Minggu 05 April 2020, 09:05 WIB

Jenazah tidak Tularkan Virus

Ata/Aiw/RF/J-1 | Humaniora
Jenazah tidak Tularkan Virus

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)/Tim MI
Proses Pemulasaraan Jenazah Pasien Covid-19 (Fatwa MUI)

 

FENOMENA penolakan pemakaman jenazah pasien positif virus korona (covid-19) terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Hal itu terjadi karena masyarakat belum paham betul tentang penanganan jenazah pasien covid-19.

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan UGM, Tri Wibawa, mengatakan masyarakat tidak menolak jenazah pengidap covid-19 karena rumah sakit menangani jenazah sesuai panduan medis.

“Dengan menjalani semua prosedur pemakaman jenazah covid-19 sesuai guideline dari Kemenkes, Kemenag, dan MUI, tidak akan menimbulkan penularan,” kata Tri Wibawa dalam pernyataan tertulis, kemarin.

Pakar mikrobiologi ini menjelaskan, ketika jenazah dibungkus dan dikubur, virus akan ikut mati. Saat orang meninggal, selnya mati sehingga virus tidak akan berkembang. Sifat virus dalam jenazah sama dengan virus yang ada di tanah, lantai, ataupun barang yang akan mati dalam waktu tertentu. “Perlakuan yang sama juga diperuntukkan bagi jenazah berstatus PDP yang hasil pemeriksaan laboratorium covid-19 belum keluar,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Rumah Sakit Jakarta Sukapura Umi Sjarqiah menegaskan jenazah pasien covid-19 tidak menularkan virus kepada pengurus jenazah dan masyarakat bila pemulasaraannya benar.

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menjelaskan, MUI telah mengeluarkan fatwa terkait dengan proses pemulasar aan jenazah pasien covid-19.

Asorun menegaskan, dalam pemulasaraan jenazah pasien covid-19, masyarakat memperhatikan aspek agama dan memastikan pemulasaraan dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan.

“Proses memandikan, dianjurkan pengucuran air ke seluruh tubuh. Jika tidak dimungkinkan, ditayamumkan. Kalau tidak dimungkinkan juga, langsung dikafankan,” kata Asrorun.

Proses pengafanan juga demikian. Proses pengafanan harus didahului dengan melapisi jenazah menggunakan plastik, kafan, lalu dilapisi lagi dengan plastik.

“Setelah jenazah dikafani, dimasukkan ke peti jenazah yang aman dan tidak tembus air untuk mencegah penyebaran virus dan keselamatan
petugas,” tutur Asrorun.

Salat jenazah bisa dilakukan minimal satu orang muslim. Jika tidak dimungkinkan, salat jenazah dapat diganti dengan salat gaib yang dilakukan di rumah. “Hal ini bagian dari hak jenazah yang harus kita lakukan. Jangan sampai akibat kekhawatiran minus pengetahuan malah kemudian kita berdosa,” tandasnya. (Ata/Aiw/RF/J-1)

Baca Juga

Shutterstock/Medcom.id

Di Zona Merah Siswa dan Guru Tetap Belajar Jarak Jauh

👤Aiw/X-7 🕔Rabu 27 Mei 2020, 07:20 WIB
Keselamatan anak-anak harus menjadi pertimbangan utama saat pemerintah hendak memgambil kebijakan menyangkut...
Istimewa/Medcom.id

Acara Halalbihalal IPDN Abaikan PSBB

👤Che/X-10 🕔Rabu 27 Mei 2020, 07:10 WIB
Acara halalbihalal IPDN di tengah suasana pandemi covid-19 itu berlangsung di Balairung Rudini, yang dihadiri seluruh mahasiswa...
MI/SUMARYANTO BRONTO

Memaknai Lebaran di Tengah Pandemi

👤SUMARYANTO BRONTO 🕔Rabu 27 Mei 2020, 06:35 WIB
Mereka memilih untuk melaksanakan salat Id di atap indekos mereka dengan menjaga jarak dan tetap mengenakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya