Minggu 03 Mei 2020, 08:50 WIB

Memilih untuk Berdaya

Fetry Wuryasti | WAWANCARA
Memilih untuk Berdaya

Dok. MI
Ilustrasi tentang Vent-I

BERAWAL dari kegundahan akan merebaknya virus SARS-CoV-2 di Indonesia, termasuk di Bandung, Dr Syarif Hidayat, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) dari Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan ITB, merasa harus berbuat sesuatu.

Terlebih ITB kemudian melakukan lock out serta memberlakukan aturan dan prosedur ketat dan panjang untuk bisa memasuki wilayah kampus. Hal itu juga terjadi di lingkungan Masjid Salman ITB, masjid tempat dia menjadi pembina dan pengurusnya. Dia merasa bahwa hidupnya tidak boleh didikte ketakutan.

“Saya mengerti bahwa kita harus social distancing, harus ada penyaringan, tetapi cara kita menangani ketakutan dengan cara yang panik, menurut pendapat saya itu tidak tepat,” jelas Syarif saat dihubungi, Kamis (30/4).

Ia menambahkan, “Saya harus berbuat sesuatu. Daripada saya diam saja di rumah, menghitung berapa banyak jumlah orang yang sudah meninggal dan seberapa dekatnya bahaya datang ke rumah kita dan sambil kita tidak berdaya, saya memilih berdaya.”

Inisiatifnya untuk menciptakan suatu alat yang bisa membantu, dia harapkan bisa mengurangi rasa khawatirnya karena penyebaran virus yang sudah makin dekat ke lingkungan kampungnya.

Lalu kebetulan, dia ditanya stafnya di Masjid Salman ITB, apakah bisa membuat ventilator. Dia pun mempelajari kemungkinannya dalam satu malam. “Insya Allah saya katakan bisa. Karena itu buatan manusia. Saya terbiasa membuat sesuatu yang orang lain mengatakan tidak bisa, dan saya biasa melakukan sesuatu yang sebelumnya menentang arus. Sampai sekarang saya belum berhenti untuk menemukan apa lagi yang bisa dilakukan,” ujar inventor yang memiliki banyak paten dan publikasi itu.

Ventilator dengan fungsi sederhana yang dia buat diyakininya akan mampu mencegah pasien covid-19 tahap awal yang sesak napas. Dengan begitu, pasien tidak perlu sampai terpuruk dan masuk ICU. “Namun, ini masalah pilihan teknologi. Jangan menilai teknologi hanya dari canggihnya, tapi juga dari tepatnya teknologi digunakan untuk menyelesaikan masalah. Jujur saya pribadi tidak silau dengan apa yang diciptakan MIT (Massachusetts Institute of Technology) dengan alat-alat canggihnya. Bagi saya, kita harus punya pemikiran sendiri untuk penemuan teknologi yang tepat mengatasi masalah. Kita bisa di depan MIT,” tegas Syarif. (Try/M-2)

Baca Juga

DOK. JAM’AH HALID (R&D VENT-I)

Misi Muskil Bernama Vent-I

👤FETRY WURYASTI 🕔Minggu 03 Mei 2020, 08:40 WIB
Peliknya pembuatan ventilator portabel lokal ini, dari pengadaan komponen, pengerjaan di tengah pandemi, hingga bertele-telenya proses uji...
Dok.MI/Seno

Aryo Tedjo Senyawa Jambu Biji sebagai Adjuvan Menangkal Covid-19

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 29 Maret 2020, 00:00 WIB
BELUM lama ini kolaborasi tim penelitian Fakultas Kedokteran UI dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan penelitian dari senyawa...
MI/ADAM DWI

Mari Elka Pangestu: Bukan Semata karena Saya Perempuan

👤Melalusa Susthira K 🕔Minggu 23 Februari 2020, 00:05 WIB
Direktur Pelaksana, Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia ini bicara soal visi dan alasannya ditunjuk untuk mengemban tugas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya