Jumat 27 Maret 2020, 17:22 WIB

Pemerintah Minta Masyarakat Tunda Mudik Cegah Penularan Covid-19

Indriyani Astuti | Humaniora
Pemerintah Minta Masyarakat Tunda Mudik Cegah Penularan Covid-19

MI/Andry Widyanto
Penumpang KA bersiap untuk mudik di Pasar Senen, Jakarta

 

JURU Bicara Pemerintah untuk Penanganan Coronavirus disease 2019 (Covid-19) Achmad Yurianto meminta masyarakat untuk lebih bijak dalam merencanakan kembali ke kampung halaman (mudik) ataupun berpergian.

Ia meminta supaya masyarakat mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak perlu meninggalkan rumah atau berpergian ke tempat lain sebab risiko tertular atau menularkan penyakit ke orang lain akan sangat besar.

"Apalagi harus pergi ke kampung dengan keluarga di dalam alat angkut dan berdesak-desakan. Oleh karena itu bijak merencanakan apabila ingin mudik. Kami menyarankan hati-hati ditunda sampai kondisi jauh lebih baik," ujar Yurianto dalam video konferensi di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Jumat (27/3).

Ia menjelaskan, kebiasaan mudik di masyarakat turut menjadi perhatian pemerintah. Oleh karena itu, ia mengimbau supaya lebih baik rencana tersebut ditunda.

Pasalnya pemerintah tidak menginginkan dari terjadinya penambahan kasus yang semakin tinggi karena mobilitas orang dapat berisiko terjadinya penularan virus.

"Tetap tinggal di rumah. Bukan berarti tidak produktif," ucapnya.

Baca juga : Warga Diimbau Batasi Aktivitas di Luar Rumah dan Jaga Jarak

Ia menegaskan, pemerintah tetap secara aktif melaksanakan pencarian kasus positif dengan melakukan rapid test atau test cepat terutama bagi mereka yang melakukan kontak dengan dengan seseorang yang telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Yurianto mengatakan sejauh ini 500 ribu alat rapid test sudah didistribusikan ke seluruh provinsi agar dapat dimanfaatkan untuk tracing atau pelacakan kasus.

Ia menekankan, rapid test bukan alat untuk menegakkan diagnosa untuk mengonfirmasi seseorang terinfeksi virus Korona, tetapi sebagai upaya penapisan yang mengarah pada kasus positif.

Rapid Test yang dilakukan basisnya melihat respon serologi darah dari Covid-19, sehingga pada infeksi yang masih dibawah 6-7 hari, respon imunologi belum terbentuk. Oleh karena itu, rapid test akan diulang lagi 6 atau 7 hari kemudian dengan pemeriksaan yang sama.

Di temukannya kasus negatif saat Rapid Test, imbuh dia, tidak memberikan jaminan seseorang tidak terinfeksi. Bisa saja positif manakala upaya melakukan isolasi mandiri di rumah dan menjaga jarak fisik tidak dijalankan dengan baik.

"Tujuh hari kemudian negatif maka bisa dikatakan belum terinfeksi. Tetapi bukan berarti kebal dan sangat mungkin terinfeksi apabila kontak dekat dengan kasus positif dan tidak menjaga jarak," terangnya.(OL-7)

Baca Juga

Antara

Jelang New Normal, Nadiem Diminta Bikin Terobosan

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 07 Juni 2020, 16:32 WIB
"Tolong segera Mas Menteri jangan tunggu virusnya hilang. Saya tidak bilang sekolah harus dibuka. Tapi sistem pendidikannya jangan...
Ilustrasi

Hari ini, Pasien Covid-19 Sembuh di Indonesia jadi 10.498 Orang

👤Ihfa Firdausya 🕔Minggu 07 Juni 2020, 16:25 WIB
Update perkembangan kasus covid-19 di Tanah Air pada Minggu (7/6) mengungkapkan, pasien korona yang sembuh bertambah 591 orang sehingga...
Dok MI

Pakar Epidemiologi UI Bantah Kemenkes Soal Hidroksiklorokuin

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 07 Juni 2020, 16:19 WIB
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono membantah pernyataan yang dibuat oleh...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya