Rabu 01 April 2020, 08:15 WIB

Pandemi, Solidaritas Perkuat Imunitas

Abdurachman Latief Guru Besar FK Universitas Airlangga, Dewan Pakar IDI Jatim, President Asia Pacific International Congress of Anatomist-6 | Opini
Pandemi, Solidaritas Perkuat Imunitas

Dok. Unair

MICHAEL Levitt, ahli biofisika dan pemenang Nobel asal Stanford, memprediksi akan ada peredaan wabah korona dalam waktu tak terlalu lama (LA Times, 23 Maret 2020).

Setelah memenuhi akurasi kuat di dalam memprediksi penurunan wabah korona di Tiongkok, Levitt mengungkapkan, “Tidak mungkin pandemi akan terjadi berbulan-bulan, terlebih sampai memakan jutaan korban. Jangan panik, kita akan baik-baik saja.”

Di samping Levitt, peneliti Melbourne telah memetakan respons imun dari pasien covid-19 pertama di Australia, yang menunjukkan kemampuan tubuh untuk melawan virus dan pulih dari infeksi.

Prof Katherine Kedzierska, kepala laboratorium di Doherty Institute dan seorang peneliti imunologi infl uenza terkemuka di dunia juga menguji sampel darah pada empat titik waktu berbeda pada seorang wanita sehat berusia 40-an, positif covid-19, dan yang memiliki gejala ringan hingga sedang yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Dalam publikasinya di Nature Medicine, dia meberikan laporan terperinci tentang bagaimana sistem kekebalan pasien merespons virus. Salah satu peneliti mengatakan ini merupakan pertama kalinya tanggapan kekebalan yang luas terhadap covid-19 telah dilaporkan (17/3).

“Kami melihat luasnya respons imun pada pasien ini menggunakan pengetahuan yang telah kami bangun selama bertahun-tahun. Kami melihat respons imun pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan influenza,” kata Dr Nguyen. “Tiga hari setelah pasien dirawat, kami melihat populasi besar dari beberapa sel imun. Sinyal itu sering merupakan

pertanda pemulihan selama infeksi infl uenza musiman. Jadi kami memperkirakan bahwa pasien akan pulih dalam tiga hari, itulah yang terjadi!”

Sistem imun terdiri dari banyak struktur dan proses biologis yang melindungi individu terhadap bahan penginfeksi, infektan. Agar berfungsi dengan baik, sistem imun harus mendeteksi beragam infektan. Mulai dari virus, bakteri, jamur, hingga cacing serta parasit lainnya.

Manusia memiliki sistem imun yang sangat canggih. Sistem yang mempunyai kemampuan beradaptasi dari waktu ke waktu untuk mengenali infektan, termasuk virus covid-19 secara lebih efi sien. Kekebalan adaptif

(didapat) menciptakan memori imunologis setelah respons awalbterhadap infektan spesifik, yang mengarah pada peningkatan respons pada pertemuan berikutnya dengan infektan yang sama.

Proses kekebalan yang didapat pada kelompok masyarakat disebut herd immunity, kekebalan bersama. Kalau infektan memang sengaja dimasukkan, dalam dosis aman, dikenal sebagai vaksinasi.

Covid-19 dapat berevolusi dan beradaptasi dengan cepat, dengan demikian menghindari deteksi dan netralisasi oleh sistem imun. Ini menyulitkan ilmuan membuat obatnya. Untuk itu, obat utama yang paling diandalkan ialah imun tubuh. Jika imun tubuh optimal, infektan dapat dikalahkan dengan mudah.

Terima kasih pandemi, yang telah memberikan stimulasi para ilmuan menemukan metode yang ilmuan menemukan metode yang lebih mumpuni.

Untuk memperkuat imunitas melalui solidaritas, mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Wuhan, bercerita melalui e-mail.

“Di Wuhan, kami sangat cepat untuk bangkit (recovery), karena kami saling menyemangati. Kami tidak memberitakan berita kematian, yang kami beritakan ialah berita kehidupan dan berita kesembuhan. Namun kenapa netizen di Indonesia lebih memilih memberitakan berita ketakutan? Apakah mereka memang ingin membunuh saudaranya sendiri?”

“Bisakah mulai saat ini kita hanya memberitakan berita yang penuh harapan, berita yang menenangkan, berita kehidupan. Bisakah kita membantu tim medis yang sudah sedemikian lelah, untuk berhenti membuat postingan-posting-an yang berkonten menakut-nakuti membuat orang

khawatir dan panik. Bisakah? Tahukah bahwa kekhawatiran berlebih akan menurunkan imun tubuh lebih cepat. Jangan membuat mereka khawatir, sehingga terus-menerus berbondong-bondong ke rumah sakit dan semakin membuat lelah para tim medis kita.”

Kualitas imun tubuh terbagi menjadi sepasang, kuat dan rentan. Orang yang memiliki imunitas kuat bercirikan karakter positif, antara lain memiliki optimisme yang tinggi dan gemar mendahulukan orang lain, solidaritas. Sikap optimistis ialah sikap mengarah kepada solusi setiap persoalan.

Sebaliknya, orang yang memiliki imun yang rentan, memiliki sikap pesimistis, suka panik, menghimpun berita-berita negatif, dan memiliki sikap egoisme yang tinggi.

Terbentang luas contoh solidaritas akibat pandemi ini. Mulai dari kedermawanan miliuner Tiongkok, pendiri raksasa e-commerce Alibaba Group Jack Ma. Ia menyumbang berjuta alat medis dan masker. Jack Ma menyumbang Amerika, negara-negara Eropa, Jepang dan juga 4 negara kawasan Asia Tenggara. Yakni, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Pesepak bola kenamaan asal Portugal Cristiano Ronaldo, mengubah hotel mewah yang dimilikinya, Pestana CR7 menjadi rumah sakit bagi pasien yang positif covid-19. Dia juga menggratiskan perawatan mereka dan akan menggaji tenaga medis yang bekerja di sana.

Tercatat juga nama artis asal Korea, Lee Min-ho dan Hyun Bin, di Hollywood, Tom Hanks dan istrinya. Juga si donator dunia yang selalu siaga, pemilik Microsoft, Bill Gates, juga Mark Zuckerberg.

Soal solidaritas dalam bentuk kedermawanan. Indonesia menempati 10 besar dunia. Terbukti Charities Aid Foundation (CAF) 10th World Giving Index memasukkan Indonesia dalam daftar 10 negara paling dermawan di antara 144 negara di dunia. Hayo tingkatkan solidaritas kepada sesama, kita semua bisa!

Terhadap peran solidaritas yang dapat melesatkan imunitas, peneliti Amerika Serikat menemukan bukti yang mengguncang.

Bernie S Siegel, ahli bedah asal Amerika, menyimpulkan bahwa kekuatan cinta dan kasih saying merupakan puncak sikap solidaritas. Solidaritas kuat mampu mengobati penyakit keganasan carcinoma, kanker ganas. Bahkan, solidaritas yang kuat menggiring pasien-pasien HIV-AIDS sembuh sempurna tanpa bekas.

Imunitas setiap individu yang kuat dapat membuat herd immunity

bertambah hebat. Herd immunity menjadi andalan untuk memadamkan covid-19. Imunitas kuat bisa menghemat biaya penanggulangan, di samping

karakter masyarakat menjadi lebih berkualitas.

Pandemi covid-19 mengajarkan kepada seluruh penduduk bumi, bersolidaritas tinggi supaya mampu menghadapi!

Baca Juga

dok. Pribadi

Jaminan Sosial bagi Relawan Korona

👤Ferdinandus S Nggao Kepala Kajian Kebijakan Sosial Lembaga Management FEB UI 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 06:00 WIB
KITA patut bersyukur atas kehadiran para relawan yang membantu Badan NasionalPenanggulangan Bencana (BNPB) selaku Gugus Tugas Percepatan...
Dok. Pribadi

Terapi Plasma Konvalesen pada Pasien Covid-19

👤Theresia Monica Rahardjo Penggagas Terapi Plasma Konvalesen (TPK) di Indonesia 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 05:50 WIB
VIRUS korona dibagi menjadi 4 golongan, yaitu virus korona alfa, beta, gama,dan delta. Covid-19 merupakan virus korona beta bersama sama...
Dok.pribadi

KDRT Mengintai di Tengah Pandemi 

👤Kartika Sari, Staf Bagian Publikasi dan Media di Biro Hukum dan Humas Kemen PPPA 🕔Jumat 29 Mei 2020, 18:00 WIB
Pandemi menyebabkan kasus KBG meningkat, salah satunya kasus kekerasan dalam rumah tangga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya