Sabtu 02 Mei 2020, 07:30 WIB

Covid-19 Picu Kematian Malaria

ATALYA PUSPA | Humaniora
Covid-19 Picu Kematian Malaria

Amiruddin Abdullah
PASCA BANJIR ACEH TERJANGKIT MALARIA

 

PENCEGAHAN dan pengobatan malaria di tengah masa pandemi covid-19 menjadi keniscayaan dalam mencegah bertambahnya angka kematian akibat malaria. Selain itu, juga terdapat risiko terjadi koinfeksi malaria dan covid-19 sehingga diperlukan upaya mitigasi.

Demikian disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, dalam seminar Peringatan Hari Malaria Internasional, kemarin. "Pasien covid-19 yang tinggal atau berasal atau mempunyai riwayat perjalanan ke daerah endemis malaria patut diduga terinfeksi malaria pula," tutur Nadia.

Untuk itu, perlu segera dilakukan pemeriksaan menggunakan rapid diagnosis test (RDT) guna penegakan diagnostik malaria. Pemeriksaan mikroskopis juga diperlukan untuk konfirmasi lebih lanjut. Nadia juga menekankan pihaknya memastikan pelayanan malaria berjalan sesuai dengan protokol yang telah ditentukan WHO. "Untuk petugas kesehatan, diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD), menerapkan phisycal distancing, dan memastikan pemberi pelayanan dalam kondisi sehat," kata Nadia

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penyakit Menular WHO South-East Asia Region, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan meskipun penyebaran covid-19 yang sangat cepat, upaya penanganan malaria harus tetap dilakukan dengan tetap mengutamakan keamanan petugas kesehatan saat melayani.

"Pada skenario terburuk, ketika kampanye pencegahan ditunda dan terdapat penurunan 75% akses pengobatan malaria, kematian malaria bisa meningkat dua kali lipat," kata Yoga. Berdasarkan data WHO, penderita malaria di seluruh dunia mencapai angka 228 juta pada 2018. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sepanjang 2020 terdapat 34.758 kasus malaria yang tersebar di 294 kabupaten/ kota.

Donor plasma Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) membutuhkan donor plasma darah dari 45 orang yang telah sembuh dari covid-19. Hal tersebut dilakukan untuk penelitian terapi plasma konvalesen dalam rangka pengobatan bagi pasien covid-19. "Minggu depan kami mulai skrining, butuh donor untuk pasien covid-19 yang berat dan kritis," kata salah satu tim Plasma Konvalesen RSCM/FKUI Cosphiadi Irawan kepada Media Indonesia, Kamis (30/4). Cosphiadi menyatakan respons masyarakat terhadap permintaan donor sangat baik. Dalam hal ini, RSCM bekerja sama dengan PMI untuk mengumpulkan plasma darah tersebut. (H-3)

Baca Juga

ANTARA

Agnez Mo Lagu Pengingat Cinta

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:55 WIB
AKTRIS dan musikus Agnez Mo, 33, membagikan rahasia mengenai lagu yang baru saja dirilisnya berjudul...
ANTARA

Polio Bayangi 80 Juta Anak

👤MI 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:30 WIB
SEBANYAK 80 juta bayi berusia di bawah satu tahun di seluruh dunia termasuk Indonesia, dibayangi penyakit menular difteri,...
MI/Fransisco Carolio Hutama Gani

Orang Tua Tolak Sekolah saat Pandemi

👤Atiqah Ismah Winahyu 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:05 WIB
KEMBALI sekolah di era kenormalan baru ( new normal) bukanlah hal mudah karena mensyaratkan banyak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya