancis.

Alhasil, di tahun yang sama, bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke negeri Belanda (1913). Tetapi, pengasingan tak berarti mengakhiri perjuangan. Beliau bergabung dan bergerak melalui perhimpunan pelajar Indonesia, Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia. Bahkan pada 1913 juga, beliau mendirikan Indonesisch Pers-bureau, Kantor Berita Indonesia.

Setelah bertahun-tahun berjuang melalui jalur media massa dan organisasi politik—fase yang bisa kita sebut sebagai pra-edukatif—Ki Hadjar Dewantara memulai gerakan melalui pendidikan pada 2019, setelah kembali dari pengasingan di Belanda. Beliau memulai dengan menggali pengalaman di sekolah yang dikelola salah seorang saudaranya sebelum menyusun dan mewujudkan konsepsi pendidikan sendiri dalam Perguruan Nasional Tamansiswa yang kita kenal saat ini.

Sebagai penutup, Ki Hadjar Dewantara, yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pertama, salah satunya mengajarkan Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Bagi siapa pun yang terlibat dalam pendidikan, ketika tegak di depan harus mampu memberi teladan. Ketika di tengah memberi semangat, dan ketika di belakang memberi dorongan.

Baca Juga

Dok. MI

Waktunya Alam Bertindak

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Jumat 05 Juni 2020, 05:15 WIB
Kesehatan manusia dan kesehatan planet bumi saling memiliki keterkaitan erat. Menyelamatkan bumi dari krisis iklim sama pentingnya dengan...
Dok. MI

Urgensi TNI-Polri saat Kenormalan Baru

👤Muradi Guru Besar Politik & Keamanan Universitas Padjadjaran, Direktur Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjar 🕔Jumat 05 Juni 2020, 05:10 WIB
Apa urgensinya melibatkan...
Dok.Pribadi

Gotong Royong Menyelamatkan SJSN

👤Danu Sandjoyo Pegawai Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Kementerian Keuangan 🕔Kamis 04 Juni 2020, 05:55 WIB
KEBIJAKAN pemerintah mengumumkan kenaikan iuran program Jaminan KesehatanNasional (JKN) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menuai...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya