Kamis 26 Maret 2020, 23:25 WIB

Gapki Khawatirkan Harga CPO Terus Tertekan Akibat Covid-19

Raja Suhud | Ekonomi
Gapki Khawatirkan Harga  CPO Terus Tertekan Akibat Covid-19

Antara/SyifaYulinas
Pekerja memasukkan Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke dalam truk di tempat penampungan di Desa Seumantok, Aceh Barat.

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengkhawatirkan terkait kemungkinan pandemi Covid-19 yang terjadi puncaknya pada Juni, akan menekan terus harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

Di awal pandemi ini menyebar saja, ekspor minyak sawit pada Januari 2020 telah tertekan 35,6%.

"Banyak pakar dunia memperkirakan puncak pandemik corona akan terjadi pada sekitar bulan Mei-Juni. Situasi ini dikhawatirkan akan menekan harga minyak nabati termasuk minyak sawit," kata Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono di Jakarta, Kamis (26/3).

Selain pandemi COVID-19, ujar dia, industri sawit juga dihadapkan dengan musim kemarau pada beberapa bulan lagi, di mana kebakaran hutan dan lahan menjadi momok menakutkan.

Pembukaan lahan dengan sistem bakar oleh masyarakat harus dapat dihindari, lanjutnya, meskipun peraturan perundangan masih memungkinkan untuk pembukaan lahan di bawah 2 hektare.

Menurut Mukti, perusahaan perkebunan perlu memperkuat kembali koordinasi dengan instansi terkait dan memeriksa kesiapan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran yang dimiliki.

Ada pun pada awal 2020, harga CPO dibuka meningkat dengan rata-rata harga CPO Cif Rotterdam sebesar 830 dolar AS per ton, dibandingkan harga pada Desember 2019 adalah 787 dolar AS per ton.

Ekspor minyak CPO pada Januari menurun sebesar 35,6% menjadi 2,39 juta ton, dari Desember 2019 sebesar 3,72 juta ton.

Penurunan ekspor CPO antara lain dipengaruhi karena harga minyak bumi yang tidak menentu akibat ketidaksepakatan antara OPEC dengan Rusia, serta terjadinya pandemi corona atau COVID-19 di sejumlah negara.

"Terjadinya pandemi corona yang melanda hampir ke seluruh dunia menyebabkan perlambatan kegiatan ekonomi global yang berakibat pada penurunan konsumsi minyak nabati terutama minyak nabati yang diimpor," katanya.

Penurunan ekspor CPO terjadi hampir ke semua negara tujuan yaitu ke China turun 381.000 ton (turun 57%), Uni Eropa turun 188.000 ton (turun 30%), ke India turun 141.000 ton (turun 22%), dan ke Amerika Serikat turun 129.000 ton (turun 64%).

Sementara itu, ekspor Bangladesh meningkat 40.000 ton atau sebesar 52%dari bulan sebelumnya. (Ant/E-1)

Baca Juga

Antara/Ampelsa

Garuda Indonesia Siapkan Pesawat Kargo untuk Ekspor

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 22:30 WIB
Potensi ekspor salah satunya pada produk makanan laut masih sangat...
ANTARA/Muhammad Bagus Khoirunas

Stok Beras Capai Tujuh Juta Ton, Mentan Apresiasi Kerja Petani

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 21:30 WIB
Produksi beras juga indikator utama di mana kesejahteraan petani perlahan tapi pasti terus mengalami...
ANTARA/Muhammad Iqbal

Rekor, Penumpang Pesawat di 19 Bandara Capai 110 Ribu

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 18:10 WIB
Khusus di Bandara Soekarno-Hatta, jumlah penumpang pada Kamis (28/10) mencapai 64.021 orang dengan 644...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya