Senin 04 Mei 2020, 04:35 WIB

Pendidikan Borjuasi di Masa Pandemi

Nanang Martono Ketua Prodi S1 Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto | Opini
Pendidikan Borjuasi di Masa Pandemi

MI/Duta

DUNIA pendidikan nasional saat ini sedang mengadapi tantangan berat. Ia harus menghadapi masa-masa sulit di tengah penyebaran pandemi covid-19. Nyaris hampir semua tatanan sistem pendidikan dibuat runyam karenanya.

Prosesi pembelajaran di semua satuan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi harus diubah sedemikian rupa dalam waktu sangat singkat, dalam hitungan hari. Kesiapsiagaan seluruh elemen pendidikan seolah dipertaruhkan di tengah masa serbasulit saat ini.


Borjuasi

Sistem pendidikan konvensional yang selama ini mengandalkan proses pembelajaran tatap muka kini harus diubah dengan sistem pembelajaran daring. Tentu hal ini tidaklah mudah bagi sebagian besar lembaga pendidikan.

Di Indonesia, tidak semua satuan pendidikan siap dengan sistem pembelajaran daring karena harus didukung banyak hal: perangkat lunak maupun perangkat keras, termasuk dukungan sumber daya manusia. Sementara untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, ini merupakan sebuah tantangan sangat berat. Tentu saja, sedikit sekali lembaga pendidikan SD hingga SMA yang telah menerapkan variasi metode pembelajaran dengan metode luring dan daring.

Metode pembelajaran daring memerlukan biaya tidak sedikit. Dari pihak siswa, tentu mereka harus memiliki perangkat untuk mengakses konten pembelajaran, sekaligus ini menjadi sarana komunikasi antara guru dan siswa.

Perangkat dapat berupa telepon seluler (ponsel) maupun komputer/laptop. Hambatan implementasi sekolah daring terbesar ada di jenjang SD. Karakteristik sosial dan ekonomi siswa SD lebih beragam, bahkan sebagian besar siswa SD berasal dari kelas menengah ke bawah. Situasi ini tentu tidak memungkinkan untuk ‘memaksa’ mereka memiliki ponsel atau laptop. Lalu apakah kemudian mereka harus kehilangan kesempatan untuk belajar di rumah selama masa darurat ini?

Di sisi lain, guru juga tidak dibekali dengan perangkat pembelajaran yang mendukung sistem pembelajaran daring. Perangkat tersebut, misalnya, modul yang memang disiapkan untuk memfasilitasi siswa belajar secara mandiri.

Sebagian besar guru hingga saat ini masih mengandalkan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan ajar di sekolah karena dinilai lebih simpel. Alhasil, ketika siswa harus belajar di rumah dengan modal LKS, apakah siswa dapat memahami materi secara maksimal?

Beberapa postingan maupun status warganet di beberapa media sosial memperlihatkan bagaimana sistem pembelajaran daring dadakan ini sangat merepotkan banyak pihak, terutama orangtua. Guru tidak memiliki konsep yang jelas mengenai bagaimana sistem daring akan diterapkan. Beberapa tugas yang dikirim melalui alat komunikasi seadanya juga dibuat dadakan.

Bahkan, banyak guru yang mengalami gagap teknologi akhirnya memanfaatkan media ‘seadanya’ yang justru kemudian berakibat memberatkan siswa dan orangtua. Guru hanya mengirim tugas tanpa menjelaskan materi dengan dalih ‘materi ada di LKS’ atau ‘materi dapat dicari di internet’.

Siswa kelas atas akan mudah menyesuaikan kondisi ini, karena mereka dapat mengakses bahan belajar dari internet atau memilih ikut bimbingan belajar daring. Bagi orangtua berpendidikan tinggi pun, mereka akan mudah menyesuaikan diri karena memiliki sedikit’ bekal pengetahuan untuk membantu anaknya belajar.

Sementara, siswa kelas bawah yang orangtua nya berpendidikan rendah atau bahkan tidak sekolah, apa yang dapat mereka perbuat?
Tentu saja kondisi ini sangat tidak ramah bagi mereka. Inilah yang dinamakan sistem pendidikan borjuasi, yang memosisikan semua siswa dan orangtua seolah-olah memiliki akses yang sama ke banyak media dan sumber belajar.

Semua siswa dianggap memiliki ponsel, laptop, buku, dan lainnya. Padahal sejatinya akses tersebut hanya dimiliki siswa kelas atas, kemudian siswa kelas bawah ‘dipaksa’ mengikuti.


Kesiapan

Masa darurat seperti saat ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak untuk menyiapkan banyak perangkat pembelajaran
yang bisa digunakan dalam kondisi ‘normal’ maupun ‘darurat’.

Sudah saatnya Kemendikbud meningkatkan keterampilan para guru untuk menggunakan media pembelajaran luring maupun daring. Guru juga harus memiliki bahan ajar mandiri yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didiknya. Untuk itu, kemampuan menulis mutlak dimiliki semua guru.

Namun, cita-cita itu tidaklah mudah direalisasikan selama guru masih dibebani banyak tugas adminstratif. Banyak laporan maupun dokumen yang harus disiapkan guru di setiap awal maupun di akhir semester dan juga di akhir tahun pelajaran. Tentu saja ini tidak menguntungkan guru. 

Sudah saatnya tugas dan fungsi guru diarahkan pada tugas-tugas pengembangan kompetensi, bukan pada rutinitas mengerjakan tugas
administratif. Biarkan guru berproses mengembangkan kreativitasnya sesuai kebutuhan masing-masing. 

Baca Juga

dok. Pribadi

Jaminan Sosial bagi Relawan Korona

👤Ferdinandus S Nggao Kepala Kajian Kebijakan Sosial Lembaga Management FEB UI 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 06:00 WIB
KITA patut bersyukur atas kehadiran para relawan yang membantu Badan NasionalPenanggulangan Bencana (BNPB) selaku Gugus Tugas Percepatan...
Dok. Pribadi

Terapi Plasma Konvalesen pada Pasien Covid-19

👤Theresia Monica Rahardjo Penggagas Terapi Plasma Konvalesen (TPK) di Indonesia 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 05:50 WIB
VIRUS korona dibagi menjadi 4 golongan, yaitu virus korona alfa, beta, gama,dan delta. Covid-19 merupakan virus korona beta bersama sama...
Dok.pribadi

KDRT Mengintai di Tengah Pandemi 

👤Kartika Sari, Staf Bagian Publikasi dan Media di Biro Hukum dan Humas Kemen PPPA 🕔Jumat 29 Mei 2020, 18:00 WIB
Pandemi menyebabkan kasus KBG meningkat, salah satunya kasus kekerasan dalam rumah tangga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya