Selasa 07 April 2020, 20:05 WIB

Raup US$4,3 M, Bonds Terbesar dan Terlama dalam Sejarah Meluncur

M Ilham Ramadhan | Ekonomi
Raup US$4,3 M, Bonds Terbesar dan Terlama dalam Sejarah  Meluncur

Antara/Wahyu Putro
Menteri Keuangan Sri Mulyani

 

Pemerintah Indonesia berhasil menerbitkan tiga Surat Berharga Negara (SBN) di pasar global dengan total nilai yang berhasil diperoleh mencapai US$4,3 miliar atau sekitar Rp69 triliun (kurs Rp16.125). 

Tiga SBN itu memiliki seri RI1030, RI1050 dan RI0470 sebagai seri teranyar yang dilelang.

Pada seri RI1030 pemerintah mendapatkan dana sebesar US$1,65 miliar dengan yield 3,9% dan jatuh tempo pada 15 Oktober 2030. Di seri RI1050 pemerintah mendapatkan dana sebesar US$1,65 miliar dengan yield 4,25% dan jatuh tempo pada 15 Oktober 2050. Di seri RI0470 dana yang diterima sebesar US$1 miliar dengan yield 4,5% dan tenornya 50 tahun.

"Kami menerbitkan ini untuk menjaga pembiayaan secara aman dan sekaligus juga menambah cadangan devisa bagi Bank Indonesia. Pemanfaatan dari penerbitan ini sangat positif, di tengah turbulensi dari pasar global. Ini adalah penerbitan terbesar di dalam sejarah penerbitan USD Bonds  Indonesia," tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui video conference, Selasa (7/4).

Ia menambahkan, tenor 50 tahun pada SBN seri RI0470 merupakan capaian positif yang dilakukan pemerintah Indonesia. Pasalnya sejak covid-19 ditetapkan sebagai pandemi, di level Asia, baru Indonesia yang mampu menerbitkan bond dengan tenor terlama.

Selain itu, berhasilnya lelang tiga SBN di pasar global itu disebut sebagai cerminan dari kepercayaan investor global pada pemerintah Indonesia.

"Ini secara implisit menunjukkan kepercayaan investor terhadap track record dari kondisi ekonomi dan pengelolaan keuangan negara," jelas perempuan yang karib disapa Ani itu.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyatakan, pemerintah menyasar tenor 50 tahun karena melihat preferensi dari investor global pada tenor jangka panjang. Dengan begitu Indonesia dapat mendapatkan dana yang diinginkan dengan tingkat bunga rendah.

Penerbitan tiga bond itu, kata Ani, merupakan strategi bendahara negara untuk mengombinasikan surat utang negara domestik yang berdenominasi rupiah dengan denominasi valas. Sebab, tenor dari SUN domestik acap kali hanya memiliki tenor jangka pendek dikisaran 5 tahunan.

Dengan kata lain, terbitnya SBN yang memiliki jatuh tempo 50 tahun itu dapat mendongkrak kurva tenor jangka menengah panjang yang cenderung flat.

"Tentu kita menggunakan tenor 50 dalam rangka untuk meng-capitalize kurva tenor jangka panjang yang cenderung flat. Ini artinya perubahan dari yield di tenor jangka panjang itu tidak terlalu besar. Sehingga dia menyebabkan biaya menjadi tidak terlalu meningkat," imbuh Ani.

"Jadi kondisi saat ini yang sangat very volatile, kita mampu mendapatkan pricing yang lebih rendah. Ini adalah sesuatu yang cukup positif. Bahkan penerbitan tenor 50 tahun ini lebih rendah dibanding tenor 10 tahun yang diterbitkan pada 2018," sambungnya.

Penerbitan bond global tersebut merupakan bagian dari respon pemerintah Indonesia dalam mengangani dan mengatasi dampak ekonomi dari pandemi covid-19. Instrumen tersebut juga dinilai sebagai instrumen paling aman dan memiliki risiko paling kecil untuk mendompleng pembiayaan pemerintah.

Pasalnya karena pandemi tersebut, Ani merombak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Penerimaan negara diperkirakan akan turun 10% atau hanya 78,9% setara Rp1.760 triliun dari target awal yang dipatok dalam APBN sebesar Rp2.233,2 triliun.

Sedangkan belanja negara meningkat menjadi Rp2.613,8 dari sebelumnya sebesar Rp2.504,4 triliun. Naiknya anggaran belanja itu karena pemerintah tengah memfokuskan untuk penanganan covid-19.

Alhasil defisit APBN 2020 melebar menjadi Rp853 triliun atau 5,07% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Bengkaknya defisit tersebut merupakan dampak beruntun dari pandemi covid-19 di Indonesia.

"Kita akan terus menjaga APBN secara hati-hati, kami berkomitmen untuk menempatkan APBN sebagai instrumen pemerintah untuk melindungi masyarakat Indonesia dan ekonomi," pungkas Ani. (E-1)

Baca Juga

Istimewa

Tips agar Bisnis Berkelanjutan Dalam Pandemik Covid-19

👤Muhammad Fauzi 🕔Selasa 02 Juni 2020, 21:50 WIB
PANDEMIK Covid-19 membawa perubahan dalam bisnis kedepan. Khususnya dalam perilaku konsumen dan...
Dok Setpres

Presiden Bersyukur Perekonomian masih Bertumbuh

👤Nur Azizah 🕔Selasa 02 Juni 2020, 20:42 WIB
Selain aktivitas perekonomian, tempat ibadah pun akan segera dibuka secara...
Antara/Hafidz Mubarak

Luhut: Ekspor Besi dan Baja Bantu Ekonomi Indonesia

👤Despian Nurhidayat 🕔Selasa 02 Juni 2020, 20:36 WIB
Saat ini, sejumlah kontributor utama PDB mengalami pelemahan. Mulai dari perdagangan, pertanian, konstruksi, hingga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya