Minggu 03 Mei 2020, 10:44 WIB

Petani Pilih Simpan Gabah Selama Pandemik Korona

Tosiani | Nusantara
Petani Pilih Simpan Gabah Selama Pandemik Korona

MI/Tosiani
Petani di Kelurahan Madureso Temanggung, Jawa Tengah memilih menyimpan gabah hasil panen selama pandemik covid-19.

 

SELAMA pandemik covid-19, sejumlah petani di wilayah Temanggung, Jawa Tengah memilih tidak menjual hasil panen padinya. Mereka menyimpan sebagian gabah di lumbung pangan untuk cadangan pangan selama pandemik. Dan sebagian dibagikan ke masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi karena terdampak korona.

Seperti dilakukan Munarto,47, seorang petani di Kelurahan Madureso Temanggung. Dari areal lahan seluas 2.700 meter persegi ia memperoleh gabah basah sebanyak 1,1 ton. Gabah tersebut ia panen dalam dua hari, yakni Sabtu (2/5) dan Minggu (3/5).

Ia mengatakan dari hasil panen 1,1 ton tersebut sebagian akan disimpan di lumbung yang ada di rumahnya dalam bentuk gabah kering. Gabah tersebut diperkirakan cukup untuk keperluan makan sembilan orang anggota keluarganya selama dua musim. Yakni musim tanam tembakau yang sebentar lagi akan datang hingga musim tanam padi berikutnya sekitar akhir tahun ini.

"Disimpan setelah gabah dijemur kering, nanti kalai mau dikonsumsi tinggal diselep di penggilingan padi," ujar Munarto.

Sebagian gabah lagi, kata Munarto akan disumbangkan, dibagikan pada sejumlah warga di daerahnya yang mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemik covid-19. Ia mengaku sedang menghitung jumlah warga yang terdampak. Bantuan terutama dikususkan untuk sejumlah janda dan warga yang miskin.

"Kalau untuk keperluan lauk pauk dan biaya hidup sehari-hari di keluarga, saya berusaha mencukupi dari bekerja menyewakan jasa traktor untuk membajak sawah,"katanya.

Sukobinarto, 50, petani lainnya mengaku telah selesai panen pada awal pekan ini. Dari sekitar satu ton kirang hasil panen padi di areal sawah seluas 2.000 meter persegi, ia hanya menjual sebagian . Hasil penjualannya ia gunakan untuk ongkos tanam sayuran. Ia berencana akan menanam cabai, jagung dan sayuran sebelum berganti musim tanam berikutnya.

baca juga: Masa Tanggap Darurat Penanganan Covid-19 Bali Diperpanjang

Ia mengatakan, harga gabah dari jenis melati miliknya dijual seharga Rp4.500 per kilogram gabah basah. Hanya sebanyak empat kuintal saja yang dijual. Selain untuk ongkos tanam, sebagian hasil penjualan gabah juga ia gunakan untuk biaya hidup.  Hasil panen kali ini, menurutnya, berkualitas bagus.

"Sebanyak lima kuintal lagi disimpan untuk cadangan pangan. Bisa untuk makan satu tahun bagi tiga orang anggota keluarga saya. Nanti hasil panen musim berikutnya baru saya jual semua hasil panen gabahnya," katanya.(OL-3)

Baca Juga

MI/Agus Utantoro

Gembira Loka Hampir Siap Terima Kunjungan Wisatawan

👤Agus Utantoro 🕔Jumat 03 Juli 2020, 22:27 WIB
Persiapan agar pengunjung merasa nyaman dan aman berkunjung ke GLZoo sudah hampir 100...
ANTARA/Ahmad Subaidi

Minyak Kayu Putih Sumbang PAD Hingga Rp10 Miliar

👤Ardi Teristi 🕔Jumat 03 Juli 2020, 22:17 WIB
Bahan baku adalah daun kayu putih dipasok dari kawasan hutan seluas 1.500 hektare di sekitar pabrik, di Kecamatan Playen, dan Nglipar, dan...
MI/Dwi Apriani

Enam Ruas Jalan di Palembang yang Rusak Ditarget Mulus

👤Dwi Apriani 🕔Jumat 03 Juli 2020, 21:33 WIB
Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Sumatra Selatan, Kgs Syaiful Anwar mengatakan, enam ruas jalan di Kota Palembang yang kerap...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya