Kamis 16 April 2020, 05:00 WIB

Langganan Pijat yang Datang pun Sepi

(Syarief Oebaidillah/H-1) | Humaniora
Langganan Pijat yang Datang pun Sepi

MI/SYARIEF OEBAIDILLAH
TERDAMPAK COVID-19: Ketua Persatuan Tunanetra Asri (Pertunas) Tamam (kedua dari kanan)

 

MEREBAKNYA wabah covid-19 di Tanah Air berdampak pada aktivitas kehidupan sehari-hari bagi semua masyarakat, tak terkecuali kepada kalangan disabilitas, khususnya penyandang tunanetra. Bagi Ngadiyem, 53, yang seharihari berprofesi sebagai pemijat di kediamannya Kampung Utan, Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat  Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, wabah virus korona juga melibas penghasilannya yang turun drastis.

"Sekarang kami semua bingung, hampir tidak ada orang pijat setiap harinya. Saya mesti bagaimana?" Keluh suara Ngadiyem di telepon genggam saat dihubungi Media Indonesia, kemarin. Ngadiyem mengaku kondisi serupa ini juga dialami rekan-rekannya tunanetra.

Untuk mendapat uang harian, Ngadiyem seminggu lalu mencoba keberuntungan dengan berjualan kerupuk bangka di dekat Stasiun Kereta Pondok Ranji. Seusai waktu asar ia diantar anaknya, Diah, 22, ke stasiun dan menjelang magrib pulang. Alhasil, sama juga seperti pekerjaannya sehari-hari yang sepi pengunjung.

Akhirnya sekarang Ngadiyem berhenti berjualan kerupuk. Nganggur di rumah tak tahu apa yang hendak diperbuat. "Bukannya saya tidak mau kerja, Mas. Tapi pekerjaan yang saya jalani setiap hari sekarang sepi," ujar ibu dua anak asal Purworejo, Jawa Tengah, yang sejak usia 5 tahun menderita kebutaan ini.

Derita Ngadiyem semakin bertambah sebab Diah kini juga tengah menganggur. Tempatnya bekerja sebagai karyawan toko di Mal Bintaro terpaksa tutup akibat wabah covid-19 ini. Ngadiyem berharap ada pihakpihak yang berlebih harta mau membantu keluarganya. "Hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah kepada kami," ujarnya seraya berharap wabah virus korona segera berakhir. Ketua Persatuan Tunanetra Asri (Pertunas) Tamam berharap senada agar bantuan pemerintah dapat dirasakan bagi para anggotanya yang tersebar di Jabodetabek. "Jumlah anggota kami ribuan dan semuanya terdampak,  penghasilan turun drastis," pungkasnya.

Tamam menambahkan, para anggotanya sebagian besar bekerja secara mandiri. Persaingan sebagai pemijat semakin ketat dengan adanya operator yang membuka aplikasi daring pijat yang diisi pemijat non-tunanetra. Namun, ada rasa syukur di tengah kesulitan hidup saat ini masih ada beberapa kalangan swasta yang peduli berbagi kepada beberapa anggota Pertunas dengan memberikan paket sembako, di antaranya dari Medco Foundation, Daarut Tauhiid, serta sejumlah donatur lainnya. (Syarief Oebaidillah/H-1)

Baca Juga

Dok. BNPB/Medcom.id

Tes Spesimen Lampaui 22 Ribu Sampel per Hari

👤Ifa/Ant/X-7 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:37 WIB
Per Rabu (8/7) kita telah melakukan pemeriksaan 22.183 spesimen. Rinciannya, 177 laboratorium PCR dan 114 laboratorium...
MI/Adam Dwi

Trie Utami Album Krakatau Akustika Jadi Obat Kangen

👤MI 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:30 WIB
ERA kenormalan baru menjadi tak terbantahkan. Begitu pula bagi grup band lawas...
Medcom.id

Banyak RS masih Patok Tarif Lebihi Ketentuan Baru

👤Ins/Ata/DW/PO/X-6 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:24 WIB
 Betapa terlambat, Dirjen Yanmed menetapkan biaya tes cepat antibodi maksimal Rp150 ribu. Bagaimana dengan biaya tes...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya