Selasa 07 April 2020, 12:23 WIB

Di Filipina, Pelanggar Lockdown akan Ditembak

Fajar Nugraha | Internasional
Di Filipina, Pelanggar Lockdown akan Ditembak

AFP/Ted ALJIBE
Seorang warga menggunakan pelindung wajah dari galon air mineral berjalan di Manila, Filipina.

 

PENERAPAN lockdown atau penutupan menyeluruh di Filipina berlangsung sangat keras. Presiden Filipina Rodrigo Duterte menegaskan setiap pelanggar akan ditembak mati.

Ancaman itu terbukti. Seorang pria ditembak mati di Filipina karena melanggar aturan lockdown tersebut. Ini adalah kasus pertama yang dilaporkan negara saat warga sipil menolak mengikuti pembatasan untuk menghentikan virus korona.

“Pria berusia 63 tahun ditembak mati di Filipina setelah mengancam para pejabat desa dan polisi dengan sabit di pos pemeriksaan virus korona,” kata polisi, Sabtu (4/4).

Baca juga: Langgar Lockdown, Menkes Selandia Mengaku Idiot

Laporan polisi menyebutkan pria itu diyakini mabuk ketika mengancam para pejabat desa dan polisi yang menjaga pos pemeriksaan di Kota Nasipit di Provinsi Agusan del Norte.

"Tersangka itu diperingatkan oleh petugas kesehatan desa karena tidak mengenakan masker. Tapi tersangka marah, mengucapkan kata-kata memprovokasi dan akhirnya menyerang personel menggunakan sabit,” ujar pihak kepolisian, seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (6/4).

Tersangka ditembak mati oleh seorang polisi yang berusaha menenangkannya. Insiden ini adalah kasus pertama yang dilaporkan polisi menembak warga sipil karena menolak mengikuti pembatasan untuk mengekang penyebaran virus korona.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memperingatkan pada Rabu (1/4) bahwa ia akan memerintahkan polisi dan militer untuk menembak siapa saja yang membuat masalah.

"Ikuti pemerintah saat ini karena sangat penting bagi kami untuk memberikan perintah,” katanya dalam pidato nasional televisi larut malam.

"Dan jangan membahayakan pekerja kesehatan, para dokter karena itu adalah kejahatan serius. Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah, dan hidup mereka dalam bahaya: tembak mereka mati,” tegasnya.

Pulau utama Luzon di Filipina telah ditutup selama sebulan sejak 16 Maret, melarang orang meninggalkan rumah mereka kecuali untuk perjalanan penting ke toko kelontong atau apotek, atau jika mereka adalah pekerja kesehatan yang berada di garis depan.

Banyak provinsi di luar Luzon juga memberlakukan pembatasan mereka sendiri dalam upaya untuk mencegah penyebaran virus.

Departemen kesehatan melaporkan 3.660 warga Filipina terinfeksi virus korona covid-19. Korban meninggal dilaporkan 163 jiwa dan 73 lainnya berhasil sembuh.

Duterte membela peringatannya terhadap pembuat onar di pidato televisi larut malam lainnya pada Jumat. Menurutnya, masyarakat perlu menyadari gawatnya situasi karena siapa pun dapat sakit karena penyakit itu.

"Tanpa pembatasan ini, ini tidak akan berakhir. Jadi, jika kamu tidak mau mengikuti, maka aku akan menghabisimu untuk melindungi nyawa orang tak bersalah yang tidak ingin mati,” pungkas Duterte. (OL-1)

Baca Juga

AFP/Mark Mitchell

Sedang Wawancara Langsung Saat Gempa, Ardern tidak Panik

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 25 Mei 2020, 08:17 WIB
Getaran terasa di Wellington, tempat Ardern diwawancarai untuk sebuah program pagi televisi dari gedung...
AFP/THOMAS COEX

Prancis Laporkan Kenaikan Kasus Covid-19 Terendah Sejak Lockdown

👤Antara 🕔Senin 25 Mei 2020, 07:47 WIB
Meskipun jumlah kasus penularan di Prancis masih bertambah, pemerintah Prancis sudah memberikan kelonggaran bagi umat beragama untuk...
AFP/STR

Korupsi Saat Pandemi, Mantan Menkes Bolivia Ditahan

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 25 Mei 2020, 07:45 WIB
Mantan Menkes Bolivia Marcelo Navajas menggelembungkan biaya pembelian ventilator yang digunakan untuk merawat pasien...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya