Kamis 30 April 2020, 17:16 WIB

Lihat Ada Kekurangan, Jokowi Minta Sektor Kesehatan Dievaluasi

Dhika Kusuma Winata | Humaniora
Lihat Ada Kekurangan, Jokowi Minta Sektor Kesehatan Dievaluasi

Antara/Fachrurozi
Petugas medis melakukan tes swab kepada pasien di RSUD Tarakan, Kalimantan Utara

 

PRESIDEN Joko Widodo menyatakan situasi pandemi virus korona yang melanda bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan mereformasi berbagai bidang, salah satunya kesehatan.

Dalam masa pandemi covid-19 ini, sektor kesehatan terlihat banyak menyimpan kekurangan yang ujungnya juga berdampak pada sektor lainnya. Presiden pun mengingatkan pentingnya paradigma health security ke depannya sebagai antisipasi.

Hal tersebut disampaikan Presiden saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2021 yang digelar secara virtual melalui telekonferensi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (30/4).

"Dalam situasi seperti ini, kita bisa melihat dan menghitung lagi, berbagai potensi di dalam negeri yang kita miliki yang belum terkelola dengan maksimal, yang belum kita bangun dan kita manfaatkan secara baik," ucap Jokowi.

Presiden menyoroti mengenai industri farmasi yang masih lebih banyak mengandalkan impor. Ia meminta agar kementerian terkait memetakan alat kesehatan dan bahan baku obat yang potensial diproduksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Baca juga : Jubir: Jakarta Terbanyak Pasien Positif Korona Baru dan Sembuh

"Sebagai contoh, apa yang terjadi di sektor kesehatan, industri farmasi, bahan baku obat kita saat ini masih impor, 95% masih impor. Alat-alat kesehatan, ada tidak? Apa yang bisa kita produksi sendiri dan apa saja yang kita beli dari negara lain? Sekarang kelihatan semuanya," ucap Presiden.

Presiden juga menyoroti persoalan tenaga medis. Dalam masa pandemi covid-19 ini, menurut Presiden, terlihat problem kapasitas tenaga medis dan fasilitas seperti laboratorium yang ada untuk diperbaiki ke depannya.

"Lalu bagaimana dengan tenaga medis? Rasio dokter, rasio dokter spesialis, perawat, apa cukup menghadapi situasi seperti saat ini," tuturnya.

"Kemudian bagaimana dengan laboratorium? Berapa kita punya, bagaimana kemampuannya, peralatannya, SDM-nya? Semuanya harus kita hitung karena kita melihat pentingnya health security di masa-masa yang akan datang. Kejadian pandemi covid-19 ini menyadarkan kita semuanya, betapa pentingnya health security," imbuhnya.

Jokowi juga mengingatkan Indonesia masih memiliki sejumlah persoalan di sektor kesehatan. Beberapa penyakit menular berbahaya yang perlu penanganan khusus seperti tuberkulosis (TBC) masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan. Indonesia merupakan negara nomor tiga dengan penderita TBC tertinggi di dunia setelah India dan Tiongkok.

"Tiga besar dunia yang memiliki penderita TBC adalah India, Tiongkok, dan Indonesia," jelasnya. (OL-7)

Baca Juga

MI/Djoko Sarjono

Kunci Kenormalan Baru itu Cuma Disiplin Diri

👤Djoko Sardjono 🕔Jumat 05 Juni 2020, 16:20 WIB
TANPA pendisiplinan protokol kesehatan, bukan tidak mungkin akan muncul klaster baru kasus Covid-19 yang lebih parah dari kondisi yang...
Antara

15 dari 36 Nakes Positif Covid di Bengkulu Sembuh

👤Marliansyah 🕔Jumat 05 Juni 2020, 15:50 WIB
SEBANYAK 15 dari 36 orang tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja di rumah sakit rujukan covid-19 di Provinsi Bengkulu, telah dinyatakan...
Sekretariat Presiden

Terapkan Protokol Kesehatan, Jokowi Salat Jumat di Masjid Istana

👤Dhika Kusuma Winata/Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 05 Juni 2020, 15:32 WIB
Di sejumlah titik di sekitar lokasi masjid turut disediakan sarana cuci tangan baik menggunakan sabun maupun hand sanitizer dan tisu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya