Senin 04 Mei 2020, 02:00 WIB

Erix Soekamti Ruang Alternatif untuk Difabel

Fathurrozak | Humaniora
Erix Soekamti Ruang Alternatif untuk Difabel

MI/Permana
Erix Soekamti

 

ERIX Soekamti, 40, tampaknya konsisten merealisasikan cita-citanya untuk mengadakan ruang pendidikan di luar lembaga sekolah formal. Kini, setelah memasuki angkatan ke-7, DOES University yang ia gulirkan sejak 2015 akan membuka ruang pendidikan bagi teman-teman difabel.

Sebenarnya, rencana tersebut sudah dicanangkan sejak tahun lalu dan akan diluncurkan tahun ini. DOES University dengan fasilitas yang ramah bagi difabel itu semula bakal ditempatkan di Bandung. Belakangan terjadi perbedaan visi antara Erix dan kolega yang ia percayai untuk mengelola sekolah minat tersebut. Alhasil, rencana itu terpaksa ia undur.

“Geraknya lambat, enggak ada progres sama sekali. Tidak ada komunikasi. Akhirnya seperti yang sudah-sudah, ya bikin sendiri. Sekarang rencananya mau bangun di sebelah DOES University yang sudah terbangun. Sebelahnya kan masih luas. Jadi, mau pakai area itu untuk dikembangkan buat teman-teman difabel,” kata Erix saat dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin.

DOES University merupakan ruang pendidikan alternatif yang didirikan Erix untuk memberi peluang bagi para pelajar mendalami berbagai disiplin ilmu di industri teknologi dan kreatif. Animasi ialah program pendidikan yang pertama hadir, disusul animasi 3D, 3D modelling, video compositing, programming, software developer, dan yang terbaru, sinematografi . Sekolah tersebut pun tak memungut biaya. Hingga kini, ada sekitar 500 siswa yang telah diwadahi.

Para pengajarnya kebanyakan berasal dari angkatan terdahulu. Kini, selama masa pandemi, pembelajaran di DOES masih berlangsung seperti biasa karena sejak awal mereka memang sudah mengadopsi sistem karantina siswa. Mereka belajar dengan durasi waktu 1,5 tahun. Satu tahun untuk mempelajari ilmu dan teori, kemudian setengah tahun berikutnya untuk praktik atau diistilahkan Erix dedikasi.

Menurut vokalis band Endank Soekamti itu, DOES University menunjukkan bahwa belajar bisa dilakukan di mana pun. Bagi nya, orang berpendidikan ialah bukan hanya soal sekolah, melainkan juga terkait dengan proses belajarnya.

“Orang sekolah kalau enggak belajar, ya enggak berpendidikan. Terpenting adalah belajarnya. Sekolah sebagai fasilitator untuk murid kita. Besar harapanku di kemudian hari bisa memfasilitasi bakat-bakat lain juga. Kalau ditanya terkait visi, berarti yang belum dan yang sedang kita kejar, kita (DOES University) akan hadir ke teman difabel,” terangnya.

Nantinya, kampus bagi teman-teman difabel akan berdiri di dekat area kampus DOES yang sudah berdiri di Yogyakarta. Sistem pembelajaran bagi temanteman difabel di DOES akan sama dengan angkatan yang sudah berjalan. Fasilitas dan infrastruktur juga akan dimodifi kasi agar inklusif bagi mereka. Dengan begitu, menurut Erix, DOES University juga harus menjadi ruang yang mampu mengakomodasi teman difabel.

“Kalau kita lihat, mereka enggak punya pilihan untuk masuk ke teknologi. Kerap kali larinya ke bidang kerajinan. Kali ini kita akan dampingkan teman-teman difabel dengan teman-teman DOES University.”

Erix pun berharap, semoga kelak ke depan akan ada lebih banyak murid yang memiliki kebebasan pilihan untuk belajar apa pun. Ia menganggap, pada era saat ini, orangtua baiknya mau mendengarkan kata si anak.

“Di zaman sekarang ini, mungkin kita orangtua harus mau mendengar apa kata anaknya karena anak itu punya mimpi sendiri, cita-cita sendiri, yang akan dikejar sendiri. Sesuai dengan apa yang sudah diberikan Tuhan, yaitu bakat. Harapanku di tahun ini, semoga murid-murid kita, anak-anak  kita, punya kesempatan untuk belajar merdeka dan juga mandiri dalam belajar.”


Tunda perjalanan

Di lain hal, setiap tahunnya, biasanya Erix melakukan perjalanan ekspedisi. Seperti dengan band-nya, Endank Soekamti, yang beberapa kali merekam album di studio luar ruang. Dua tahun lalu, Erix melakukan ekspedisi bertajuk Trip Salam Indonesia. Tahun lalu, Atambua, Nusa Tenggara Timur, menjadi tujuan dari perjalanan selama 35 hari. Sebenarnya, tahun ini akan menjadi yang ketiga kalinya Trip Salam Indonesia dilangsungkan.

“Trip Salam Indonesia adalah program pertualangan  misi pengarsipan aset Indonesia, baik dari budaya maupun alamnya. Harusnya, tahun ini yang ketiga kali. Berangkat ke Sulawesi selama 35 hari dimulai dari Makassar,” tutur Erix.

Walakin, dengan situasi yang tengah berlangsung, perjalanan itu tidak dimungkinkan. Meski begitu, Erix tidak menyebutnya sebagai gagal jalan. "Ditunda ," kata dia (M-2)


 

Baca Juga

Dok Agus Suparto/Biro Pers Sekretariat Presiden

Sambut New Normal, Jokowi Minta Pengetatan Protokol Kesehatan

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Selasa 26 Mei 2020, 10:04 WIB
"Kita harapkan nantinya dengan dimulainya TNI dan Polri ikut secara masif mendisiplinkan masyarakat, menyadarkan masyarakat,...
Ist

Kampus IPDN Gelar Halalbilahal di Tengah Pandemi

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 26 Mei 2020, 09:57 WIB
Kegiatan tersebut dilakukan atas perintah Rektor IPDN untuk menghibur praja yang selama ini melakukan karantina di...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Kesuksesan Implementasi New Normal Ada di Tangan Masyarakat

👤Atalya Puspa 🕔Selasa 26 Mei 2020, 09:32 WIB
Sebab, pemerintah telah memberikan mandat kepada masyarakat untuk menjaga diri...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya