Sabtu 02 Mei 2020, 14:00 WIB

Program Kartu Prakerja Perlu Pengawasan Ketat dan Melekat

mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
Program Kartu Prakerja Perlu Pengawasan Ketat dan Melekat

DOK DPR RI
Anggota Komisi III DPR RI Didik Mukrianto.

 

Anggota Komisi III DPR RI Didik Mukrianto menilai pengawasan ketat dan melekat dalam program Kartu Prakerja sangat dibutuhkan. Bukan hanya melibatkan KPK namun juga perlu menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK).

"Saya berpandangan bukan hanya KPK yang harus jeli dan ketat dalam mengawasi, tapi saya meminta PPATK untuk memantau setiap transaksi keuangan khususnya pihak-pihak atau perusahaan dan pengusaha yang terlibat dan atau terafiliasi dalam pelaksanaan Kartu Prakerja ini," papar Didik dalam rilis yang diterima Parlementaria, Jumat (1/5/2020).

Menurut politisi Fraksi Partai Demokrat ini, kalau perlu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga harus melakukan audit khusus terhadap pelaksanaan Kartu Prakerja. Selain itu Kepolisian, Kejaksaan, Inspektorat, masyarakat juga harus aktif melakukan pengawasan.

Didik menilai sebenarnya KPK bisa melakukan analisis dan membuat kajian terkait pelaksanaan Kartu Prakerja untuk menutup celah korupsi, dan juga sebagai upaya mencegah korupsi, serta meminimalisir potensi kerugian keuangan negara. Untuk selanjutnya hasil analisis tersebut disampaikan kepada pemerintah.

"Dengan pengawasan dini tersebut, saya berharap apabila ada yang nyata-nyata melakukan penyimpangan, penyalahgunaan kewenangan dan melakukan korupsi baik pejabat maupun pihak swasta termasuk penyedia platform digital, segera lakukan tindakan preventif, tangkap, cegah, dan perbaiki," ujarnya.

Didik menjelaskan program tersebut perlu mendapatkan pengawasan yang ketat, karena menggunakan uang negara yang cukup besar, yaitu di tahun 2020 mencapai Rp20 triliun dengan melibatkan 5,6 juta orang calon penerima manfaat Kartu Prakerja.

Didik mengatakan, dari anggaran tersebut, ada biaya yang dialokasikan untuk pelatihan hingga sebesar Rp5,6 triliun yang melibatkan lembaga pelatihan dan platform digital. "Bahkan penyedia platform digital tersebut sebagai mitra Kartu Prakerja, keberadaannya tidak melalui mekanisme lelang," ungkap Didik.

Dia mengatakan, proses eksekusi program tersebut untuk beberapa hal masih dianggap tidak transparan dan akuntabel, bahkan ada beberapa anggapan tentang adanya potensi KKN, dagang pengaruh atau trading influence. Karena itu Didik menilai sangat diperlukan pengawasan yang ketat dan melekat untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan, penyimpangan dan korupsi. (RO/OL-10)

Baca Juga

DOK DPR RI

Kemitraan UMKM Harus Membutuhkan, Memperkuat dan Menguntungkan

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 10:25 WIB
Ketua Baleg Supratman Andi Agtas menanggapi bahwa kemitraan dalam UMKM hendaknya bisa menimbulkan hasil yang...
DOK DPR RI

Protokol New Normal Harus Tersinergi Antara Kesehatan dan Ekonomi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 10:17 WIB
Politisi Fraksi Partai Golkar ini juga meminta Pemerintah agar terus membuka ruang diskusi dengan berbagai lapisan masyarakat dalam...
ANTARA

​​​​​​​KPK Sambut Era Kenormalan Baru

👤Rifaldi Putra Irianto 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 09:16 WIB
Dalam penerapan bekerja pada masa kenormalan baru, seluruh karyawan akan bekerja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya