Selasa 28 April 2020, 08:00 WIB

Indonesia Siap Terapkan Terapi Plasma Konvalesen

ATALYA PUSPA | Humaniora
 

TERAPI plasma konvalesen (TPK) merupakan salah satu teknis pengobatan yang menjanjikan bagi pasien covid-19. Terapi ini berupa pemberian plasma dari donor pasien covid-19 yang sudah sembuh kepada pasien covid-19 yang masih menderita penyakit tersebut.

TPK sebelumnya sudah diterapkan dalam mengatasi penyakit akibat virus ebola dan merupakan terapi yang direkomendasikan WHO pada 2014.

Terapi ini juga diterapkan di Hong Kong saat ada wabah SARS-CoV-2 pada 2003, H1N1 pada 2009-2010, dan MERS-CoV pada 2012.

Saat ini TPK untuk pasien covid-19 sudah dilakukan di Wuhan, Tiongkok, dan di New York, Amerika Serikat. Food and Drug Administration (FDA) AS juga sudah mengeluarkan keputusan yang mengizinkan penggunaan plasma konvalesen sebagai salah satu terapi bagi penderita covid-19.

Di Indonesia, ahli genetika dan biologi molekular Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Theresia Monica Rahardjo, bersama timnya berinisiatif untuk mengajukan kepada pemerintah agar TPK dapat segera dilakukan di Indonesia.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai hal itu, Media Indonesia mewawancarai Theresia Monica. Berikut petikannya.


Bagaimana awal mula menginisiasi agar TPK bisa dilakukan di Indonesia? 

Pada 18 Maret 2020 saya mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo. Dalam surat itu saya mengajukan usul atau saran agar pemerintah melaksanakan TPK dalam rangka menolong rakyat sembuh dari covid-19.


Apa respons pemerintah terhadap usulan tersebut?

Sejak saya kirim surat ke Presiden Joko Widodo, tanggal 2 April ada tanggapan melalui Kepala BKKBN Hasto Wardoyo. Dia menyatakan bagus ide tersebut sehingga saya diminta membentuk prosedur. Saya mengumpulkan teman-teman sejawat yang terdiri atas 35 orang, dan dibentuklah prosedur tersebut dan dijadikan buku protap penatalaksanaaan TPK.


Bagaimana cara kerja plasma konvalesen untuk memerangi covid-19?

Sebenarnya TPK merupakan bentuk vaksinasi pasif karena pada TPK ini plasma darah penderita covid-19 yang sudah sembuh, yang mengandung kekebalan atau antibodi, diambil dan diberikan kepada penderita pasien yang masih sakit. Dengan ini, diharapkan antibodi atau kekebalan pasien yang sudah sehat bisa membantu pasien yang masih sakit untuk mengatasi penyakitnya.


Apa saja kriteria yang harus dipenuhi seseorang agar bisa menjadi donor plasma darah?

Pertama, yang harus diperhatikan, pemilihan donor yang baik dan benar agar terapi bisa berjalan maksimal. Donor yang sesuai harus memenuhi syarat-syarat. Pertama, sebelumnya telah didiagnosis positif covid-19 melalui hasil pemeriksaan laboratorium standar. Kedua, resolusi gejala atau hilangnya gejala secara menyeluruh minimal 14 hari sebelum donasi plasma. Ketiga, donor wanita harus negatif terhadap antibodi HLA, atau sebaiknya donor adalah pria atau wanita yang belum pernah hamil. Supaya tidak terjadi reaksi transfusi yang dapat mengganggu pernapasan.

Keempat, hasil negatif covid- 19 baik dari satu ataupun lebih apusan nasofaring dan orofaring. Kelima, menentukan titer antibodi dan antibodi netralisasi SARS-CoV-2 bila memungkinkan (titer optimal antibodi >1:320 dan titer antibodi neutralisasi >1:80).

 

Lantas, bagaimana kriteria orang yang akan didonorkan?

Lebih dianjurkan diberikan ke pasien lebih awal. Artinya jangan sampai berat dulu, sesak napas, masuk ICU, pakai ventilator lama, itu efektivitasnya tidak akan maksimal. Jadi kalau pasien mulai sesak, itu langsung diberikan sehingga penanganannya cepat.

Nah, untuk pasien covid-19 sebagai penerima atau resipien plasma harus memenuhi syarat-syarat; pertama, harus memiliki hasil pemeriksaan laboratorium positif covid-19. Kedua, mengalami covid-19 berat atau kritis. Untuk covid-19 berat, mengalami sesak napas, frekuensi napas > 30 kali/menit, saturasi oksigen darah < 93%, rasio tekanan parsial oksigen arteri terhadap fraksi oksigen inspirasi < dari 300, dan infi ltrat paru > 50% dalam 24 sampai 48 jam.

Penderita covid- 19 kritis mengalami setidaknya salah satu keadaan berikut, misalnya gagal napas (Rasio tekanan parsial oksigen arteri terhadap fraksi oksigen inspirasi < dari 200), syok septik dan disfungsi atau gagal organ multipel.


Seperti apa proses TPK dijalankan?

Sebenarnya itu kayak proses transfusi darah, yang diambil plasma pasien covid-19 sembuh. Satu pasien sembuh bisa diambil plasma 500 cc. Ini sama seperti proses donor darah. Satu donor dapat mendonorkan untuk dua pasien dan dapat memberikan plasmanya 14 hari sekali.

Lalu, pemberian kepada pasien covid-19 dilakukan selama 4 jam, dilakukan perlahan. Dalam 1 jam pertama dimonitor apakah ada efek atau tidak, lewat dari dari situ aman.


Di negara-negara yang telah melakukan TPK, berapa banyak pasien yang berhasil sembuh dengan terapi ini?

Terapi ini bisa diberikan dengan dua jalur. Pertama, otonomi pasien. Pasien memiliki hak untuk meminta atau menolak terapi yang akan diberikan kepadanya. Kedua, melalui penelitian. Ini bisa dilakukan berdasarkan hospital based, dilakukan di rumah sakit.

Nah, di Tiongkok ada beberapa penelitian yang dilakukan kepada 10 pasien yang berat dan kritis. Ternyata hasilnya sangat menggembirakan, semuanya hidup. Ada lagi lima orang yang kondisinya lebih kritis dan sudah menggunakan ventilator; kelimanya sambuh.

Di Korea, 2 orang sangat kritis, dan keduanya sembuh. Di AS, uji coba terhadap 3 kelompok pasien, saya dapat kabar hasilnya juga sangat mengembirakan. Di Iran juga begitu.


Bagaimana dengan di Indonesia?

Di Indonesia, saat ini centercenter sedang mempersiapkan program tersebut untuk dilakukan di rumah-rumah sakit.


Apakah Indonesia memiliki kapasitas untuk melakukan TPK secara masif?

Indonesia sudah jelas mampu. Untuk melakukannya diperlukan kerja sama berbagai sektor, dari seluruh rumah sakit, unit transfusi darah, PMI, Lembaga Eijkman, Biofarma, dan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat. Hal ini bisa langsung dilaksanakan di Indonesia sesuai dengan operasional standar yang berlaku.

TPK bisa dilakukan di seluruh rumah sakit hingga di daerah terpencil. Kalau tidak ada unit PMI, yang mempunyai tempat penyimpanan darah atau plasma, bisa dikirim dari pusat. Karena plasma ini bisa dikirim asal sesuai dengan suhu pengirimannya, yakni 2-8 derajat celsius. (X-10)

Baca Juga

MI/PIUS ERLANGGA

2.562 Pasien Sembuh dari Covid-19 di Wisma Atlet

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 11:17 WIB
Sejak 23 Maret hingga hari ini ada 4.227 pasien yang terdaftar menjalani perawatan penyakit menular...
AFP

WHO Lanjutkan Penggunaan Hirdroksiklorokuin untuk Obat Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 09:50 WIB
"Profil keamanan HCQ sudah lama diketahui, namun sebelum dilakukan randomisasi secara elektronik untuk menentukan obat mana yang akan...
MI/Ardi Teristi Hardi

Mulai 15 Juni, UGM Longgarkan Pembatasan Maksimal di Kampus

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 08:52 WIB
Rektor UGM Panut Mulyono menyampaikan, untuk menuju tatanan kenormalan baru, pelonggaran pembatasan maksimal kegiatan di kampus UGM akan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya