Senin 27 April 2020, 06:50 WIB

Patuhi PSBB atau Pandemi kian Menjadi

Sri Utami | Politik dan Hukum
Patuhi PSBB atau Pandemi kian Menjadi

ANTARA/SAPTONO
Petugas gabungan mengarahkan kendaraan untuk keluar Tol Cikarang Barat, di ruas Tol Cikampek, Jawa Barat, kemarin.

 

TINGKAT kepatuhan warga terhadap pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan di banyak daerah masih minim. Padahal, tanpa peran aktif masyarakat, kebijakan itu tak akan membuahkan hasil maksimal untuk memutus rantai penularan virus covid-19.

PSBB telah diterapkan sedikitnya di 20 daerah, bahkan di DKI Jakarta sudah dilakukan perpanjangan. Namun, kebijakan tersebut belum efektif. Beragam pelanggaran pun masih saja terjadi. Di wilayah hukum Polda Metro Jaya, misalnya, polisi menindak 32.300 pengemudi kendaraan di 32 pos pemantauan pada kurun 13 sampai 25 April.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, kemarin, penindakan itu memang masih sebatas teguran. “Tapi, penindakan akan lebih tegas lagi, baik terkait dengan pembatasan di moda transportasi maupun di tempat keramaian. Akan terus kami lakukan patroli bersama dari TNI, Polri, pemerintah daerah secara masif,” ungkapnya.

PSBB di Kabupaten Bogor yang diberlakukan sejak 15 April juga masih banyak diabaikan. Bupati Bogor Ade Yasin bahkan menyatakan, tingkat kepatuhan warga hanya 30%. “Kenyataannya di lapangan kami kesulitan mengendalikan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah karena alasan bermacam-macam, terutama karena bekerja.’’

Pelanggaran juga masih marak di Depok. Menurut Kasatlantas Polres Metro Depok Komisaris Sutomo, pihaknya mencatat 4.200 pelanggaran yang didominasi pengendara yang tidak mengenakan masker.

Begitu juga di Tangerang Selatan, selama lebih dari seminggu pemberlakuan PSBB, mobilitas warga masih cukup tinggi. “Ada orang yang masih bekerja di Jakarta, karena mau tidak mau mereka harus (bekerja). Masih ada sekitar 60% orang yang keluar dari rumah mereka,” ungkap Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Dia menekankan, agar PSBB optimal, perlu ada sanksi yang bisa menimbulkan efek jera. Dalam hal ini, pemkot akan menerapkan sanksi administrasi melalui gugus tugas tingkat kelurahan, kecamatan, dan RT/RW. Mereka yang melanggar nantinya harus membuat pernyataan
khusus dan kalau ada keramaian akan diberi semacam police line.

Tak cuma di Jabodetabek, PSBB di daerah lain juga belum ampuh untuk membatasi mobilitas. Di Sumatra Barat yang memberlakukan PSBB sejak 22 April, dalam sehari rata-rata 4.000 orang datang dari daerah lain.

Partisipasi

Juru bicara pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto menekankan pentingnya ketaatan masyarakat untuk tetap berada di rumah demi memutus rantai penyebaran covid-19. Menurutnya, tingginya jumlah penderita covid-19 membuktikan masih terjadi penularan di masyarakat.

Hingga kemarin, ada penambahan 275 kasus positif covid-19 menjadi 8.882 orang. Pasien yang meninggal juga bertambah 23 menjadi 743 orang dan yang sembuh bertambah 65 menjadi 1.107 orang.

“Ini yang harus kita pahami, penularan masih terjadi. Karena itu, mari kita partisipasi secara aktif dengan memutus penularan infeksi covid-19. Mari pastikan kita tidak tertular dan menularkan,” tandas Yurianto.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia Zubairi Djoerban pun menekankan kedisiplinan dalam PSBB sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona. ‘’Kalau masyarakat tidak disiplin, pimpinan daerah wajib mendisiplinkan dengan memanfaatkan aparatnya.’’

Zubairi menambahkan, jika PSBB dilaksanakan maksimal bersamaan dengan upaya pencegahan lainnya seperti screening secara masif, rajin mencuci tangan, melakukan isolasi maupun karantina mandiri dengan baik, pandemi virus korona bisa cepat diakhiri.

“Jika semua rangkaian dilakukan dengan baik dan benar, puncaknya mungkin bisa Mei atau Juni. Tapi kalau tidak, bisa mundur beberapa bulan. Dan puncak tidak berarti berhenti, bisa jadi sampai puncak kemudian turun. Jadi kalau selesai puncak, sebulan, dua bulan, PSBB masih harus dikerjakan,” terang Zubairi.

Saat dihubungi terpisah, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengungkapkan, jika PSBB tidak dilaksanakan dengan baik, jumlah kasus covid-19 akan terus bertambah setiap harinya.

Simulasi Driven Innovation Lab di Singapore University of Technology and Design dengan menggunakan kecerdasan buatan pun memprediksi Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara terakhir yang keluar dari wabah covid-19 yakni 3 Juni. Malaysia paling awal terbebas (5 Mei), diikuti Filipina (7 Mei), dan Singapura (13 Mei). (Aiw/Ssr/KG/YH/X-8)

Baca Juga

MI/Duta

Kapolri Naikkan Pangkat Polisi yang Tewas Diserang 'Fans' ISIS

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Senin 01 Juni 2020, 16:15 WIB
Polisi berhasil melumpuhkan pelaku tak lama setelah insiden...
ANTARA FOTO/BPMI Setpres

Lawan Covid-19, Presiden: Indonesia Harus Tampil Sebagai Pemenang

👤Fachri Audhia Hafiez 🕔Senin 01 Juni 2020, 15:43 WIB
"Sebagai bangsa yang besar kita juga harus tampil sebagai pemenang. Kita harus optimistis, kita harus mampu menciptakan peluang di...
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Ketua MPR: Pengamalan Pancasila Andalan Indonesia Atasi Covid-19

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Senin 01 Juni 2020, 15:25 WIB
Indonesia telah menunjukan kepada dunia bahwa ideologi Pancasila mampu menjadi senjata Indonesia menghadapi pandemi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya