Rabu 08 April 2020, 04:55 WIB

Jeda Korona

Yudi Latif, Cendekiawan | Opini
Jeda Korona

ANTARA/Agus Bebeng/Medcom.id
Yudi Latif, Cendekiawan

WABAH korona memaksa kita jeda, peringatan alam agar pulihkan ingatan pada lupa.

Dalam rutinitas perburuan duniawi, manusia merasa pusat segala, abaikan ketersambungan dengan sesuatu yang lebih besar di luar diri.

Saat korona menyergap, barulah kita tersadar, nyawa bisa diambil; bernapas tak selalu cuma-cuma; harta tak bisa buat berfoya; rumah ibadah tak bisa dimasuki; segala ras tanpa kecuali; segala jabatan tanpa hak istimewa. Segala adidaya tanpa hak veto.

Ternyata, semua diri tersambung. Harmoni dan lestari hanya bisa dijaga dengan merawat relasi kasih dengan sang pencipta, sesama
manusia dan alam semesta.

Kebenaran dan kesejatian itu seperti bintang yang tak dapat dilihat kecuali di gelap malam. Dalam terang kehidupan normal, manusia sulit mengenali kebenaran hakiki. Kesejatian tersamar ornamen pernak-pernik penampilan. Saat zaman kelam datang, barulah kita kenali mana
yang benar sejati, mana yang palsu manipulasi.

Bisa kita saksikan, saling tuding sesama warga masih berkobar saat solidaritas diperlukan. Saling bantah sesama pejabat masih tergelar saat kekompakan harus dikuatkan.

Dalam impitan krisis, negeri berlimpah ini pertaniannya tak bisa penuhi pangan; industrinya tak bisa penuhi alat kesehatan; rantai pemerintahannya lemah keterpaduan.

Ada saat yang menguji kesejatian manusia. Laku lebih dimuliakan di atas kata. Para aktor pengobral kata kehilangan panggung. Penonton berpaling pada pekerja belakang layar, yang sepi pamrih, rame gawe. Petugas medis, relawan, dan dermawan yang kepahlawanannya menyalakan harapan di tengah kelam.

Bila tak bisa memberi cahaya bagi yang lain, setidaknya tidak memadamkan lampu sekeliling. Tetaplah di rumah, perkuat simpul keluarga. Tengoklah ke dalam mengaca diri. Rentangkan solidaritas dengan berbagi.

Ada saatnya untuk jeda. Sesungguhnya bejana kehidupan yang penuh rutinitas susah menerima pengisian. Hati yang mengejuju jenuh jadi ringkih depresi. Organ yang terus dipacu mudah lapuk. Jadikan disrupsi korona sebagai momen hibernasi bagi kelahiran baru.

Baca Juga

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.

Kerja Besar Gugus Tugas

👤Andre Rahadian Ketua Tim Koordinator Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Ketua Umum ILUNI Universitas Indonesia 🕔Selasa 02 Juni 2020, 06:00 WIB
SEJAK menandatangani Keppres pada 13 April 2020 dengan No 12/2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019...
Dok. MI/ Seno

Menuju Normalitas Baru Pancasila

👤Syaiful Arif Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila 🕔Selasa 02 Juni 2020, 05:45 WIB
PERINGATAN Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni berbarengan denganpembukaan normalitas baru (a new normality) di musim...
ANTARA/Agus Bebeng/Medcom.id

Normalitas Pancasila

👤Yudi Latif Cendekiawan 🕔Selasa 02 Juni 2020, 05:04 WIB
Situasi normal artinya menggambarkan kondisi kelaziman keteraturan. Masalahnya, kelaziman keteraturan itu bisa terperangkap ke dalam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya