Sabtu 25 April 2020, 04:50 WIB

Dalam Kekayaan Manusia Lupa Tuhan

Aiw/H-2 | Humaniora
Dalam Kekayaan Manusia Lupa Tuhan

MI/SENO
Quraish Shihab

 

“KAMI tidak mengutus seorang pun pada suatu negeri seorang utusan yang memberi peringatan, kecuali orang-orang yang berfoya-foya di negeri itu berkata, kami sudah menemukan adat istiadat ini dari orangtua kami sejak lama. Kami akan mengikuti jejak mereka.”

Demikianlah bunyi ayat 23 Surat Az-Zukhruf yang mengawali pembahasan Tafsir Al-Mishbah kali ini. Sudah menjadi tradisi masyarakat sejak dulu hingga kini, mereka yang sudah mapan, sangat berkecukupan dan berfoya-foya, tapi menolak mengikuti risalah agama yang berbeda dengan tradisi orangtua mereka.

Namun, dalam menghadapi orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka, Rasul tetap bersikap amat santun kepada mereka, bahkan jawaban Nabi Muhammad SAW sangat halus, seperti yang diajarkan Allah dalam Alquran.

Walau begitu, mereka tetap saja mengingkari risalah yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah pun berfirman, “Maka kami menjatuhkan siksa terhadap mereka,” seperti tertulis di ayat ke-25.

Mereka (kaum musyrik) berkata mestinya Alquran diturunkan kepada salah seorang yang agung yang terdapat di salah satu dari dua kota (Mekah dan Thaif). Mereka menilai yang wajar menerimanya ialah orang kaya, orang yang berpengaruh, dan terpandang, bukan Nabi Muhammad yang dinilai miskin.

Allah SWT tegas membantahnya seperti tertulis di ayat 32-33. “Apakah mereka yang mau membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami yang membagi-bagi antara mereka, kebutuhan hidup mereka dalam kehidupan dunia ini, kami yang meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain agar supaya sebagian yang lain bisa menggunakan tenaga, menggunakan potensi yang ada pada yang lain. Rahmat Tuhanmu itu lebih baik dari apa yang mereka himpun.”

Dia tidak memberikan semua orang kekayaan karena nantinya semua orang akan kafir dan tidak merasa butuh lagi pada Allah. Kekayaan berpotensi menyebabkan manusia lupa pada Tuhan-Nya.

Apa yang diberikan Allah itu rahmat, apa pun itu bentuknya. Kalau Anda mencari sesuatu dan memperoleh sesuatu yang tidak direstui Allah, itu siksa, bukan rahmat. Misalnya, melakukan korupsi.

Barang siapa berpaling dari ajaran Allah Yang Maha Pengasih itu, maka setan menyesatkannya dan menjadi teman karibnya. Orang yang tidak memperhatikan peringatan Allah akan ada setan yang selalu menyertainya ke mana pun dia pergi seperti kulit telur yang selalu menyertai isi telur.

Setiap manusia, ada setan yang menyertai. Istri Nabi, Aisyah, pernah marah karena cemburu. Nabi Muhammad mengatakan semua manusia ada setan yang menyertai, saya juga ada, tapi saya selamat dari godaannya.

Jadi, manusia itu dianugerahi Allah kecenderungan baik dan buruk. Kalau sudah terjerumus dalam dosa besar, setan ini selalu menyertai. Bisikan setan juga mengamuflase sesuatu yang buruk disebut baik. (Aiw/H-2)

Baca Juga

ANTARA/Hafidz Mubarak A

Kemenag Susun Aturan Ibadah Natal di Tengah Pandemi

👤Cindy Ang 🕔Kamis 26 November 2020, 09:25 WIB
"Kalau di rumah ibadah betul-betul kami garis bawahi, jangan berkerumun, jaga jarak, cek kesehatan dan lainnya. Itu semua sama...
Istimewa

Opung Pilih Jalan Santai supaya Tetap Bugar

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Kamis 26 November 2020, 09:05 WIB
Olahraga bagi kaum lansia sangat penting, apa pun bentuknya. Yang penting durasi latihannya 150 menit per...
DOK BPJAMSOSTEK

BPJAMSOSTEK Raih 2 Penghargaan Digital Marketing & Human Capital

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 November 2020, 08:58 WIB
Dua trofi penghargaan yang diterima langsung oleh Naufal Mahfudz ini tentunya menjadi pelengkap prestasi yang diraih BPJAMSOSTEK di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya