Selasa 28 April 2020, 07:40 WIB

Menggulirkan Roda Ekonomi dari Rumah

Aries Heru Prasetyo Data scientist Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM | Opini
Menggulirkan Roda Ekonomi dari Rumah

Dok.MI
Aries Heru Prasetyo Data scientist Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

TANPA disadari, pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) kini mulai memasuki bulan ke dua.

Seluruh warga masyarakat berusaha patuh untuk bekerja dan belajar dari rumah, juga beribadah di rumah. Ketiga hal tersebut seakan menjadi ujian tersendiri, khususnya karena saat-saat ini kita tengah menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Sejenak berefleksi kejadian di tahun lalu, pada bulan Ramadan roda perekonomian nasional berputar lebih cepat daripada bulan-bulan sebelumnya. Merujuk pada datadata statistik, selama tahun 2016 hingga 2018, rata-rata inflasi month to month (mom) ada di 0,68%.

Di bulan Ramadan 2019 sendiri angka inflasi terjadi lebih rendah daripada rata-rata tiga tahun sebelumnya yakni di angka 0,51%. Tahun ini, dengan mempertimbangkan adanya larangan untuk mudik, infl asi di bulan April ini diperkirakan hanya sekitar 0,20%.

Persentase ini harus diakui cukup rendah. Sehingga, diperlukan sebuah gerakan massal untuk terus menggulirkan roda ekonomi dari rumah. Pekerjaan rumah yang sama juga ditemukan di negara maju seperti Amerika Serikat. Laju inflasi tahunan sampai dengan Maret 2020 ialah 1,50% yang merupakan angka terendah sejak 2016. Itulah mengapa pemerintah di sana berusaha untuk menekan tombol ‘restart’ bagi ekonomi nasional di masa pandemi covid-19.

Langkah strategis yang dilakukan ialah dengan mengucurkan dana stimulus sekitar Rp32.525 triliun. Dari jumlah itu, sebagian dialokasikan untuk melawan pandemi, sisanya dipinjamkan kepada dunia usaha, termasuk ke maskapai penerbangan.

Selebihnya, disalurkan dalam bentuk hibah kepada usaha kecil dan menengah. 


Optimisme masyarakat

Hingga artikel ini disusun, perdebatan di kalangan analis ekonomi dalam melihat efektivitas stimulus itu masih terjadi. Hal itu disebabkan karena respons positif dari lantai bursa tak kunjung hadir. Saat pengumuman stimulus itu, indeks Dow Jones Industrial Average tercatat turun 4,1%, sedangkan S&P 500 turun 3,4% dan NASDAQ anjlok 3,8%.

Di tengah-tengah hiruk pikuk ekonomi tersebut, muncullah sebuah aliran analisis yang menyatakan bahwa efektivitas stimulus sangat tergantung pada optimisme masyarakat pada pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.

Meskipun secara ilmiah paradigma tersebut dibangun dari serangkaian riset dengan metodologi yang kuat, pada tataran teknis kuncinya sangat sederhana. Ketika masyarakat sudah memiliki rasa percaya diri untuk kembali berinvestasi jangka menengah, di situlah stimulus dapat dinilai berhasil.

Rumusan yang sama juga dapat diterapkan di Indonesia. Nah menggerakkan roda ekonomi dari rumah dapat dilakukan dengan menjaga daya beli masyarakat. Beberapa kebijakan berikut mungkin dapat menjadi alternatif. 

Pertama terkait kepastian jalannya stimulus bagi dunia industri. Seperti telah diketahui bersama, meski paket kebijakan telah diumumkan sejak beberapa minggu terakhir, namun para pelaksana di lapangan masih mengalami hambatan.

Mulai dari instruksi kerja yang belum juga turun hingga tata laksana operasional di lapangan. Hal-hal inilah yang perlu segera mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat. Kolaborasi antarinstansi menjadi titik sukses dalam mengurai kebuntuan yang ada. 

Ketika stimulus dapat dijalankan, secara otomatis perusahaan akan mampu menjaga modal kerjanya. Terlebih karena di dua bulan ini mereka akan menanggung beban yang  cukup besar. Kemampuan itulah yang akan menjaga aliran pendapatan masuk ke masyarakat berlangsung dengan stabil.

Selama terdapat kepastian, langkah dunia usaha untuk tidak melakukan pemotongan gaji maupun tunjangan hari raya sepanjang masa pandemi akan mampu menstabilkan kondisi psikologis masyarakat. Ini merupakan syarat mutlak bagi terciptanya optimisme dalam melakukan aktivitas ekonomi.


Daya beli

Saat stabilitas pendapatan terjamin, daya beli masyarakat akan mampu menggerakkan roda ekonomi, dimulai dari sisi konsumsi. Data-data dari sejumlah pemain logistik  berbasis digital menunjukkan adanya peningkatan omset pesanan hingga dua kali lipat dibandingkan dua bulan pertama di tahun ini.

Data ini telah dibuktikan di lapangan melalui riset yang dilakukan kepada para tenaga yang bertugas menghantarkan pesanan ke rumah konsumen. Rata-rata mereka mengatakan adanya kenaikan jumlah hantaran hingga dua kali lipat dari masa sebelum kebijakan PSBB diberlakukan. Realitas itu memang berbanding terbalik dengan penurunan omset sektor ritel yang diperkirakan hampir menyentuh angka 90%.

Tren peningkatan konsumsi melalui media digital ini diperkirakan akan terus terjadi hingga medio Juni. Dari perhitungan proyeksi statistik terlihat bahwa ketika prestasi ini mampu dijaga setidaknya dalam 3 bulan mendatang, optimisme yang sama akan terjadi di bidang investasi, dimulai dari investasi jangka pendek.

Selanjutnya, bila kondisi tersebut dapat dipertahankan hingga akhir tahun ini, optimisme masyarakat dalam berinvestasi jangka menengah akan tercipta. Inilah skema yang akan menggulirkan roda perekonomian nasional.

Atas hasil kajian tersebut tampak jelas bahwa roda ekonomi ada di genggaman kita. Berkenankah kita untuk turut berpartisipasi aktif di dalamnya? Mari bergerak bersama demi Indonesia kuat!

 

Baca Juga

Dok. MI

Waktunya Alam Bertindak

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Jumat 05 Juni 2020, 05:15 WIB
Kesehatan manusia dan kesehatan planet bumi saling memiliki keterkaitan erat. Menyelamatkan bumi dari krisis iklim sama pentingnya dengan...
Dok. MI

Urgensi TNI-Polri saat Kenormalan Baru

👤Muradi Guru Besar Politik & Keamanan Universitas Padjadjaran, Direktur Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Padjadjar 🕔Jumat 05 Juni 2020, 05:10 WIB
Apa urgensinya melibatkan...
Dok.Pribadi

Gotong Royong Menyelamatkan SJSN

👤Danu Sandjoyo Pegawai Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Kementerian Keuangan 🕔Kamis 04 Juni 2020, 05:55 WIB
KEBIJAKAN pemerintah mengumumkan kenaikan iuran program Jaminan KesehatanNasional (JKN) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menuai...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya