Jumat 27 Maret 2020, 20:42 WIB

Karantina Tidak Efektif Jika Mobilisasi Masyakarat masih Tinggi

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Karantina Tidak Efektif Jika Mobilisasi Masyakarat masih Tinggi

MI/Susanto
Penumpang masih memadati KRL di tengah imbauan kerja dari rumah, pada Senin (23/03)

 

DEKAN Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Ari Fahrial Syam, mengatakan pergerakan masyarakat di wilayah terdampak wabah virus korona merupakan hal yang paling penting dalam menekan mata rantai Covid-19. Oleh karena itu, karantina tidak akan berjalan efektif apabila mobilisasi masyakarat masih tinggi.

"Intinya saya bilang ketika terjadi suatu wabah, prinsipnya ketika ada sesuatu wabah maka orang tidak mudah untuk keluar masuk di tempat tersebut ketika terjadi suatu wabah, orang yang ada di dalam tersebut berpotensi menularkan kepada orang lain sebaliknya ketika suatu wabah maka orang yang masuk juga akan tertukar," kata Ari dalam konferensi pers virtual, Jumat (27/3).

Ari menjelaskan proses terjadinya penularan di Kota Wuhan, pada sebuah seafood market yang kemudian kasusnya semakin banyak ketika orang Wuhan kembali ke Kota setelah perayaan tahun baru Tiongkok.

"Mereka kembali ke kotanya dan disitulah mulai menularkan. Terus orang Wuhan keliling keliling dunia itu jadi menular," sebutnya.

Baca juga: Warga Jakarta yang Tidak Mudik Lebaran Akan Dapat Kompensasi

Terkait dorongan lockdown, dia menekankan yang terpenting masyarakat tidak berkeliaran di luar rumah. Sebab, kondisi itu penting dilakukan belajar dari kejadian di Wuhan. Meskipun perdebatan lockdown diterapkan atau tidak di Indonesia masih bergulir.

"Makanya saya bilang tadi, kalau kita alergi mengunakan Lockdown tapi yang penting adalah bahwa mobilisasi manusia dari satu tempat yang memang wabah itu dibatasin, intinya agar orang yang ada di tempat wabah ini tidak menularkan ke orang lain ketika dia keluar sebaliknya orang luar yang artinya sehat tidak tertular ketika berada di dalam, intinya seperti itu," paparnya.

Ari menilai Pemda sudah melakukan seperti itu tetapi musti efektif, dengan pengaturan yang baik begitu juga apabila ada kasus positif secepatnya ditracing untuk memutuskan mata rantai penularan tersebut.

"Terus terang saja memang ada informasi yang masih tahap usulan, saya rasakan usulan ini dari macam-macam, ini bukan suatu hal yang baru sekali lagi intinya adalah ketika terjadi sesuatu maka kita berusaha agar keluar masuk orang itu dibatasi. Apapun bentuknya orang di dalam juga tidak boleh mobilisasi jadi stay at home itu jadi sesuatu yang hastag memang di mana-mana di dunia ini terjadi seperti itu," tegasnya.

Dia menambahkan, stay at home juga berdampak pada seseorang itu tidak akan menggunakan masker berlebihan, hand sanitizer berlebihan, dan tidak akan banyak kontak dan tentunya tidak tertular

"Kalau memang struktur di rumah itu boleh dibilang sehat semua, intinya seperti itu. ketika dia bergerak dia bisa menularkan orang lain, mungkin dia bilang tidak mungkin saya tidak di jalan. Itu bagaimana pemerintah untuk memikirkan, ketika diminta orang itu bener bener ada di rumah pastikan bahwa mereka juga kecukupan pakan pangan itu cukup," lanjutnya.

Dia juga menyarankan peran RT RW itu harus diaktifkan. Dimana RT RW mengidentifikasi ketika memang orang-orang ini tidam boleh keluar makanya harus memastikan ketersediaan makanan dan minuman.

"Karena sekali lagi ketika orang tidak boleh keluar, kurang makan, buruk kesehatan masalah juga. Menurut saya kalau memang Lockdown menjadi pokok, artinya kita menjadi yang penting kita terapkan orang cuma berdiri aja di rumahnya, tidak keluar," terangnya.

Selain itu, pemeriksaan ketat pada transportasi keluar dan masuk wilayah Jakarta juga harus ditingkatkan. Seperti penumpang kereta, ketika hendak naik maupun keluar dari kereta. Pemeriksaan suhu dan gejala sakit harus dilakukan.

"Pintu masuk ke Jakarta, karena sudah jadi epicentrum jadi pintu masuk Jakarta ini bener-bener bisa dikontrol ketika orang keluar masuk ini. Jangan sampai nanti keluar menularkan ke yang lain dan masuk juga tidak tertular," lanjutnya.

Dia menegaskan perdebatan Lockdown ini tidak akan habis-habisnya, apalagi kesadaran dari masyarakat juga kurang. Misalnya saat dirinya berada di Simpang lampu merah, masih banyak orang dan kendaraan berseliweran walaupun semuanya dengan kepentingan masing-masing.

"Mobilisasi itu masih tinggi. Faktanya demikian. Anak-anak juga ada yang terlihat memakir mobil, ini jadi salah, suruh libur malah ada di jalanan. Makanya saling mengingatkan, kita semua pak RT dan Pak RW tolong ingatkan warganya, sebenarnya sistem kita sudah bagus, kalau sudah saling mengingatkan jangan keluar rumah, sama-sama diingatkan, jika ada tempat nongkrong karena disitu ada potensi, jika anda berinteraksi dengan orang lain berpotensi tertular," pungkasnya. (OL-4)

Baca Juga

Antara

Menag: Pandemi Korona Ujian Ketakwaan Umat Islam

👤Ant 🕔Minggu 24 Mei 2020, 23:55 WIB
"Pandemi ini mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang benar-benar bertakwa yang memiliki keseimbangan antara spiritual vertikal...
MI/ Vicky Gustiawan

Pasien Rawat Inap di Wisma Atlet Berkurang 50 Orang

👤Ant 🕔Minggu 24 Mei 2020, 21:50 WIB
Sejak beroperasi pada 23 Maret, sampai dengan 24 Mei 2020, sebanyak 1.875 pasien telah dinyatakan sembuh setelah dirawat di RS Darurat...
Ist/KLHK

Saat halal Bi Halal, Dubes Inggris Apresiasi Menteri LHK RI

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 24 Mei 2020, 21:41 WIB
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Owen Jenkins mengapresiasi kepemimpinan Menteri Siti Nurbaya di sektor kehutanan dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya