Kamis 30 April 2020, 01:35 WIB

Garuda Siap-Siap Kembalikan Pesawat

Hilda Julaika | Ekonomi
Garuda Siap-Siap Kembalikan Pesawat

ANTARA
Maskapai Garuda Indonesia

 

DIREKSI PT Garuda Indonesia mengaku tengah kebingungan mencari dana untuk menutup kewajiban utang yang jatuh tempo pada Juni 2020 sebesar US$500 juta (Rp7,6 triliun dengan kurs 15.320 per US$1). Pasalnya, utang itu jatuh tempo di saat keuangan perusahaan tengah goyah di masa pandemi covid-19 ini.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR kemarin, Direktur Utama (Dirut) Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya bersama jajaran pemilik saham tengah mendiskusikan opsi-opsi yang akan diambil.

“Iya betul, kami memiliki utang jatuh tempo bulan Juni. Ini pinjaman yang dibuat lima tahun yang lalu sebesar US$500 juta,” ujar Irfan dalam rapat secara virtual itu.

Untuk sementara, sambungnya, ada tiga opsi untuk mengatasinya, yakni melunasi, meminta perpanjangan jatuh tempo (extention), atau pembayaran dengan diskon. Ketiga opsi itu punya risiko masing-masing yang menyangkut kemampuan keuangan perusahaan saat ini. “Ketiga opsi sedang kita bahas dengan pemegang saham, baik pemerintah maupun CT Corps,” jelasnya.

Irfan mengatakan negosiasi dengan perusahaan yang menyewakan pesawat pun sedang dilakukan. Hasilnya, beberapa perusahaan ada yang menyanggupi tawaran opsi dari Garuda itu. Namun, ada juga yang bergeming dengan isi kontrak yang telah dibuat.

“Beberapa sudah menyanggupi; beberapa masih bergerak menggunakan term mereka yang lama. Apabila mereka tidak mau meng ikuti term, kami terpaksa kembalikan pesawat tersebut,” ungkapnya.

Di rapat yang sama, Direksi PT Pelayaran Nasional  Indonesia (Pelni) juga melaporkan prediksi kerugian yang bakal dialami perusahaan hingga akhir tahun akibat pandemi covid-19. Direktur Utama PT Pelni Insan Purwarisya L memperkirakan perusahaannya akan merugi hingga Rp862 miliar di akhir 2020.

Dalam kalkulasinya, jumlah penumpang akan turun drastis hingga hanya 1,7 juta penumpang hingga akhir tahun. Padahal, Pelni telah membuat target mengangkut penumpang hingga 4,8 juta orang di tahun ini.


Efisiensi biaya

Di kesempatan yang sama, PT Kereta Api Indonesia (KAI) melaporkan aliran kas negatif hingga Rp693 miliar hingga Maret 2020. Hal itu sebagai buntut dari penyusutan jumlah penumpang di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Secara rinci, keuangan perusahaan terhitung baik karena masih adanya pendapatan sesuai target di Januari 2020. Di penghujung Februari, kas masuk mulai tak sesuai target, tetapi masih bisa dikatakan dalam batas toleransi.

Namun, pada Maret aliran kas perusahaan benar-benar negatif. “Jika ditotal hingga Maret, negatif Rp693 miliar,” tandas Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro.

Dalam menyikapi itu, sambungnya, strategi keuangan ialah dengan mengefisiensikan biaya sampai dengan 40%. Pihaknya pun berupaya untuk melakukan pengawasan pengeluaran modal (capital expenditure) secara ketat. Selain itu, Edi juga mencoba beberapa cara agar ada toleransi seperti relaksasi dari fasilitas pinjaman yang jatuh tempo di 2020, termasuk juga melakukan negosiasi perawatan khusus kereta api. (E-2)

 

Baca Juga

ANTARA/IGGOY EL FITRA

Emas Turun US$16 karena Investor Ambil Untung 

👤Antara 🕔Rabu 03 Juni 2020, 07:31 WIB
Emas berada di bawah tekanan karena semua indeks ekuitas utama di seluruh dunia naik pada Selasa (2/6), meskipun indeks dolar AS...
 ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd.

Hilirisasi Nikel dan Kobalt Jadi Andalan

👤MI 🕔Rabu 03 Juni 2020, 06:20 WIB
PEMERINTAH mengandalkan pengolahan nikel dan kobalt untuk menjadi barang tambang yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi Indonesia di...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.

Penduduk Miskin Bisa Bertambah 9,6 Juta

👤SURYANI WANDARI PUTRI 🕔Rabu 03 Juni 2020, 06:15 WIB
SENIOR Economist The World Bank Ralph van Doorn memproyeksikan penduduk miskin Indonesia akan meningkat 2,1% sampai 3,6% atau bertambah 5,6...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya