Senin 27 April 2020, 06:00 WIB

Ramadan dan Doa

Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma | Opini
Ramadan dan Doa

Dok. Pribadi
Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma

BULAN Ramadan adalah bulan penuh keutamaan yang selalu dinantikan setiap umat muslim. Namun, Ramadan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena dihadapkan pandemi covid-19.

Kegiatan-kegiatan ibadah ritual yang pada kondisi normal diselenggarakan secara semarak di masjid/surau, kali ini harus dilakukan di rumah masing masing demi kemaslahatan umat manusia; mempersempit gerak wabah covid-19.

Sesungguhnya hal ini tidak akan mengurangi makna ibadah di hadapan Allah Mahatahu, apabila dasar dalam melakukannya ialah karena keikhlasan. Justru Ramadan kali ini ialah saat tepat untuk membersihkan hati sembari memohon kepada-Nya agar pandemi segera berakhir.


Makna berkah

Marhaban yaa Ramadhan. Marhaban syahru-shiyam. Allahumma bariklanaa fi rajabi wa sya’ban wa balighnaa ilaa Ramadhan.’ Dari doa tersebut ada dua hal yang diminta seorang hamba, yaitu curahan berkah dari Sang Khalik dan dipertemukan dengan Ramadan.

Berkah secara harfiah dimaknai ‘sesuatu yang berlimpah kebaikan’ (Al-Qurtubi) untuk manusia karena anugerah (nikmat) dan ‘kebaikan Sang Khalik kepada hambanya’ (Al-Maraghi). Penulis Barat menyebut berkah sebagai ‘beneficent force, of divine origin, which causes superabundance in the physical sphere and prosperity and happiness in the psychic order’ (Gibb et. all: 1986)

Ada dua jenis berkah, yaitu berkah jiwa (albarakaatur ruhaniah) dan berkah materi (albarakatul maaddah) (Al-Quthan). Kita mengharap keselamatan dan ketenteraman atau keamanan dalam kehidupan (Arrazi), mendapat ilmu yang bermanfaat dan bimbingan dari Allah SWT (Ayatut Tafasir), dikabulkan doa-doa kita oleh-Nya merupakan berkah rohaniah (Almawardi).

Kita memohon berkah dari Ar-Raazaq, limpahan rezeki dalam berbagai dimensi, seperti pendapatan, hujan yang menjadikan tanah pertanian dan tumbuh-tumbuhan subur, tidak ada hama yang mengganggunya, menghasilkan panen yang berlimpah, serta tiadanya kekeringan atau kemarau panjang menimpa, juga ternak-ternak kita, seperti domba, kambing, sapi, kerbau, kuda, ayam, dan itik, juga ikan berkembang biak dengan baik menjadi sumber rezeki kita.

Kita berharap mendapatkan penghasilan dari mata pencaharian yang halal dan bermanfaat, kenyamanan dan kemudahan dalam kehidupan dan kesehatan. Itulah jenis berkah yang acap kali diminta kita. Jenisjenis berkah ini merupakan cerminan dari pemahaman manusia yang sangat terbatas, yakni dalam bentuk materi, berkah maadah (Sayyid Aththanthawy, Al-Mawardi, A’qaam Zaidiyah, Athsisy ‘Iyaadli, Al-Baghwy, Al- Uluusy; AR-Raazy, Al-quththan, Al-Lubaab, dan Al-Manaar).

Padahal berkah Allah, sebagaimana ditegaskan Ibnu A’thiyah, tidak terhingga banyak dan ragamnya. Misalnya saja, manusia sering tidak dapat memahami bahwa selamat dari bahaya, malapetaka, merupakan bentuk berkah (rezeki matababh syaamilah).


Keutamaan Ramadan

Permintaan kedua ialah balighnaa ila Ramadhan (dipertemukan kembali dengan Ramadan). Mengapa kita memohon dipertemukan
dengan Ramadan atau kita sangat merindukan bulan suci ini?

Ramadan berasal dari kata yang berarti (membakar) atau sangat panas. Kata-kata itu digunakan dalam bahasa Arab lama (kuno). Pengertian membakar menunjukkan dalam bulan tersebut badan, hati atau rasa terbakar oleh panas suhu yang mengakibatkan lapar dan haus karena pada umumnya (di dunia Arab), Ramadan jatuh pada musim panas. Juga kata membakar menunjuk makna kiasan (majazi), yakni kata Ramadan diartikan sebagai pembakaran diri dari dosa-dosa (Ibnu ‘Ajibah; Al-Bahr).

Dosa-dosa dibakar dengan melaksanakan perbuatanperbuatan baik (amal saleh) (Al-Bahr). Seorang mukmin akan menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan baik dalam berbagai bentuk dan jenis dalam relasi dengan Sang Khalik dan relasi sesama manusia dan makhluk lainnya sehingga kesibukan tersebut tidak memberi peluang terhadap bisikan-bisikan atau dorongan nafsu setan untuk melanggar ketentuan Allah. Oleh karena itu, Ibnu Katsir memberikan penegasan bahwa puasa dapat ‘mempersempit celah/peluang atau jalan setan’.

Ramadan diberi sebutan bermacam-macam dilihat dari fadhilah atau keutamaannya. Al-Qusyairi menyebutkan beberapa sebutan Ramadan, yakni pertama, bulan (permulaan) Alquran diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Alquran merupakan landasan bagi muslim-mukmin dalam mengarungi kehidupan dunia untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Kedua, bulan takarub, munajat, dan doa-doa hamba-hamba Allah dikabulkan.

Ketiga, bulan rahmah dan nikmat dari Allah diturunkan dan disebarkan atau tercurah serta melimpah. Keempat, bulan kemenangan dan kesempatan atau peluang terbuka untuk mendapat banyak pahala.

Kelima, bulan diringankan beban-beban dan diangkat derajat hamba Allah. Keenam, bulan dibukakan risalah-risalah (mafaatihu al-khithaab). Ketujuh, bulan pendidikan atau pembersihan jiwa atau rohani itahdzibun nufusatau tazkiyatun nufus atau tarbiyatu ruhaniah).


Bertemu Ramadan

Kita patut bersyukur masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan kali ini. Rasa syukur perlu diwujudkan dalam bentuk pengamalan, yaitu (a) bil lisan dengan selalu mengucapkan kalimat thayyibah, seperti alhamdulillah, (b) meneguhkan keyakinan bahwa apa yang kita peroleh semata-mata anugerah dan milik Allah, serta bersifat fana atau tidak abadi sehingga dalam diri kita tidak muncul sikap pongah atau superior dan mengecilkan orang lain, dan (c) memanfaatkan anugerah Allah dengan sebaik-baiknya dengan melakukan amaliah yang bermanfaat bagi orang banyak sebagai perwujudan dari kasih sayang (syafaqah).

Oleh karenanya, pertanyaan reflektif tersebut menjadi bahan bagi kita untuk melakukan perbaikan terhadap sikap, tingkah laku, dan perbuatan kita dalam hablun min Allah dan hablun min annaas. Untuk itu, kita harus berusaha keras (mujahadah) menjalankan ibadah shaum sebenarnya dan berusaha keras mengamalkan ‘makna puasa dan Ramadan’ secara berkesinambungan dalam kehidupan.

Di masa pandemi covid-19, memberi bantuan pada orang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari atau mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga kesehatan pribadi dan orang lain, merupakan perwujudan rasa syukur.

Dengan kata lain, ada hubungan yang berkesinambungan antara pelaksanaan ibadah ritual dan manifestasi (perwujudan) dalam perilaku, sikap, dan tindakan atau amaliah dalam hablun min annas/relasi dengan sesama manusia (termasuk alam raya dan makhluk lainnya).

Seorang yang telah menjalankan ibadah shaum Ramadan sejati akan menampilkan sikap dan amaliah yang bermanfaat bagi banyak orang (khaiirun naas anfa’uhum linnaas) serta tidak melakukan tindakan yang berlawanan dengan ketentuan Allah, seperti merugikan orang banyak. Wallahualam.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Kembali ke Alam di Tengah Pandemi Covid-19

👤Diah Suradiredja Sekretariat Pojok Iklim 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 23:49 WIB
Di Indonesia, peringatannya di lakukan melalui Indonesia Climate Change and Environment (ICCE) melalui penyelenggaraan Webinar Forum dengan...
DOK PRIBADI

Pelembagaan Gotong Royong

👤Eva K Sundari Pendiri Kaukus Pancasila, Ketua DPP Alumni GMNI 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:35 WIB
VIRUS korona akan tetap bersama kita di masa kenormalan baru. Risiko kematiantetap harus kita hadapi sambil melanjutkan hidup yang tidak...
unair.ac.id

Kenormalan Baru Menakar Literasi Digital Siswa

👤Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Digital Prodi S3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:30 WIB
KABAR bahwa sekolah bakal dibuka kembali pada Juli sudah dipastikan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya