Senin 04 Mei 2020, 06:00 WIB

Pandemi Covid-19 Bisa Picu Baby Boom

Atalya Puspa | Politik dan Hukum
Pandemi Covid-19 Bisa Picu Baby Boom

Kepala BKKBN
MI/ MARCEL KELEN

 

DAMPAK pandemi covid-19 benarbenar luar biasa. Tidak hanya berpengaruh pada sektor kesehatan atau ekonomi, wabah tersebut juga berimbas pada masalah kependudukan.

Berdasarkan riset Badan PBB untuk Dana Kependudukan (UNFPA), bila gangguan layanan kesehatan dan lockdown terus terjadi hingga enam bulan akibat pandemi covid-19, sebanyak 47 juta perempuan diprediksi tak bisa mengakses alat kontrasepsi modern. Konsekuensinya, akan muncul 7 juta kehamilan tak diharapkan. Selain itu, jutaan kasus baru kekerasan berbasis gender dan praktik berbahaya lainnya juga bisa terjadi sepanjang krisis saat ini.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengamini bahwa akan ada masalah kependudukan akibat covid-19. Bagaimana BKKBN mencermatinya? Bagaimana pula antisipasinya? Berikut penuturan Hasto kepada Media Indonesia, kemarin.

Apa tanggapan Anda soal riset UNFPA?
Ini menarik. Memang betul, terjadi pandemi dan kini kita harus melakukan physical distancing dan pembatasan pelayanan. Mau tidak mau,
suka tidak suka, ada dampak terhadap akses layanan ibu dan anak, dalam hal ini terkait pelayanan kontrasepsi. Saya lihat dari Februari hingga Maret terjadi penurunan jumlah akseptor keluarga berencana (KB). Ada dua sebab, akseptor tidak datang karena mematuhi imbauan physical distancing. Selain itu juga karena banyak fasilitas kesehatan yang tutup karena tidak siap praktik. Ada juga yang masih melayani, tapi diturunkan yang tadinya sehari melayani 50 orang, menjadi 20 orang.

Sejauh mana efek pandemi terhadap penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia? Daerah mana yang penurunan penggunaan alat kontrasepsinya paling tinggi?
Kalau saya amati, rata-rata penggunaan alat kontrasepsi dari Februari hingga Maret menurun 40%. Terdapat penurunan peserta KB pada Maret 2020 apabila dibandingkan dengan Februari 2020 di seluruh Indonesia. Pemakaian IUD pada Februari 2020 sebanyak 36.155, turun menjadi 23.383, sedangkan implan dari 81.062 menjadi 51.536, suntik dari 524.989 menjadi 341.109, pil 251.619 menjadi 146.767, kondom dari 31.502 menjadi 19.583, medis operasi pria (MOP) dari 2.283 menjadi 1.196, dan medis operasi wanita (MOW) dari 13.571 menjadi 8.093.

Itu secara keseluruhan. Tapi, ada provinsi tertentu yang menurun sampai 50%, ada di Banten dan Sulawesi Barat. Saya dorong betul perwakilan daerah untuk mengantisipasi terjadinya pelonjakan angka kelahiran setelah masa pandemi.

Dengan menurunnya angka penggunaan alat kontrasepsi, bagaimana pengaruhnya terhadap angka kehamilan?
Angka kehamilan memang akan naik, bisa terjadi baby boom karena memang terjadi penurunan penggunaan alat kontrasepsi. Kalau suami istri subur selama waktu satu bulan terus bertemu dan melakukan hubungan seks aktif 2 sampai 3 kali seminggu, angka kehamilan diprediksi akan naik 15%. Nah, itu dari yang tadinya dalam satu tahun kelahiran sekitar 4,5 juta jiwa, itu tentu akan naik.

Bagaimana evaluasi BKKBN melihat dampak covid-19 terhadap angka pertumbuhan penduduk Indonesia?
Kalau sekarang belum bisa dievaluasi. Tapi yang jelas, kalau penggunaan alat kontrasepsi turun, kelahiran pasti akan naik. Kalau sekarang hamil kan 9 bulan, nanti baru bisa kelihatan seperti apa pertumbuhan penduduknya. Ini baru bisa dilihat nanti pada awal 2021.

Lantas, bagaimana dengan targettarget kependudukan yang sudah ditetapkan? Adakah pengaruhnya?
Tergantung angka yang kita peroleh di 2021. Target itu akan terpengaruh atau tidak. Tapi, kita kan target utamanya modern kontrasepsi. Target yang tadinya capaian penggunaan alat kontrasepsi 61% pasti akan terpengaruh.

Apa langkah BKKBN untuk mengantisipasi terjadinya baby boom?
Kami buat sosialisasi untuk tunda kehamilan saat covid-19. Pakailah alat kontrasepsi saat ini. Karena hamil muda berisiko. Jangan sampai 9 bulan ke depan terjadi baby boom dan SDM-nya belum tentu bagus.

Selain itu, mengadakan program KB bergerak dan kunjungan ke pasangan usia subur yang memerlukan kontrasepsi. Kami juga mengoptimalkan peran PKB/PLKB (penyuluh KB/petugas lapangan KB) dan menggerakkan mobil unit penerangan KB ke
masyarakat untuk pencegahan covid-19.

Bagaimana BKKBN menyikapi meningkatnya kekerasan berbasis gender di Indonesia saat ini?
Terutama di masa pandemi ini, orang kalau kumpul dalam keluarga, pasti sering terjadi konfl ik. Terlebih sebelumnya juga ada problem, ini kan jadi stres baru. BKKBN punya tanggung jawab bagaimana kita hadir di tengah-tengah keluarga memberikan konseling supaya mereka tidak panik. Mereka harus sadar bahwa fungsi keluarga ada fungsi agama, perlindungan, dan reproduksi. Kita harus tenang, dan harus menjalankan fungsi keluarga sebagaimana mestinya. (X-8)

Baca Juga

Antara

Menkominfo Hargai Putusan Pengadilan Terkait Pemblokiran Internet

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Rabu 03 Juni 2020, 20:28 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menyatakan menghargai putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta menyatakan...
MI/Pius Erlangga

Diduga Pencucian Uang dari Jiwasraya, Bentjok Beli 92 Apartemen

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 03 Juni 2020, 20:16 WIB
Jaksa mengatakan, uang hasil TPPU tersebut patut diduga merupakan hasil tindak pidana dalam pengelolaan investasi saham dan reksa dana...
MI/Adam Dwi

KPK Selisik Peran Nurhadi dalam Pengurusan Perkara di PN Jakut

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Rabu 03 Juni 2020, 20:10 WIB
 "Penyidik mengkonfirmasi keterangan saksi terkait dengan pendaftaran perkara di PN Jakarta Utara dan adanya perkara yang juga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya