Rabu 22 April 2020, 21:45 WIB

Semangat Ibadah di Tengah Pandemi Covid-19

Muhammad Rajab, Direktur Ma’had dan Islamic Studies, Pesantren Tazkia International Islamic Boarding School Malang | Opini
 Semangat Ibadah di Tengah Pandemi Covid-19

Dok.pribadi
Muhammad Rajab

MELAKSANAKAN ibadah Ramadan kali ini pasti menghadirkan suasana berbeda. Kesempatan untuk melakukan sebagian ibadah-ibadah seperti salat tarawih berjamaah di masjid, akan mengalami sedikit gangguan, bahkan tidak dapat dilaksanakan. 

Hal ini melihat kebijakan pemerintah untuk menjaga jarak semakin diperketat (social and psysical distancing). Ini dilakukan sebagai upaya pencegahan mengingat perkembangan penyebaran covid-19 semakin hari makin meningkat dan meluas. 

Berdasarkan data pemerintah pada Selasa (21/4), kasus positif di Indonesia mencapai angka 7.135. Angka itu bertambah 375 kasus positif korona sebelumnya. Sementara pasien sembuh ada 842 orang. Untuk yang meninggal mencapai 616 orang. Adapun data global, jumlah pasien hingga Selasa (21/4) mencapai 2.491.325 kasus. Dari angka tersebut terdapat 170.634 pasien meninggal dunia dan 653.722 dinyatakan sembuh. Data ini diambil dari 210 negara dan wilayah di seluruh dunia yang telah melaporkan covid-19.
    
Jika pada tahun-tahun sebelumnya, ketika memasuki Ramadan, masjid-masjid akan dipenuhi orang untuk melaksanakan tarawih. Bahkan tidak sedikit masjid kewalahan menampung kehadiran para jama’ah. Sementara kini masjid-masjid tak akan ramai seperti sebelumnya, atau bahkan kosong. Ini bukan hanya tarawih tapi juga ibadah lainnya.

Namun demikian, semangat untuk beribadah di bulan penuh berkah bukan berarti menjadi kendor. Tarawih bisa dilaksanakan secara berjama’ah bersama keluarga di rumah. Secara hukum fikih, melaksanakan ibadah sunnah tarawih di rumah tetap sah dan berpahala. Bahkan jika diniatkan untuk menghindari kerusakan (mafsadah), seperti penularan covid-19, akan mendapatkan pahala ganda. 

Pahala yang didapat yaitu melaksanakan tarawih berjama’ah bersama keluarga, dan pahala mendahulukan kepentingan serta kemaslahatan ummat dengan partisipasinya mencegah terjadinya penularan.

Perlu disadari bahwa spirit Islam dalam memutus segala macam kerusakan sangat tinggi. Bahkan menjadi tujuan dari pada diturunkannya syari’at itu sendiri (maqasyid al-syari’ah). Dalam kaedah pengambilan kesimpulan hukum Islam, dan ini juga bisa diterapkan dalam mengambil keputusan untuk kemaslahatan bersama, dijelaskan bahwa dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, menolak kerusakan lebih diutamakan dari pada mengambil kemanfaatan. Oleh karenanya, Ramadan di tahun ini akan lebih bermakna dan lebih sempurna jika diiringi dengan semangat ‘jihad sosial’ yang kuat. 

Selain ibadah salat berjamaah di masjid, baik tarawih maupun salat lainnya tidak dapat dilaksanakan, peluang ibadah-ibadah lain di bulan mulia ini masih terbuka lebar. Di dalam rumah kita bisa memperbanyak tilawah al-Quran. Setiap huruf yang dibaca dari al-Quran akan mendatangkan pahala sepuluh kebaikan bagi pembacanya. Bahkan, khusus saat Ramadan pahalanya akan dilipatgandakan lagi, sehingga akan mendatangkan keberkahan-keberkahan bagi pembacanya.    
    
Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam salah satu haditsnya, “Siapa saja yang membaca satu huruf dari al-Quran maka ia akan memperoleh satu kebaikan. Satu kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya sampai sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu sebagai satu huruf, akan tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘laam’ satu huruf, dan ‘miim’ satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
    
Selain itu, di dalam rumah juga bisa diisi dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti memperbanyak zikir kepada Allah, tadabbur ayat-ayat Allah, membaca buku dan lain sebagainya. Artinya, covid-19 yang sekarang sedang mewabah ini tidak menutup pintu-pintu ibadah bagi kita. 

Demikian halnya, walaupun ruang-ruang gerak kita dibatasi dengan adanya kebijakan social and physical distancing, tidak menjadi alasan untuk menurunkan semangat ibadah di bulan suci kali ini.
    
Ibadah-ibadah yang sifatnya fardiyah (individu), seperti dijelaskan di atas, akan lebih sempurna lagi jika ditambah dengan ibadah-ibadah sosial (al-ibadah al-ijtima’iyah). Ramadan di tengah krisis korona seperti saat ini tentu menjadi momentum berharga untuk menguatkan kembali ibadah sosial dengan sesama. 

Bagi yang memiliki kelebihan rezeki, hal ini dapat diwujudkan dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial seperti berbagi makanan dengan sesama, zakat, sedekah, serta menolong orang-orang yang lemah, khususnya bagi mereka yang terdampak akibat pandemi covid-19.
    
Secara ideologis, ajaran untuk saling berbagi di bulan Ramadan telah dikuatkan dalam hadits Nabi, “Barang siapa yang memberi buka orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. Al-Tirmidzi).  

Demikian halnya, keberkahan ibadah puasa tidak akan dicapai bagi orang yang melakukan pelanggaran-pelanggaran sosial, seperti berkata kotor, menghina, berdusta, mengadu domba dan sifat-sifat tercela lainnya. Sebab, ajaran Islam tidak cukup hanya dengan membangun hubungan baik dengan Yang Maha Pencipta (hablun minallah), dengan mengesampingkan hubungan baik dengan manusia (hablun minannas). Bahkan, al-Quran memberikan ancaman kehinaan bagi orang yang tidak melakukan hubungan baik, baik secara vertikal maupun horizontal (QS. Ali Imron: 112).  


 

Baca Juga

MI/MOHAMAD IRFAN

Undang-Undang yang Adil untuk Menekan Kejahatan

👤Xiao Qian Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia 🕔Rabu 08 Juli 2020, 06:05 WIB
BEBERAPA media Barat belakangan ini telah membelokkan fakta mengenai UU Keamanan Nasional Hong...
MI/SUSANTO

Perempuan dan Pengambilan Kebijakan Publik di Parlemen

👤Nihayatul Wafiroh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, F-PKB Dewan Pakar DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia 🕔Rabu 08 Juli 2020, 06:00 WIB
INDONESIA mengenal peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember (saya pribadi lebih menyukai menyebutnya sebagai Hari...
Dok.pribadi

Mengkaji Kebijakan Ekspor Benur Lobster

👤Efriza, Direktur Eksekutif Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) 🕔Selasa 07 Juli 2020, 22:05 WIB
Pola keputusan Presiden Jokowi selalu mengutamakan keseimbangan, berbentuk segitiga dari keputusan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya