Sabtu 28 Maret 2020, 06:10 WIB

Menghadapi Ketidakpastian

Arif Satria Rektor IPB | Opini
Menghadapi Ketidakpastian

MI/ADAM DWI

SAAT ini kita merasakan apa itu ketidakpastian. Covid-19 yang menjadi pandemi global benar-benar membuat penjuru dunia dihantui ketidakpastian. Kecemasan kolektif terus meningkat. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi hari ini dan kejutan-kejutan lain di waktu mendatang. Ketidakpastian terjadi ketika kita tidak mampu memprediksi tindakan-tindakan kita.

Tugas kita ialah membuat ketidakpastian menjadi kepastian. Kapasitas dan kapabilitas ialah kunci mentransformasi ketidakpastian menjadi kepastian. Ketidakpastian akan berlangsung lama di kala sesuatu itu baru dan kita tidak punya pengetahuan tentangnya. Sebaliknya, ketidakpastian segera berlalu di kala kita memilliki pengetahuan dan kemampuan menghadapinya.

Ini persis rumus menghadapi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang harus diubah menjadi VUCA (vision, understanding, clarity, agility). Satu kata kunci menghadapi ketidakpastian ialah dengan understanding, yang tentu menuntut sejumlah informasi dan pengetahuan sehingga kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

Covid-19 ialah sumber ketidakpastian. Orang tahu virus ini, tetapi belum tahu vaksin untuk mengatasinya. Inilah pemicu kecemasan atas ketidakpastian ke depan. Di sinilah kita dituntut untuk cepat paham apa dan mengapa terjadi. Kecepatan pemahaman itu akan menentukan kecepatan kita menciptakan kepastian.

Karena itu, ada beberapa kata kunci yang penting untuk kita kembangkan menghadapi ketidakpastian pascacovid-19 ini. Pertama, menjadi pembelajar yang lincah (agile learner) untuk mendapatkan understanding.

Simaklah kata-kata futurolog Alvin Toffler, "The illiterate of the 21st century will not be those cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn." Menghadapi dunia yang volatile seperti ini diperlukan kelincahan tersendiri sebagai pembelajar. Orang bermental pembelajar yang lincah akan cepat tahu apa yang terjadi dan cepat memberi solusi.

Pembelajar yang lincah akan memiliki growth mindset dan bukan fixed mindset. Konsep growth mindset menggambarkan cara berpikir yang terus tumbuh berkembang mengikuti perkembangan situasi, termasuk keberanian meninggalkan cara berpikir lama. Karena yang dihadapi ialah situasi baru, itu harus disikapi dengan cara berpikir baru. Sebaliknya fixed mindset menggambarkan stagnasi cara berpikir karena tidak ada perubahan cara berpikir ketika menghadapi situasi yang berubah dengan cepat.

Jadi, cara berpikir lama dipaksakan untuk melihat sesuatu yang baru yang tentu kurang pas. Ibarat orang sekarang memaksakan disket ke orang lain di kala semua orang sudah menggunakan cloud. Fixed mindet tidak berkembang, sementara cakupan dan kedalaman masalah selalu berkembang.

Kita beruntung karena kini para ilmuwan banyak yang telah menjadi pembelajar yang lincah. Dalam waktu tiga bulan, banyak penemuan baru untuk atasi covid-19. Padahal covid-19 ialah baru. Pembelajar yang biasa-biasa saja tidak akan mampu secepat ini.

Pembelajar yang lincah adalah pembelajar yang selalu merespons terhadap perubahan. Menurut Charles Darwin, orang seperti itulah yang akan bisa bertahan. Darwin mengatakan, "It is not the strongest species that survive, nor the most intelligent, but the ones who are most responsive to change." Pembelajar yang lincah berpotensi menjadi kelompok inovator yang siap merespon perubahan. Inilah yang saat ini menjadi inti dari perubahan kurikulum IPB 2020 (K2020) yang diharapkan menghasilkan banyak pembelajar yang lincah.

Kedua, mental pembelajar ialah modal untuk membentuk masyarakat pembelajar, yang dicirikan suasana saling menginspirasi. Inspirasi ialah proses menggugah orang lain untuk berpikir dan bertindak. Bayangkan bila kebanyakan orang memiliki ide dan karya yang inspiratif, yang artinya membuat orang lain tergugah melakukan hal yang sama.

Bila masyarakat pembelajar terwujud, bangsa ini akan kaya inovasi, dan inovasi ini modal pemecahan masalah dan pilar penting ekonomi masa depan. Ciri masyarakat pembelajar akan terlihat dari narasi-narasi yang dibangun di media sosial: apakah berisi narasi-narasi inspiratif yang membangun optimisme ataukah berisi narasi-narasi menebar ketakutan dan membangun pesimisme.

Tentu masyarakat pembelajar akan cenderung mengisi ruang publik dengan menebar optimisme. Optimisme merupakan energi positif yang mampu mendorong perubahan dari ketidakpastian menuju kepastian. Dalam situasi pandemi covid-19 ini semangat untuk saling menyemangati dan menginspirasi sangat diperlukan. Ini merupakan energi sosial yang dahsyat untuk mengatasi covid-19.

Tubuh saja secara biologis sangat tergantung pada mindset dan sugesti. Mindset yang berujung pada pesimisme, kecemasan, dan ketakutan akan menurunkan daya tahan tubuh. Sebaliknya mental positif, imajinasi positif, dan optimisme akan menyumbang kekuatan tubuh.

Begitu pula kondisi masyarakat, yang semestinya diperkuat dengan semangat dan ide-ide optimistis sehingga ketahanan sosial akan semakin tinggi. Ketahanan sosial akan menjadi pilar dalam melawan sumber-sumber ketidakpastian, seperti covid-19 ini. Karena itu, berbagai upaya teknis mengatasi covid-19 harus dilengkapi dengan penguatan modal sosial.

Ketiga, membangun kekuatan kolaborasi. Menghadapi ketidakpastian tidak bisa sendiri-sendiri. Ketidakpastian bisa berubah menjadi kepastian kalau kolaborasi seluruh komponen tercipta. Menghadapi covid-19 dokter tidak bisa sendiri, perlu ahli biofarmaka, ahli kesehatan masyarakat, ahli bioinformatika, perawat, dokter hewan, ahli komunikasi, psikolog, ekonom, dan lain sebagainya. Pemerintah pusat juga tidak bisa sendiri, perlu pemprov, pemkot, pemkab, DPR RI, BPK, Polri, TNI, akademisi, LSM, tokoh agama, dan swasta.

Kolaborasi ialah cara menyatukan potensi dan kekuatan, apalagi dalam dunia yang penuh kompleksitas dengan masalah tidaklah mengandung satu variabel lagi, tapi multivariabel. Menghadapi masalah yang multivariabel dan terkait satu sama lain memerlukan kolaborasi yang lebih kuat. Contoh yang baik ialah inisiasi BRIN untuk memperkuat konsorsium riset covid-19, dengan IPB berkolaborasi dengan UI berusaha menemukan obat herbal untuk mengatasi covid-19. Persisnya ialah riset dalam bidang bioinformatika untuk menemukan bahan herbal sebagai kandidat potensial untuk antivirus bagi coronavirus melalui analisis big data dan machine learning serta metode pemodelan molekuler.

IPB pun di dalamnya terdiri atas para ahli lintas disiplin ilmu dari Pusat Studi Biofarmaka dan Departemen Ilmu Komputer. Saatnya riset interdisiplin dan transdisiplin semakin diperkuat, dan lagi-lagi memerlukan prasyarat kolaborasi.

Keempat, siap dengan fleksibilitas. Rumus menghadapi ketidakpastian ialah fleksibilitas. Salah seorang pakar pernah mengatakan 'strategy is a journey'. Tidak ada strategi yang sifatnya permanen, lebih-lebih di era VUCA ini. Strategi bisa berubah di tengah jalan. Perubahan yang begitu cepat memerlukan fleksibilitas. Apa yang sekarang kita lakukan melalui pembelajaran jarak jauh akibat kebijakan kampus close down akibat covid-19 ialah bentuk fleksibilitas. Pakemnya mahasiswa masuk ruangan kelas, dosen berdiri di kelas dengan LCD dan papan tulis dengan jadwal yang ketat. Semua harus synchronous. Namun, saat ini kita dipaksa untuk berubah dengan pola pembelajaran yang sama sekali berbeda. Kegiatan belajar-mengajar bisa synchronous atau asynchronous. Tidak perlu papan tulis dan tidak perlu LCD. Yang diperlukan ialah akses internet. Ini tidak mudah karena pola bisa berubah, tapi learning outcome harus tercapai.

Sebelum ada kasus covid-19, introduksi blended learning dilihat sebelah mata. Bahkan tidak sedikit yang menentang. Namun, kini mau tidak mau dan suka tidak suka pola online (daring) harus dilakukan. Begitu pula kampus terpaksa close down dan dosen dan tenaga kependidikan bekerja dari rumah. Kini dipaksa rapat secara online. Rapat tidak lagi harus kumpul di satu ruangan. Rapat bisa di mana saja dan kapan saja. Jadi, fleksibilitas yang kita alami sekarang ialah by accident dan bukan by design. Namun, dalam konteks ini, hikmah yang bisa diambil dari kasus covid-19 ialah kerelaan kita semua untuk berada dalam dunia yang fleksibel.

Keempat kata kunci di atas ialah upaya minimal untuk menghadapi ketidakpastian. Keempat hal tersebut harus dilengkapi dengan skill manajemen risiko. Risiko ialah potensi masalah yang akan muncul di kemudian hari. Karena itu, identifikasi risiko menjadi penting agar dipersiapkan langkah-langkah untuk menjamin bahwa tujuan dan target bisa kita capai.

Pencapaian tujuan dan target ini ialah ikhtiar mewujudkan kepastian. Namun, kepastian dan stabilitas bersifat relatif dan sementara. Bukan tidak mungkin muncul sumber-sumber baru ketidakpastian karena memang hal ini bukan hal yang bisa kontrol. Apa pun bentuk dan sumber ketidakpastian, yang penting ialah kesiapan kita untuk selalu optimistis menghadapinya dan mampu mentransformasi ketidakpastian menjadi kepastian. Optimisme ini penting karena Tuhan akan bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Baca Juga

Dok.pribadi

KDRT Mengintai di Tengah Pandemi 

👤Kartika Sari, Staf Bagian Publikasi dan Media di Biro Hukum dan Humas Kemen PPPA 🕔Jumat 29 Mei 2020, 18:00 WIB
Pandemi menyebabkan kasus KBG meningkat, salah satunya kasus kekerasan dalam rumah tangga...
MI/TIYOK

Penataan Perilaku Kunci Tatanan Hidup Baru

👤Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Ketua Laboratorium Psikologi Politik, Universitas Indonesia 🕔Jumat 29 Mei 2020, 06:00 WIB
Yang jelas, prinsipnya kita harus siap beradaptasi (bukan menyerah pada virus) dengan sebuah tatanan hidup baru ke depan, dengan sejumlah...
Istimewa

Hari Kemerdekaan Georgia

👤Duta Besar Georgia, H.E. Tuan Irakli Asashvil 🕔Kamis 28 Mei 2020, 20:40 WIB
Menurut laporan World Bank Doing Business 2020, Georgia berada di peringkat ke-7 di antara 190 negara dalam hal kemudahan berbisnis, turun...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya