Minggu 29 Maret 2020, 01:30 WIB

Nanti Kita Nonton di Bioskop Lagi

FATHURROZAK | Weekend
Nanti Kita Nonton di Bioskop Lagi

ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA

Pelaku industri bioskop mulai kelimpungan. Sebaliknya pelaku layanan streaming melihat munculnya peluang.

PAGEBLUK virus korona baru (covid-19) yang tengah merebak di banyak negara, termasuk Indonesia, berimbas signifikan pada sektor industri leisure seperti bioskop. Baik jaringan besar maupun independen menangguhkan layanan mereka di sejumlah kota besar.

Penutupan sementara bioskop pun berimpak pada jadwal rilis film-film yang akan tayang. Di Indonesia, misalnya. Tersanjung The Movie memundurkan jadwal rilisnya. Begitu juga Melankolia, keluaran rumah produksi Visinema Pictures yang semula rilis pada 9 April, harus mengatur ulang jadwal tayang. Setidaknya ada tiga film yang dijadwalkan rilis Maret harus mundur.

Salah satu jaringan bioskop besar yang ikut terkena dampak pandemi covid-19 ialah CGV Cinemas. PR Manajer CGV, Hariman Chalid, mengonfirmasikan bahwa perusahaannya menutup hingga lebih dari 50% gedung bioskop yang beroperasi di Indonesia. CGV beroperasi di 69 lokasi dari 35 kota dan 16 provinsi di Indonesia. Terbanyak ada di Jabodetabek, dengan 11 gedung bioskop ada di Jakarta, 5 di Tangerang, 4 di Bekasi, serta Depok dan Bogor masing-masing 1.

Namun, saat ditanya berapa taksiran pendapatan yang hilang akibat penutupan sementara ini, Hariman menjawab perusahaan belum menentukan angkanya. "Kami belum bisa menyampaikan informasi tersebut. Yang pasti tidak ada revenue dari penjualan tiket, pembelian makanan dan minuman, dan merchandise," jelasnya saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (26/3).

Ia pun menyampaikan, dalam situasi krisis seperti ini, pihaknya pun berharap ada insentif finansial dari pemerintah. Ia menjelaskan skema itu diperlukan untuk mengurangi kerugian yang diterima perusahaan.

"Kami siap duduk bersama dengan regulator dan instansi pemerintah untuk merumuskan protokol mitigasi terbaik agar operasional bioskop tetap berjalan. Permohonan mitigasi ini perlu kami sampaikan semata-mata untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan penutupan pemutaran film."

Ia melanjutkan, "Apabila dipandang perlu, kami juga mengharapkan dalam situasi seperti ini untuk dapat diberikan insentif finansial, semisal pengurangan pajak tontonan film di beberapa daerah menjadi maksimum 10%, untuk menciptakan kesetaraan antardaerah. Mengingat sejatinya film diputar di seluruh wilayah Indonesia pada dasarnya sama, dan tidak perlu dibedakan pengenaan pajaknya seperti yang selama ini sudah berjalan untuk pajak restoran dan hotel yang juga menjadi pendapatan daerah."

SVOD Jadi Substitusi

Di saat bioskop terdampak badai pandemi, justru situasi ini menjadi peluang lain bagi penyedia layanan streaming. Beberapa dari mereka bahkan memberlakukan gratis akses selama periode tertentu. GoPlay, yang satu grup dengan Gojek, menggratiskan akses sepanjang 23-29 Maret. Vidio, yang berafiliasi dengan Emtek Group, juga menggratiskan akses mereka dari 23 hingga 30 Maret.

"Vidio menggratiskan delapan film Indonesia dalam kampanye #BanggaFilmIndonesia yang diselenggarakan pada 23-30 Maret. Bersamaan dengan ini kami juga tengah menjalankan kampanye #BetahdiRumah yang bertujuan mengajak masyarakat untuk tetap di rumah selama masa pandemi untuk mengurangi risiko penularan covid-19," jelas Vice President of Brand Marketing Vidio Rezki Yanuar saat dihubungi pada Kamis (26/3).

Meski belum merilis data berapa total peningkatan yang didapat, Rezki mengaku perusahannya mendapat peningkatan angka pengakses dan yang berlangganan. Meski tampaknya mendapat keuntungan, nyatanya layanan SVOD tetap terdampak covid-19. Rezki mengaku ada beberapa rencana perubahan dalam masa pagebluk ini. Beberapa produksi serial orisinal pun terpaksa mengalami penundaan.

"Produksi serial terbaru dari Vidio Original Series terhambat karena kami turut mendukung regulasi pemerintah dan memprioritaskan kesehatan serta keselamatan pada masa-masa sulit yang dialami saat ini," lanjut Rezki.

Dari data yang dimiliki, Rezki menyebutkan konten film masih yang paling digemari oleh pengakses dan pelanggan bila dibandingkan dengan serial. Karena mengalami penundaan produksi, beberapa strategi tayangan pun disiapkan sehingga menjadi lebih relevan. Misalnya, menyajikan konten 'Belajar Dari Rumah' bekerja sama dengan TV Edukasi. Atau, menayangkan film dengan tema pandemi. Sejak wabah covid-19 menjadi isu global, film Contagion (2011) di iTunes masuk daftar 10 terlaris disewa untuk ditonton ulang. Vidio pun merepons hal ini dengan memasukkan film hit asal Korea, Train To Busan (2016) yang juga menyoal merebaknya virus yang mengubah manusia menjadi zombie. (M-2)

Baca Juga

AFP/JOHANNES EISELE (STF)

Arloji Cerdas dikembangkan untuk Deteksi Corona

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 29 Mei 2020, 19:35 WIB
Fitbit, bersama dengan Apple, juga berkolaborasi dengan Stanford Healthcare Innovation Lab dalam COVID-19 Wearables...
Unsplash/ William Iven

Tabungan Bertambah Saat WFH? Anda Tetap Disarankan Berhemat

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 29 Mei 2020, 16:55 WIB
Meski banyak orang yang turun pendapatan karena pandemi, banyak pula yang tabungannya justru bertambah karena beruntung masih bergaji penuh...
A Jamieson

Ada Penampakan Spesies Gurita Langka di Palung Sunda

👤Bagus Pradana 🕔Jumat 29 Mei 2020, 13:10 WIB
Mereka menjuluki spesies gurita laut dalam yang mereka temui ini dengan sebutan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya