Sabtu 02 Mei 2020, 02:15 WIB

Meneguhkan Solidaritas dan Mencerahkan Semesta

Sunanto Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah | Opini
Meneguhkan Solidaritas dan Mencerahkan Semesta

Dok. MI/Rommy Pujianto
Sunanto Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

PEMUDA Muhammadiyah sudah menginjak usia ke-88 (2 Mei 1932-2 Mei 2020), dilahirkan pada Kongres 21 Muhammadiyah di Makassar. Dibentuk sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. 

Ketika itu diawali adanya Siswo Proyo Priyo (SPP), gerakan yang digawangi KH Ahmad Dahlan untuk membina remaja dan pemuda
Islam. Konteks kelahiran Muhammadiyah (1912) dan Pemuda Muhammadiyah ialah melakukan gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar.

Pada zaman kolonial Belanda saat itu, kondisi bangsa Indonesia terjajah, tertinggal, kemiskinan merajalela, wabah penyakit tersebar di banyak tempat, dan masalah bangsa lainnya. Momentum milad ke-88 pun kini  bersamaan dengan kondisi bangsa dan dunia yang berduka, berjuang keras melawan pandemi global virus korona (covid-19). Hingga 1 Mei 2020, tidak kurang 10.118 orang terjangkit covid-19 dan 792 nyawa berguguran. Hanya dalam empat bulan terakhir, sudah ada 3,2 juta lebih umat manusia terinfeksi dan hampir 300 ribu orang telah meninggal dunia.

Pemuda Muhammadiyah melakukan refleksi dan menjawab persoalan itu dengan mengambil tema milad ke-88: Meneguhkan Solidaritas,
Menebar Kebaikan, Mencerahkan Semesta. Tema ini menjadi penanda sekaligus peta jalan bagaimana Pemuda Muhammadiyah bergerak menjadi bagian dari solusi kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

Sebagai organisasi yang memiliki semangat tajdid (pembaruan), sudah menjadi kewajiban Pemuda Muhammadiyah untuk menjadi bagian dari solusi menghadapi wabah yang telah melumpuhkan roda sosial ekonomi dan aspek kehidupan lainnya.

Kader Pemuda Muhammadiyah bergerak menjadi motor solidaritas dan menebar kebaikan pada umat manusia. Ujungnya ialah bagaimana gerakan Pemuda Muhammadiyah dapat mencerahkan semesta yang saat ini sedang tercabik-cabik.


Meneguhkan solidaritas

Sebagai organisasi yang gerakannya berdasarkan Alquran dan sunah, ilmu dan amal sebagai identitas, jihad fi sabilillah sebagai sikap hidup dan roh dakwah, memberikan hikmah sekaligus mandat kepada seluruh kader untuk rela berkorban jiwa raga, meneguhkan solidaritas dengan sesama. Sebagai Ketua Umum, penulis tentu berharap solidaritas terbangun kuat. 

Takdir ini dijalani penuh keikhlasan, selalu siap sedia, dan bergembira. Namun, mempraktikkan sikap solidaritas itu tidaklah mudah. Dalam Surah Al Balad ayat 11- 16, diilustrasikan dengan jalan yang mendaki dan sukar. “Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar? Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya) atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubung an kerabat atau orang miskin yang sangat fakir.”

Bentuk solidaritas pada sesama itu meliputi kemampuan bederma, memaafkan, saling tolong-menolong, serta menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam Surah Ali Imran ayat 134 dinyatakan, “Yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orangorang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orangorang yang berbuat kebaikan.”

Dalam Surah Al Maidah ayat 2 dinyatakan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksaannya.”

Solidaritas juga tak terbatas pada materi, tapi juga dukungan moral dengan cara saling menguatkan dengan nasihat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa, “Orang mukmin terhadap mukmin yang lain laksana bangunan yang komponen-komponennya saling mengukuhkan,” (HR Bukhari).

Selama ini Pemuda Muhammadiyah telah menjadi bagian solusi umat Islam dan bangsa Indonesia. Di momentum milad yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Pemuda Muhammadiyah harus merefl eksikan akar kelahiran dan memanifestasikannya dalam bentuk gerakan nyata.

Pada semua jenjang kepemimpinan, seluruh kader sudah sepatutnya menggerakkan seluruh elemen sipil lain dalam menangani wabah. Kompak memikirkan solusi dan memaksimalkan aksi.


Menebar kebaikan

Sebagaimana ajaran teologi Al Ma’un, Pemuda Muhammadiyah harus memihak pada kaum miskin, telantar, dan terpinggirkan. Musibah yang telah memorakporandakan sendi-sendi kehidupan umat manusia ini harus direspons dengan semangat jihad yang kuat.

Bagaimana seluruh kader di berbagai pelosok Nusantara dapat bergandeng an tangan dengan elemen sipil lain membantu masyarakat lemah yang terdampak covid-19. Dalam tiga bulan terakhir, telah melakukan banyak hal, mulai penyemprotan disinfektan, pembagian masker dan APD, membantu fasilitas penginapan bagi petugas kesehatan, bergabung dengan tim Muhammadiyah Covid-19 Command Center dari pusat hingga daerah, sampai bantuan sembako dan juga pendirian dapur umum di berbagai titik.

Tentu gerakan ini belum cukup dan harus ditingkatkan dengan cara, strategi, dan format baru. Kami akan terus menjadi motor  ersatupadunya seluruh umat manusia dalam melawan wabah ini. Para otoritas kesehatan dan pemerintah telah memberikan acuan bagaimana cara mengatasi wabah ini. Masalah minimnya kesadaran masyarakat Indonesia harus direspons segera agar wabah tidak semakin meluas dan merugikan masyarakat lainnya. Pemuda harus menjadi agen pembaru yang memberikan alternatif solusi menaklukkan wabah ini.

Seperti diajarkan Buya Syafi’i Maarif, Islam agama yang pro orang miskin. Namun, antikemiskinan karena kemiskinan itu bersifat sementara. Kalimat Buya ini tepat jika dikontekskan saat ini. Ada banyak masyarakat yang kemudian miskin karena terdampak wabah. Pemuda Muhammadiyah harus lantang bersuara dan memperjuangkan mereka.


Mencerahkan semesta

Dalam situasi pemerintahan yang tampak tumpang-tindih dan berlepotan menangani covid-19, Pemuda Muhammadiyah harus jadi yang terdepan menjawab masalah kebangsaan dan keumatan. Pemuda Muhammadiyah terpanggil untuk terus-menerus melakukan pembaruan.

Boleh jadi dengan adanya pandemi covid-19 ini sekaligus menjadi tanggung jawab bagi pemuda untuk memberikan narasi solusi yang konkret, mengingatkan pemerintah yang lamban, menyadarkan masyarakat yang abai, dan memberi keteladanan dalam mengatasi wabah.

Pemuda Muhammadiyah telah diberi mandat menerapkan Islam yang membawa rahmat untuk seluruh umat manusia. Menawarkan solusi
itulah identitas khas Muhammadiyah. Mandat kelahiran Pemuda Muhammadiyah sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah dapat ditunaikan dengan kesungguhan hati.

Selamat Milad Pemuda Muhammadiyah ke-88. Perjuangan dan eksistensinya senantiasa dapat meneguhkan solidaritas serta menebar kebaikan pada umat manusia. Khidmat Pemuda Muhammadiyah senantiasa istiqamah mencerahkan semesta.

Baca Juga

MI/Anggoro

Kerja Kemanusiaan dan Nuh

👤Irwan Hidayat, CEO Sido Muncul 🕔Senin 25 Mei 2020, 15:50 WIB
Konser amal adalah kerja kemanusiaan yang bertujuan membantu sesama. Menyelenggarakan kerja kemanusiaan juga tidak mudah, apalagi...
Dok.pribadi

Jangan Cuma Berpikir Hidup Hanya Sekali

👤Mimi Yuliani Nazir, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau  Muhammad Rifki Ilham, Staf Kadinkes Provinsi Riau 🕔Senin 25 Mei 2020, 14:55 WIB
Justru karena hidup cuma sekali, kita lakukan yang terbaik dan berguna bagi masyarakat...
Ist

Mudik Virtual

👤Adi Prayitno, Dosen Politik Fisip UIN Jakarta, Direktur Eksekutif Parameter Politik 🕔Minggu 24 Mei 2020, 00:18 WIB
Bagi umat Islam, mudik sudah menjadi bagian ‘ritual tahunan’ yang inheren di bulan suci...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya