Kamis 16 April 2020, 14:59 WIB

Ketidakhadiran Kim Jong-un Picu Spekulasi

 Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Ketidakhadiran Kim Jong-un Picu Spekulasi

AFP/KCNA VIA KNS
Warga Korea Utara diajari sejak lahir untuk menghormati Kim Il Sung dan putra serta penggantinya, Kim Jong Il, ayah dari pemimpin saat ini.

 

KETIDAKHADIRAN diran pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang mencolok dalam peringatan ulang tahun kelahiran kakeknya, Kim Il Sung, minggu ini menimbulkan spekulasi. Para analis menilai ia ingin mempertegas otoritasnya sendiri atas warisan keluarganya.

Ulang tahun 15 April pendiri Korea Utara adalah perayaan paling penting dari kalender politik tahunan negara bersenjata nuklir. Hari kelahirannya juga dikenal sebagai Hari Matahari.

Warga Korea Utara diajari sejak lahir untuk menghormati Kim Il Sung dan putra serta penggantinya, Kim Jong Il, ayah dari pemimpin saat ini. Semua orang dewasa memakai lencana bergambar satu atau kedua pria tersebut.

Tetapi ketidakhadiran Kim dalam laporan resmi peringatan tahun ini membuat para analis berspekulasi dia ingin menjauhkan diri dari 'kultus kepribadian’ yang mengelilingi dinasti yang berkuasa di negara itu.

Kantor berita KCNA tidak menyebutkan nama Kim dalam laporan Kamis (16/4) ketika mengulas pejabat-pejabat senior yang mengunjungi Istana Kumsusan untuk memberikan ‘penghargaan tertinggi’ kepada mendiang dua pemimpin.

Padahal sejak mewarisi kekuasaan pada 2011, Kim selalu berziarah ke makam luas di pinggiran ibu kota di hari ulang tahun kelahiran mereka.

Baca juga: Korut Kembali Tembakkan Sejumlah Rudal

Foto-foto yang beredar Kamis di surat kabar Rodong Sinmun, corong resmi partai yang berkuasa, tidak menunjukkan kehadirannya, meskipun keranjang bunga bertuliskan namanya.

"Kim Jong-un ingin melepaskan diri dari masa lalu, serta kultus kepribadian tradisional Korea Utara," kata Ahn Chan-il, seorang pembelot dan peneliti Korea Utara di Seoul.

"Pesannya adalah masa Kim Jong Il dan Kim Il Sung sudah berakhir," ujarnya kepada AFP.

"Dia ingin menyebut dirinya sebagai pemimpin yang modern dan kompeten, bukan keturunan pendahulunya.

"Dan dia ingin secara bertahap menurunkan idolisasi mendiang dua pemimpin karena bertentangan dengan agendanya untuk mem-brand Korea Utara sebagai ‘negara normal',” tandas Ahn. (CNA/A-2)

Baca Juga

AFP/KEVIN DIETSCH

Trump Tegaskan tidak Sepakat dengan Fauci Soal Covid-19 di AS

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 08 Juli 2020, 07:59 WIB
Trump menyebut Fauci mengatakan banyak hal termasuk sejumlah nasehat yang tidak...
AFP/Oliver BUNIC

Ribuan Warga Serbia Protes Pemberlakuan Kembali Jam Malam

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 08 Juli 2020, 07:28 WIB
Para demonstran yang juga menyalakan suar dan melemparkan batu ke arah polisi berteriak meminta Presiden Aleksandar Vucic agar mengundurkan...
AFP/Josep LAGO

Catalonia Tuntut Aturan Tegas Pemakaian Masker

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 08 Juli 2020, 07:09 WIB
Pada Sabtu (4/7), sebanyak 200 ribu orang di zona sekitar Lerida, barat Barcelona, di-lockdown setelah lebih dari 1.000 kasus covid-19...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya