Senin 04 Mei 2020, 06:45 WIB

Bila Gagal Bayar Sukuk Global , Citra Garuda Bakal Terpuruk

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi
Bila Gagal Bayar Sukuk Global , Citra Garuda Bakal Terpuruk

MI/Ramdani
Pesawat garuda terparkir di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.

 

ANALIS  Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menilai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akan kesulitan membayar seutuhnya utang sukuk global  yang jatuh tempo 3 Juni  mendatang.

Ia memprediksi uang yang ada dalam kas Garuda akan lebih digunakan untuk kegiatan operasional dibandingkan dengan membayar utang dengan sukuk sukuk global dengan nilai penerbitan US$ 496,84 juta.  


"Kalau pun ada kas perusahaan, saya yakin itu akan digunakan terlebih dahulu untuk opersional," kata Reza, Minggu (3/6)

Dampaknya, Garuda akan dibayangi oleh gagal bayar yang justru bisa menurunkan image perusahaan. 

"Label gagal bayar kan asumsinya perusahaan sudah enggak ada aset lagi untuk melakukan pembayaran, meskipun mungkin kenyataannya tidak ya. Tapi kalau terjadi akan mengurangi kepercayaan publik," ujarnya. 

Reza menyarankan, pemegang saham dalam hal ini pemerintah dan CT Group bis membantu dengan cara dengan melobi pihak kreditur atau pemegang obligasi.  "Paling tidak untuk sekarang ini pemerintah dan CT bisa melakukan negosiasi untuk melakukan returiasasi. Kalau enggak, akan berimbas pada pemegang saham lainnya," tambah Reza.

Reza tidak menyarankan Garuda untuk meminta pendanaan lain karena bisa berbalik memberatkan Garuda dikemudian hari lantaran. 
"Kalau dari cari pendanaan lain malah istilahnya jadi gali lobang tutup lobang,itu yang dikhawatirkan," tegasnya. 

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan kondisi yang dialami Garuda terbilang  wajar karena pandemi covid-19 turut serta menghantam keuangan perusahaan. 

"Ya,ini salah satu juga terdampak karena covid-19, apalagi ada penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), hingga marketnya pun berkurang drastis," kata Tauhid kepada Media Indonesia, Minggu (3/5).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per akhir September 2019, Garuda tercatat memiliki utang jatuh tempo pada 3 Juni 2020 berupa sukuk global dengan nilai penerbitan US$ 496,84 juta. Sementara total kewajiban (termasuk utang) Garuda mencapai US$ 3,51 miliar, yang mana kewajiban jangka pendek tercatat senilai US$ 2,87 miliar.

Namun ia menilai jika pada bulan depan Garuda gagal bayar , berarti kondisinya memang sudah buruk.  "Artinya garuda tidak mampu membayar kewajiban-kewajibannya. Nah bisa jadi maskapai lain pun memiliki masalah juga," ujar Tauhid.

Berdasarkan informasi, direksi Garuda menempuh cara renegosiasi dengan pemegang SUKUK dan menunjuk PJT Partners sebagai penasihat negosiasinya. Manajemen Garuda dalam rapat kerja  dengan Komisi VI DPR mengatakan pihaknya sedang mencari cara guna bisa menuntaskan permasalahan utang sukuk global ini.  (E-1)

Baca Juga

Antara

PNS Kemenko Perekonomian Work From Office Mulai 27 Mei

👤Rudy Polycarpus 🕔Selasa 26 Mei 2020, 00:51 WIB
"Pada Kamis besok, 27 Mei, Kemenko Perekonomian berencana akan mengambil inisiatif untuk work from office secara terbatas. Dan,...
Antara/M Risyal Hidayat

Dibuka Besok, IHSG Diprediksi Melemah

👤Despian Nurhidayat 🕔Senin 25 Mei 2020, 18:08 WIB
Analis menilai pergerakan IHSG berpotensi rebound pada akhir pekan. Namun, sentimen dari pasar keuangan global patut...
MI/Vicky Gustiawan

Produksi Pertanian dan Sayuran Meningkat, Ekspor Tumbuh Positif

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 25 Mei 2020, 17:28 WIB
Pihaknya, berharap momen pandemi ini menjadi momentum untuk makin cinta produk petani...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya