Jumat 01 Mei 2020, 15:24 WIB

Mayoritas Publik Depresi dan Trauma karena Virus Korona

Henri Siagian | Humaniora
Mayoritas Publik Depresi dan Trauma karena Virus Korona

MI/ANDRI WIDIYANTO
Petugas dan tunawisma di GOR Ciracas, Jakarta, Selasa (28/4).

 

MAYORITAS publik merasa depresi dan trauma karena dampak penyebaran virus korona atau covid-19.

Berdasarkan pemeriksaan mandiri secara daring yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), sebanyak 64,3% dari 1.522 responden memiliki masalah psikologis cemas atau depresi.

"Gejala cemas dan depresi yang dirasakan ialah rasa takut dan khawatir berlebih, merasa tidak bisa rileks dan nyaman, mengalami gangguan tidur, dan kewaspadaan berlebih," kata Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Lahargo Kembaren, Sp.KJ pada konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 di Graha BNPB Jakarta, Jumat (1/5).

Baca juga: Isolasi Sosial dapat Berpengaruh pada Psikis

Dari 1.522 responden tersebut, 76,1% adalah perempuan dengan usia minimal 14 tahun dan maksimal 71 tahun.

Responden paling banyak berasal dari Jawa Barat 23,4%, DKI Jakarta 16,9%, Jawa Tengah 15,5%, dan Jawa Timur 12,8%.

Mereka mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa terkait covid-19 secara mandiri. Bagi masyarakat yang ingin mengetahui kondisi kesehatan jiwa pada saat situasi pandemi covid-19 bisa melakukan swaperiksa dengan mengaksesnya di laman www.pdskji.org. Selanjutnya jika hasil dari swaperiksa menunjukkan ada gangguan kesehatan jiwa bisa menghubungi tenaga kesehatan profesional yang disediakan oleh PDSKJI di akun media sosial Instagram di @pdskji_indonesia.

Baca juga: Sudah 1.595 Orang Curhat ke 'Sahabat Jiwa'

Gejala cemas paling utama yang dirasakan responden adalah merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebih, mudah marah atau jengkel, dan sulit untuk rileks.

Sementara gejala depresi utama yang dirasakan gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Hal itu dirasakan oleh para responden pada separuh waktu dan hampir sepanjang hari dalam dua minggu terakhir.

Lahargo juga menyebut sebanyak 80% responden mengalami trauma psikologis terkait covid-19. Sebanyak 80% orang memiliki gejala stres pascatrauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait covid-19.

Dari responden yang mengalami trauma psikologis tersebut, 46% mengalami gejala berat, 33% gejala sedang, 2% gejala ringan, dan 19% tidak ada gejala.

Gejala stres setelah trauma yang menonjol adalah merasa berjarak dan terpisah atau tidak terhubung dengan orang lain, dan merasa terus waspada, berhati-hati, berjaga-jaga. Selain itu ada pula gejala lain seperti mati rasa, ledakan kemarahan atau mudah kesal, sulit tidur, dan memiliki masalah konsentrasi. (Ant/X-15)

Baca Juga

ANTARA

M Syafii Maarif Tidak Sehebat yang Dibayangkan

👤MI 🕔Kamis 04 Juni 2020, 03:10 WIB
ULANG tahun ke-85 mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M Syafii Maarif dirayakan antara lain dengan tiga diskusi...
ANTARA

Agnez Mo Lagu Pengingat Cinta

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:55 WIB
AKTRIS dan musikus Agnez Mo, 33, membagikan rahasia mengenai lagu yang baru saja dirilisnya berjudul...
ANTARA

Polio Bayangi 80 Juta Anak

👤MI 🕔Kamis 04 Juni 2020, 02:30 WIB
SEBANYAK 80 juta bayi berusia di bawah satu tahun di seluruh dunia termasuk Indonesia, dibayangi penyakit menular difteri,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya