Rabu 29 April 2020, 23:55 WIB

Atasi Kendala Belajar Online, Para Guru Harus Bekerja Ekstra

Alexander P. Taum | Nusantara
Atasi Kendala Belajar Online, Para Guru Harus Bekerja Ekstra

ANTARA
Belajar di rumah dibimbing orang tua

 

Belum meredanya wabah virus korona di Indonesia, memaksa pemerintah memperpanjang masa belajar -mengajar dari rumah hingga tanggal 2 Juni 2020. Tak berarti libur dari aktivitas belajar mengajar, semua sekolah diwajibkan menggunakan pembelajaran di rumah secara online dan secara manual.

Instruksi belajar dari rumah yang dikeluarkan pemerintah pusat, tak sepenuhnya berjalan lancar.

Jika banyak daerah menjalankan belajar online dengan mudah, tidak demikian halnya dua Sekolah Dasar (SD), yakni SDI Tonggurambang dan SDI Pomakeke Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketiadaan gadget dan ketiadaan aliran listrik, memaksa para guru di wilayah itu harus bekerja ekstra. Para guru harus mengunjungi ratusan siswa satu per satu, untuk memberikan pelajaran tatap muka di rumah para siswa. Proses belajar mengajar di rumah itu dilakukan dengan menjaga jarak, mengenakan masker, dan selalu mencuci tangan.

Di SDI Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, 109 siswanya tidak memiliki ponsel pintar. Oleh karena itu, sebagian besar siswa di dua SD tersebut tidak bisa mengikuti kegiatan belajar secara online. Bahkan ada sekolah yang sampai saat ini belum dialiri listrik dari PLN.

Kepala Sekolah SDI Tonggurambang, Theresia Tolo mengaku pihaknya mengalami kendala karena semua pembelajaran
memakai sistem online, padahal hampir semua siswanya tidak memiliki handphone. Bukan hanya itu, di sekolahnya juga tidak ada listrik dari PLN. Kondisi ini tentu menyulitkan proses belajar mengajar secara online.

Baca juga: Positif Korona, Warga Parepare Sempat Salat Tarawih di Masjid

"Kita di sini ada 109 orang siswa dan semua siswa tidak punya hp android. Jadi, untuk penerapan materi secara online agak sulit dan saya rasa semua sekolah pasti seperti itu juga," ungkapnya, Rabu (29/4)

Untuk mengatasi kesulitan listrik dan ketiadaan gadget, ia mengaku menerapkan pembelajaran secara manual ke tiap-tiap rumah siswa, sesuai arahan pemerintah agar semua siswanya tidak ketinggalan materi pembelajaran.

"Saya sudah koordinasi dengan guru-guru di sini agar kita pakai teknik manual saja. Kalau berkunjung ke rumah siswa juga semua guru harus pakai masker sesuai dengan arahan dinas," ujarnya.

Hal senada disampaikan Fabianus Tangi, salah satu wali di SDI Pomakeke Aeramo, Kecamatan Aesesa. Menurutnya, untuk belajar online tak mungkin. "Jangankan laptop, ponsel saja ada yang tak punya," kata Fandy, sapaan akrab Fabianus.

Oleh karena itu, agar tak menambah beban para orangtua siswa, Fandy memilih menyambangi satu per satu rumah siswanya. Padahal jarak tempuhnya tak dekat.

Siprianus Go'o, salah satu orang tua siswa mengaku dalam kondisi seperti ini, ia berupaya mengontrol dan membimbing anaknya untuk tetap belajar di rumah.

"Saya berterima kasih kepada para guru yang sudah merelakan waktu dan tenaga untuk mengajar anak-anak meski mereka harus mendatangi rumah muridnya satu per satu," ucap Go'o. (OL-14)

 

Baca Juga

Medcom

Satu Karyawan Positif Covid-19, Toserba di Ciamis Ditutup

👤Kristiadi 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 06:49 WIB
Salah satu karyawan perempuan berinisial R, 51, terkonfirmasi positif covid-19 dari hasil swab yang telah keluar dari Labkesda...
MI/Depi Iskandar

Anggota DPRD Bayuwangi Semprotkan Disinfektan di Zona Merah Covid

👤Usman Afandi 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 06:30 WIB
Dengan memakai alat pelindung diri lengkap, penyemprotan cairan disinfektan dilakukan di rumah-rumah warga, hingga tempat ramai yang kerap...
 ANTARA FOTO/FB Anggoro/ama

Bank BJB Layani Bayar PKB via Bukalapak dan Indomaret

👤(RO/N-1) 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 05:50 WIB
BANK BJB bekerja sama dengan Tim Pembina Samsat Kepulauan Riau (Kepri) mengembangkan inovasi cara pembayaran pajak tahunan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya