Rabu 29 April 2020, 08:43 WIB

Wall Street Ditutup Turun Akibat Jatuhnya Saham Teknologi

Antara | Ekonomi
Wall Street Ditutup Turun Akibat Jatuhnya Saham Teknologi

AFP
Saham-saham di Wall Street menyerahkan kenaikan awal menjadi lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB).

 

SAHAM-SAHAM di Wall Street menyerahkan kenaikan awal menjadi lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena pasar tertekan ketika investor pindah dari saham-saham pertumbuhan yang memimpin pasar, menyebabkan kerugian besar pada saham-saham teknologi utama.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 32,23 poin atau 0,13%, menjadi ditutup di 24.101,55 poin. Indeks S&P 500 berkurang 15,09 poin atau 0,52%, menjadi berakhir di 2.863,39 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 122,43 poin atau 1,40%, menjadi 8.607,73 poin.

Semua tiga indeks utama menguat lebih dari satu persen di awal sesi.

Sementara saham-saham teknologi menarik ketiga indeks saham utama AS ke zona merah, mereka semua masih dalam 20% dari tertinggi sepanjang masa mereka pada Februari.

Saham-saham raksasa teknologi Amerika Serikat yang disebut kelompok FAANG dari Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan indeks perusahaan Google, Alphabet, semuanya ditutup lebih rendah.

Sektor layanan komunikasi dan teknologi S&P 500 masing-masing turun 1,89% dan 1,41 persen, di antara kelompok yang berkinerja terburuk.

"Pasar saham saat ini adalah tentang uang yang keluar dari teknologi dan masuk ke saham bernilai ekonomis, di mana harga-harganya paling menderita," kata Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York, seperti dikutip Reuters. 

"Perasaan bahwa negara-negara bagian akan dibuka dan ekonomi mulai tumbuh lagi menyebabkan rotasi ini."

Baca juga: Harga Patokan Brent Naik, WTI Jatuh Kekurangan Penyimpanan

Perusahaan-perusahaan kecil telah bernasib lebih baik daripada yang lebih besar dalam beberapa hari terakhir, karena mereka akan mendapat manfaat lebih banyak dari pelonggaran pembatasan penutupan oleh negara bagian demi negara bagian. Russell 2000, yang melacak perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil, membukukan kenaikan kelima beruntun.

Tetapi dengan kasus virus korona AS yang mencapai satu juta, model prediksi yang sering dikutip oleh pejabat Gedung Putih memperingatkan angka kematian negara itu bisa naik lebih tinggi dari yang diproyeksikan sebelumnya jika negara dibuka kembali lebih dini.

Musim laba perusahaan kuartal pertama telah bergeser ke gigi tinggi, dengan laba S&P 500 sekarang diperkirakan akan turun 14,8% dari tahun lalu, perputaran balik dramatis dari pertumbuhan tahun ke tahun 6,3% yang terlihat pada 1 Januari, menurut data Refinitiv.

Federal Reserve AS mengadakan pertemuan kebijakan moneter dua hari untuk menghadapi kehancuran pengangguran dan ekonomi yang sedang sakit yang akan berakhir pada Rabu waktu setempat.

Kepercayaan konsumen AS juga anjlok pada April, dengan komponen 'kondisi saat ini' mengalami penurunan terbesar yang pernah ada, menurut Conference Board.

"Selama ekonomi tidak dibuka terlalu cepat dan menyebabkan tingkat infeksi meningkat, sepertinya virus telah memuncak dan mungkin sedang menurun, memberikan harapan konsumen bahwa ekonomi akan berjalan lagi," tambah Ghriske. (A-2)

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd.

Hilirisasi Nikel dan Kobalt Jadi Andalan

👤MI 🕔Rabu 03 Juni 2020, 06:20 WIB
PEMERINTAH mengandalkan pengolahan nikel dan kobalt untuk menjadi barang tambang yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi Indonesia di...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.

Penduduk Miskin Bisa Bertambah 9,6 Juta

👤SURYANI WANDARI PUTRI 🕔Rabu 03 Juni 2020, 06:15 WIB
SENIOR Economist The World Bank Ralph van Doorn memproyeksikan penduduk miskin Indonesia akan meningkat 2,1% sampai 3,6% atau bertambah 5,6...
 MI/Susanto

Nasabah dan Perbankan Dituntut Sesuaikan Diri

👤MI 🕔Rabu 03 Juni 2020, 06:00 WIB
PENGAMAT ekonomi Aviliani mendorong nasabah dan perbankan mempercepat penyesuaian dengan pola kenormalan baru atau new normal dari pandemi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya