Kamis 02 April 2020, 07:50 WIB

Jangan Senang Dulu walau Negatif

Davin HE Setiamarga Associate Professor of Molecular Biology, National Institute of Technology, Wakayama College (NITW/Wakayama Kosen), Jepang, Anggota I4 Asia Timur, dan Anggota Diaspora Cendekiawan | Opini
Jangan Senang Dulu walau Negatif

Dok. Pribadi

SEBELUMNYA (Media Indonesia, 16/3/2020) saya sudah menekankan bahwa hanya uji genetik berbasis polymerase chain reaction (PCR) yang mampu mendeteksi pasien virus korona baru (covid-19) secara akurat dan perlunya Indonesia melakukan mass testing (uji massal).

Tes PCR ini langsung mendeteksi keberadaan materi genetik virus dalam tubuh. Namun, setelahnya, media massa memberitakan bahwa Indonesia akan melakukan mass testing covid-19 dengan cara rapid detection test (RDT) dan sudah membeli 1 juta unit alat RDT dari Tiongkok.

Detiknews (29/3) melaporkan hasil uji RDT pertama pada masyarakat, yaitu 121 positif dan 10.338 negatif. Apa itu uji RDT dan bisa dipercayakah hasilnya?

Uji cepat RDT itu berbasis reaksi antigen-antibodi (serologi), bukan PCR. Ketika SARS-CoV-2 (coronavirus penyebab covid-19) masuk ke tubuh, tubuh akan perlahan-lahan membentuk antibodi khusus yang mengenali dan memerangi hanya SARS-CoV-2. Uji cepat RDT menggunakan konsep interaksi antara antibodi dan bagian protein si kuman yang disebut antigen. Konsep ini disebut juga konsep serologi.

Caranya, dibuat sensor biologis yang permukaannya dilapisi protein buatan, yang strukturnya sama dengan protein antigen yang dimiliki SARS-CoV-2. Ketika sensor ditetesi darah pasien covid-19, akan terjadi reaksi serologi antara protein antigen pada sensor dan antibodi dalam sampel darah.

Hasil reaksi ini divisualisasikan dengan reaksi pemberian zat warna yang menyebabkan munculnya garis berwarna pada sensor bila positif. Hasil akan keluar dalam hitungan menit (sekitar 15 menit), jauh lebih cepat dari uji PCR yang membutuhkan 6-8 jam jika dikerjakan manual (1-3 jam jika menggunakan cara rapid RT-PCR). 

     

Butuh waktu

Masalahnya, akurasi uji RDT serologi covid-19 belum diketahui karena tidak ada satu pun yang sudah lolos uji klinis di negara mana pun. Yang pasti jauh lebih rendah dari uji PCR. Mengapa demikian? Pertama, proses pembentukan antibodi di dalam tubuh membutuhkan waktu.

RDT baru bisa menunjukkan tertular atau tidaknya seseorang oleh covid-19 hanya setelah jumlah antibodi dalam tubuh cukup banyak dan bisa terdeteksi sensor (setelah 7-14 hari sesudah penularan). Jadi, ketika jumlah virus dalam tubuh sudah cukup banyak, gejala sudah timbul dan si pasien bersifat menular. Berarti jika seseorang diuji RDT pada hari ketiga sesudah penularan, hasilnya akan negative, tapi palsu (false negative). Uji PCR lebih mampu mendeteksi keberadaan virus pada masa awal ini.

Kemudian, antibodi akan terus berada dalam tubuh setelah si pasien sembuh sehingga si pasien akan terdeteksi positif palsu (false positive) oleh uji RDT. Penyebab false positive yang lain ialah adanya kemungkinan potongan protein SARS-CoV-2 yang digunakan pada sensor ternyata tidak seunik yang diharapkan.

Akibatnya, orang-orang yang tertular virus lain bisa false positive juga. Misalnya, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat mengatakan adanya kemungkinan hasil RDT false positive (sekitar 8%-10%) terhadap jenis coronavirus yang lain, seperti SARS dan MERS.

Sebaliknya, uji PCR sangat spesifik (di atas 95%) karena menguji langsung materi genetik virus. Itu sebabnya manfaatkan RDT berbasis serologi dengan hati-hati dan tepat.

 

Minimal tiga kali

Business Insider (26/3) melaporkan bahwa keakuratan alat RDT produksi Tiongkok yang digunakan di Spanyol hanya sekitar 30%. Sebenarnya ini tidak mengejutkan karena uji cepat serologi influenza pun keakuratannya hanya berkisar antara 30%-70%. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengatur supaya uji RDT dilakukan beberapa kali, minimal tiga kali untuk pasien yang hasil ujinya negatif.

Perlu diambil interval antartes sekitar lima hari sehingga tes ketiga dilakukan di hari ke-14. Jika hasil tes terakhir negatif dan si teruji melaksanakan social distancing dan isolasi diri dengan ketat, dia boleh dinyatakan negatif.

Jika hasil tes pertama atau ke berapa pun positif, si teruji harus segera di tes PCR dan dijadikan pasien dalam pengawasan (PDP). Suatu makalah di jurnal JAMA (27/2) melaporkan adanya pasien yang masih menjadi carrier SARS-CoV-2, bahkan pada hari ke-13 setelah dinyatakan sembuh. 

Jika dilaksanakan dengan hati-hati, selain memberikan info masif tentang sebaran pasien positif covid-19 yang bergejala ringan ataupun parah, tes ini juga bisa memberikan info tambahan. Misalnya, hasil uji RDT ini bisa memberikan info mengenai orang yang sudah sembuh dan memiliki antibodi yang mungkin bisa 'dipanen' untuk riset pengembangan vaksin.

Uji RDT juga bisa dilaksanakan di setiap port-of-entry sebagai skrining awal bagi para pelancong asing yang akan masuk ke Indonesia. Juga pemerintah mungkin bisa bernegosiasi dengan perusahaan asing produsen alat RDT untuk menekan harga karena Indonesia menggunakan alat-alat ini dalam jumlah besar, yang berarti membantu perusahaan tersebut menekan biaya uji klinis. Terakhir, data uji RDT juga harus dibuka untuk umum sehingga akan menjadi kontribusi Indonesia dalam perang global melawan covid-19.

Jadi, Anda jangan senang dulu ketika hasil uji RDT Anda negatif. Belum tentu Anda tidak tertular sehingga Anda masih harus melakukan isolasi diri dan mengarantina anggota keluarga. Kemudian, melaksanakan social distancing setidaknya sampai Anda melakukan tes yang ketiga kalinya di hari ke-14. Jangan malah mudik atau nongkrong di mal.

Baca Juga

Dok.Pribadi

Presiden Jokowi Perlu Marah dan Sedih

👤Makmur Sianipar, Konsultan Bisnis dan Manajemen, tinggal di Bogor 🕔Rabu 27 Mei 2020, 14:55 WIB
Dalam kondisi ini sangat tidak beradab bila masih ada yang menganggap remeh pandemi...
Dok. Pribadi

Diversifikasi Pangan di Idul Fitri

👤Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian 🕔Rabu 27 Mei 2020, 07:50 WIB
Secara pasti, diversifikasi pangan dengan pilar pangan lokal perlu didukung dengan promosi dan gerakan ketahanan pangan...
Dok. Pribadi

Sinergisitas Perempuan Politik

👤Netty Prasetiyani Heryawan Anggota Komisi IX DPR RI Dewan Pakar DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia 🕔Rabu 27 Mei 2020, 07:40 WIB
Bagaimana mungkin perempuan tidak terlibat dalam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya