Sabtu 28 Maret 2020, 13:50 WIB

Tolak Diberitakan Ancam Mogok, IDI: Pernyataan Kami Diplintir

Thomas Harming Suwarta | Humaniora
Tolak Diberitakan Ancam Mogok, IDI: Pernyataan Kami Diplintir

BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN/MUCHLIS JR
Presiden Joko Widodo memberi salam kepada tim medis saat meninjau ruang perawatan Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 di Wisma Atlet

 

KETUA Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Daeng M Faqih membantah adanya ancaman mogok dalam penanganan pasien Covid-19. Bantahan tersebut disampaikan Daeng menyusul berita yang sempat beredar bahwa IDI ancam mogok jika tidak ada jaminan Alat Pelindung Diri (APD).

"Intinya IDI menyayangkan adanya beberapa media baik televisi maupun media online yang memberitakan bahwa IDI mengancam untuk mogok tangani pasien Covid-19. Silakan baca rilis yang kami keluarkan tanggal 27 Maret dengan jelas," ungkap Daeng di Jakarta, Sabtu (28/3).

Di dalam rilis IDI bersama empat organisasi profesi kesehatan lain yang ditandatangani dr Daeng tertulis bahwa dalam kondisi wabah, kemungkinan setiap pasien yang diperiksa adalah ODP atau PDP atau pasien Covid-19. Lebih lanjut ditegaskan IDI bahwa jumlah tenaga kesehatan yang terjangkit Covid-19 semakin meningkat, bahkan sebagian meninggal dunia.

"Setiap tenaga kesehatan berisiko untuk tertular Covid-19. Maka, kami meminta terjaminnya Alat Perlindungan Diri (APD) yang sesuai untuk setiap tenaga kesehatan. Bila hal ini tidak terpenuhi kami meminta kepada anggota profesi kami untuk sementara tidak ikut melakukan perawatan penanganan pasien Covid-19 demi melindungi dan menjaga keselamatan sejawat," demikian disampaikan IDI dalam rilis tersebut.

Baca juga: IDI Bantah Ancam Mogok Tangani Pasien Covid-19

Kata Daeng, media telah melakukan "rephrasing" yang fatal atau pemelintiran kata, karena IDI dan empat organisasi lain tidak pernah menyatakan akan mogok tangani pasien Corona. "Himbauan untuk tidak menangani itu untuk petugas kesehatan dalam kondisi tidak ada APD. Tetapi yang pakai APD tentu saja boleh merawat pasien Covid," tegas Daeng.

Himbauan tersebut kata dia sangat tepat karena petugas kesehatan sangat berisiko tertular. "Nah jalau tertular jatuh sakit maka tidak bisa lagi menolong untuk merawat pasien," katanya.

Daeng menyayangkan dalam suasana saat ini yang membutuhkan kerjasama, justru ada media massa yang memberikan informasi fatal. "Sayang sekali, di tengah suasana yang membutuhkan gotong royong seperti saat ini, ada sebagian media massa yang membuat berita dengan menggiring opini seolah-olah para dokter mengancam mogok. Ini seperti mengadu profesi dokter di satu pihak dengan pemerintah dan masyarakat di pihak lain," tegasnya.(OL-4)

VIDEO TERKAIT:

Baca Juga

ANTARA Jatim/HO/WI

Dewan Pers Ingatkan Perlindungan Jurnalis Selama Normal Baru

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 00:24 WIB
Empat pilar jurnalistik harus dijaga, karena apabila terdapat pilar yang terganggu, kualitas kemerdekaan pers akan...
Dok. Istimewa

Penerapan New Normal Harus Dilakukan Hati-Hati

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 00:00 WIB
New normal diberlakukan secara bertahap dimulai dari daerah yang sudah mulai menunjukkan kurva kasus covid-19 melandai dan...
DOk. Pirbadi/Ardi Teristi Hardi

Link & Match dengan Industri, Kemendikbud Buka Prodi S-2 Terapan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Jumat 29 Mei 2020, 23:09 WIB
Hal ini dilakukan guna membangun “Link and Match” dengan kalangan dunia usaha dan dunia industri ( DUDI) lebih kuat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya