Rabu 01 April 2020, 17:54 WIB

Kemenristek/BRIN Tambah Anggaran untuk Riset Covid-19

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Kemenristek/BRIN Tambah Anggaran untuk Riset Covid-19

AFP
Peneliti di Denmark sedang mengerjakan vaksin untuk bisa menghadapi virus korona (covid-19).

 

KEMENTERIAN Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) membentuk konsorsium riset dan inovasi guna mencegah, mendeteksi, dan merespon wabah Covid-19.

Konsorsium itu terdiri dari lembaga riset di bawah BRIN dan perguruan tinggi.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan, dalam kegiatan penelitian, pengembangan, Pengkajian dan penerapan (litbangjirap) covid-19 ini akan menggunakan fasilitas riset yang sudah ada dan memakai anggaran awal sebesar Rp40 miliar yang sudah disiapkan dari realokasi belanja operasional Kemenristek/BRIN.

“Terakhir (anggaran) sudah ditambah Rp20 miliar, utamanya untuk mendukung kegiatan Eijkman. Fasilitas laboratorium dan peralatan yang ada sudah cukup memadai,” kata Bambang saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (1/4).

Bambang menuturkan, ada tiga target yang harus dicapai oleh konsorsium Covid-19 yakni target jangka pendek, menengah, dan panjang. Target ini di antaranya menemukan alat deteksi atau diagnosis, suplemen, obat, dan vaksin Covid-19.

Prioritas jangka pendek berfokus pada penelitian dan kajian sistematik (systematic review) terhadap berbagai aspek dari Covid-19, termasuk di dalamnya penelitian terkait bahan alami yang berpotensi untuk meningkatkan imun tubuh untuk mencegah Covid-19, seperti jahe merah dan jambu biji. Penelitian terhadap jambu biji pun sudah memiliki hasil yang potensial untuk dilanjutkan pada uji klinis.

Di samping itu, dalam jangka pendek, konsorsium Covid-19 juga melakukan pengembangan alat pelindung diri (APD), masker, hand sanitizer, dan sterilization chamber (tenda sterilisasi coronavirus) yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya petugas medis. 

Kemudian dilakukan pula penelitian terhadap aspek sosial humaniora, termasuk ketahanan (resiliensi) dan perilaku masyarakat, perbandingan kebijakan dan manajemen covid-19 di negara lain, analisis ekonomi makro dan mikro di Indonesia, isu terkait Covid-19 di media sosial, public health modelling, serta proyeksi dan prediksi grafik dan peta spasial dari penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Bambang menambahkan, BPPT dan beberapa perguruan tinggi seperti ITB, ITS, dan UGM, sedang melakukan rekayasa balik (reverse engineering) untuk ventilator yang juga sedang dibutuhkan untuk menangani pasien Covid-19. Proyek ini turut menggandeng BUMN, PT LEN Industri untuk tahap produksi.

“Mereka sudah mulai beberapa saat lalu bekerjasama dengan Kementerian BUMN. Mudah-mudahanan dalam sebulan sudah ada yang bisa diproduksi dan harus lolos uji Kemenkes. Sasarannya (distribusi) untuk rumah sakit rujukan Covid-19,” imbuhnya.

Selanjutnya, prioritas jangka menengah yang fokus pada pengembangan dan pengajian rapid test kit untuk covid-19 baik untuk deteksi awal dan akhir, pengembangan suplemen, multivitamin, dan immune modulator dari berbagai tanaman Indonesia, salah satunya jambu biji. 

Kemudian pengembangan robot layanan (service robot) untuk ruangan dengan infeksi Covid-19 yang tinggi, dan smart infusion pump untuk memasukkan obat dalam tubuh pasien Covid-19.

Sedangkan prioritas jangka panjang fokus pada pengkajian dan pengembangan obat dan vaksin, termasuk avigan, chloroquin, hingga kina. Riset ini akan dilaksanakan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute bersama Universitas Airlangga.

Hingga saat ini sudah ada beberapa inovasi yang dihasilkan oleh LPNK dalam lingkungan Kemenristek/BRIN. Salah satunya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mencakup Airborne Sterilizer yang mampu mengeluarkan NanoOzone yang dapat menangkap dan menghancurkan Covid-19 di udara. Kemudian, Mobile Disinfection Chamber atau tenda disinfeksi coronavirus, alat sterilisasi coronavirus untuk uang kertas dan logam, serta alat pelindung diri (APD) ramah lingkungan (biodegradable) bagi tenaga kesehatan dalam mencegah COVID-19 yang mencakup jas laboratorium, penutup kepala, dan masker.

Konsorsium Covid-19 turut menggandeng pihak swasta seperti industri farmasi PT Biofarma dan PT SOHO untuk bekerja sama dan bersinergi dalam menghasilkan kajian dan inovasi yang bermanfaat untuk menghadapi Covid-19. (OL-8).

Baca Juga

Dok. Istimewa

Penerapan New Normal Harus Dilakukan Hati-Hati

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 00:00 WIB
New normal diberlakukan secara bertahap dimulai dari daerah yang sudah mulai menunjukkan kurva kasus covid-19 melandai dan...
DOk. Pirbadi/Ardi Teristi Hardi

Link & Match dengan Industri, Kemendikbud Buka Prodi S-2 Terapan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Jumat 29 Mei 2020, 23:09 WIB
Hal ini dilakukan guna membangun “Link and Match” dengan kalangan dunia usaha dan dunia industri ( DUDI) lebih kuat...
MI/Panca Syurkani.

PKS: Ajaran Baru, Sekolah Harus Aman Dulu dari Covid-19

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 29 Mei 2020, 22:38 WIB
Hal itu berdasarkan data dari Kepala Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti yamg menyebut lebih dari...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya