Senin 27 April 2020, 06:20 WIB

Bersahabat dengan Penderitaan

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Bersahabat dengan Penderitaan

Seno
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

PENDERITAAN tidak semestinya dimusuhi atau dikutuk. Penderitaan atau musibah sesunggunya merupakan “surat cinta Tuhan”.

Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi undangan berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris, sehingga Tuhan mengubah surat undangan dalam bentuk musibah.

Musibah merupakan ujian keburukan (balaun sayyiah), tetapi mengangkat martabat kemanusiaan.

Ada juga ujian kebaikan (balaun hasanah) tetapi lebih sulit untuk dilulusi hamba-Nya, sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah.

Jika orang ditimpa musibah, yang paling pertama dipanggil biasanya Allah, Tuhan Yang Mahakuasa.

Akan tetapi, jika orang diuji dengan kemewahan atau pangkat, dan jabatan, yang paling sering dihubungi di SMS ialah makhluk Tuhan, berupa orang yang di sayanginya.

Tidak jarang di antara mereka bukan muhrimnya dan sering terjadi dosa dan maksiat karenanya.

Dengan demikian, musibah dan penderitaan tidak selamanya negatif. Ingat pesan Nabi, “Jika Tuhan menyayangi hamba-Nya, siksaan-Nya didatangkan lebih awal di dunia supaya di akhirat nanti lunas. Jika Tuhan tidak menyukai hamba-Nya, Dia menunda siksaan-Nya di akhirat yang amat pedih.”

Dalam hadis lain dikatakan, “Orang yang menjalani sakit demam sehari, maka akan dihapuskan dosanya setahun.”

Seandainya orang memahami apa arti di balik setiap musibah, mungkin dia banyak berdoa, “Ya Allah anugerahkanlah aku musibah.”

Hanya orang awam yang betul-betul takut terhadap musibah.

Orang yang martabat spiritualnya sudah tinggi, kesyukurannya kepada Tuhan bukan hanya ketika ia mendapatkan kenikmatan, melainkan apa pun yang datang dari Allah SWT, termasuk musibah, ia syukuri, karena ia sadar Allah SWT Mahabaik tidak mungkin Ia menciptakan sesuatu yang buruk.

Jika ada kesan buruk atau tidak baik dari-Nya pasti itu cara pandang manusia yang belum menyadari hakikat karunia Allah SWT.

Jika orang sudah menganggap nikmat dan musibah sama-sama baiknya dan keduanya disyukuri, itulah orang yang disebut dengan syakur, bukan lagi syukur. Jika ia mendapatkan kenikmatan ia bersyukur dan jika ia mendapatkan musibah ia bersabar.

Orang ini sudah tidak pernah lagi mengeluh dan terus mendaki langit kebahagiaan karena kedua sayap kehidupannya terkembang. Sayap kiri berfungsi untuk menyabarkan diri dari musibah dan sayap kanan berfungsi untuk mensyukuri seluruh kenikmatan.

Kedua sayap kehidupannya sudah berfungsi dengan baik. Jika seseorang mabuk ketika mendapatkan kenikmatan dan keberuntungan dan sebaliknya meratap i musibah dan kegagalan, itu bukti orang itu masih jauh dari kualitas iman yang lebih baik.

Virus korona atau covid-19 mestinya jangan mengalahkan ketakutan kita kepada Allah SWT. Virus itu salah satu bentuk musibah yang diturunkan untuk memberikan pembelajaran kepada manusia. Namun, ini bukan berarti kita harus nekat menghadapinya. Sebab, takdir buruk juga perlu diikhtiarkan diubah menjadi takdir baik. Seorang yang betul-betul beriman kepada Tuhannya tidak perlu merasakan ketakutan berlebihan kepada apa pun dan siapa pun selain Allah SWT, termasuk kematian itu sendiri.

Tuhan kita di dunia adalah Tuhan kita di alam kubur dan di hari akhirat kelak. Dia lebih menonjol sebagai Maha Pengampun, Pengasih, dan Penyayang daripada Maha Penghukum, Penyiksa, dan Pendendam.

Tidak sepantasnya orang itu panik atau sedih berlebihan jika ditimpa musibah.

Demikian pula sebaliknya. Tidak sepantasnya juga mabuk ketika ia memperoleh nikmat dan keberuntungan, karena dunia ini hanya “sejengkal” dalam menuju kehidupan abadi di akhirat kelak.

Setelah kita berusaha dengan keras, serahkanlah diri kepada Allah SWT. Hasil akhirnya terserah Allah SWT. Allahu a’lam.

Baca Juga

Seno

Muruah Halalbihalal

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Jumat 22 Mei 2020, 06:05 WIB
Kita kini bisa melakukan halalbihalal melalui media elektronik atau media-media konvensional lainnya. Pengiriman oleh-oleh, mungkin karena...
Seno

Silaturahim Lintas Primordial

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Rabu 20 Mei 2020, 06:10 WIB
Ini artinya siapa pun sebagai anak cucu Adam wajib dihormati sebagai manusia. Alquran juga menggagas konsep ukhuwah imaniah, persaudaraan...
Seno

Islam tidak Mengenal Mayoritas-Minoritas

👤Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta 🕔Selasa 19 Mei 2020, 05:10 WIB
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam’ (QS Al-Isra’/17: 70). Apa pun jenis kelamin, etnik, kewarganegaraan,...

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Minggu, 07 Jun 2020 / Ramadan 1441 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:20 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More