Senin 13 April 2020, 08:10 WIB

Ketika Gelombang Mudik tidak Terbendung

Faisal Basri Ekonom | Kolom Pakar
Ketika Gelombang Mudik tidak Terbendung

MI/ROMMY PUJIANTO

JAKARTA adalah episentrum wabah virus korona di Indonesia. Sekitar separuh kasus terkonfi rmasi (confirmed cases) dan jumlah kematian disumbang Jakarta (lihat grafik 1).

 

Jika pusat episentrum diperluas dengan memasukkan kota/ kabupaten di sekitar Jakarta atau Jabodetabek (Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi), porsinya mencapai sekitar 70%.

Oleh karena itu, keberhasilan mengendalikan penyebaran virus korona covid-19 secara nasional sangat bergantung pada penanganan di Jabodetabek. Jangan sampai medan pertempuran meluas dan masif ke seluruh penjuru Tanah Air. Walaupun virus korona telah menyebar ke 32 provinsi, kita masih punya waktu untuk meredamnya jika episentrum virus tersebut bisa ditaklukkan.

Tidak terbayangkan jika penyebaran kian merata ke seluruh provinsi mengingat daya dukung kita sangat terbatas. *Jumlah dokter per 1.000 penduduk di Indonesia sangat sedikit dan jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga. Untuk jumlah perawat dan bidan, Indonesia hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Vietnam dan Iran (lihat grafik 2 dan 3).

 

Jumlah tempat tidur di rumah sakit pun sangat terbatas (lihat grafik 4).

Masalah semakin pelik karena persebaran dokter, perawat, dan tempat tidur di rumah sakit tidak merata. Lebih mengkhawatirkan lagi kondisi di daerah-daerah tujuan mudik utama. Jumlah dokter per 10.000 penduduk di semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional, dengan Jawa Barat yang paling parah (lihat grafik 5).

Untuk jumlah perawat (tidak termasuk bidan) per 10.000 penduduk, Jawa Barat menduduki peringkat terbawah. Jawa Timur dan Lampung di bawah rerata nasional, sedangkan Jawa tengah sama dengan rerata nasional (lihat grafik 6).

Ketersediaan tempat tidur rumah sakit sama mengkhawatirkannya. Semua tujuan mudik utama di bawah rerata nasional (lihat grafik 7). Jadi bisa dibayangkan betapa akan tunggang-langgang daerahdaerah tujuan utama mudik jika mengalami ledakan wabah virus korona yang dibawa pemudik dari pusat episentrum Jabodetabek.

Belum terlambat untuk menerapkan strategi nasional dengan kehadiran komandan perang di pusat medan laga. Sejauh ini, pemerintah daerah di Jabodetabek sudah amat sadar akan bahaya yang menghadang, bukan saja terhadap penduduk mereka, melainkan juga bagi kepentingan nasional.

Jabodetabek butuh panglima perang. Juga Indonesia, tentunya. Teramat berat rasanya kalau diserahkan kepada setiap kepala daerah dan kerja sama sesama mereka semata. Sekali lagi, ini bukan persoalan Jabodetabek, melainkan sudah menjadi persoalan nasional yang genting.

Sekalipun Jakarta sudah mulai kewalahan, bagaimanapun kesiapan Jakarta jauh lebih baik ketimbang daerah-daerah tujuan utama mudik. Semoga ini jadi pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang hendak mudik.

Baca Juga

MI/FAISHOL TASELAN

Konsekuensi Perppu Nomor 2 Tahun 2020

👤Ramlan Surbakti Guru Besar Perbandingan Politik, FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia 🕔Senin 11 Mei 2020, 07:00 WIB
Pemangku kepentingan yang dimaksud, terutama, pemerintah pusat dan daerah, aparat keamanan Polri dan TNI, partai politik dan pasangan...
Dok. CORE Indonesia

Setumpuk Catatan Kartu Prakerja

👤Piter Abdullah Redjalam Direktur Riset CORE Indonesia, Dosen Perbanas Institute 🕔Senin 04 Mei 2020, 06:50 WIB
Pelatihan dihilangkan. Pilihan kedua, pemerintah menunda pelaksanaan kartu prakerja hingga wabah korona...
Dok. Pribadi

Antisipasi Krisis Pangan Baru

👤Bustanul Arifin Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Ekonom Senior Indef 🕔Senin 27 April 2020, 07:40 WIB
Surplus beras yang diperoleh pada musim panen rendeng akan terus terpakai atau dikonsumsi, karena panen akan jauh berkurang sejak Juli...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya