Kamis 26 Maret 2020, 21:05 WIB

17 Suku di Sikka Gelar Upacara Adat Tolak Virus Korona

Alexander P. Taum | Nusantara
17 Suku di Sikka Gelar Upacara Adat Tolak Virus Korona

MI/Alexander P Taum
Upacara adat di Kabpaten Sikka

 

SEBANYAK 17 suku yang ada di Kecamatan Hewokloang, gelar upacara adat untuk menghalau masuknya virus korona di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (26/03).

Pada upacara adat menghalau virus korona ini, para tokoh adat menyembelih sejumlah hewan seperti babi, anjing, ayam atau kambing untuk dijadikan kurban kepada para leluhur. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, korban yang disembelih itu dapat menggantikan korban manusia karena serangan virus korona.

Kepala Desa Hewokloang, Yoseph Ferdinandus, mengatakan, upacara adat seperti itu sering dilaksanakan oleh masyarakat adat Desa Hewokloang jika terjadi musibah atau  bencana yang melanda.

"Saat ini, wabah virus korona masuk di Indonesia sehingga kita gelar upacara adat untuk menolak virus itu masuk di Sikka," ungkap Yoseph.

Dikatakannya, upacara adat itu yang digelar di Kantor Desa Hewokloang, diikuti seluruh masyarakat adat yang ada di Desa Hewokloang.

"Semua ikut, yang paling penting lepo pitu woga walu (kepala suku) yang ada 17 suku. Dulunya ada 7 suku, tapi sekarang sudah ada 17 lepo (suku). Acara adatnya di kantor desa, nanti setelah itu baru kasih sesajen (piong) di masing-masing lepo (suku)," ujar Yoseph.

Selain piong di masing-masing lepo (suku), menurut dia, mereka juga menanam dagu anjing di arah barat laut tepat diperbatasan Desa
Hewokloang (arah mata angin dimana virus korona muncul yakni ke arah Tiongkok). Warga meyakini ketika virus korona datang, dapat dihalau oleh anjing tersebut.

Selain itu katanya, di arah Barat laut tepat diperbatasan Desa Hewokloang, mereka juga melakukan penjagaan di ketiga sudat lainnya
tepat di batas desa dengan cara teong koli wojong (gantung daun lontar) yang dipercaya dapat menahan serangan atau bahaya yang datang.

"Ritual itu dari semua lepo (suku) bawa kekuatan masing-masing dan disatukan," ungkapnya.

Ritual tolak bala seperti itu telah diajarkan oleh leluhur masyarakat adat Hewokloang secara turun temurun untuk menghadapi wabah atau bencana apapun. (OL-2).

 

Baca Juga

Mi/Ardi Teristi Hardi

Hadapi Libur Panjang Pasar Beringharjo Jalankan Prokes Ketat

👤Agus Utantoro 🕔Senin 26 Oktober 2020, 09:21 WIB
Pasar Beringharjo, Yogyakarta, akan memperketat penerapan protokol kesehatan saat libur panjang akhir Oktober serta menambah personel...
AFP/Romeo GACAD

PUPR Klaim Tata Kawasan Pulau Rinca untuk Lindungi Habitat Komodo

👤Insi Nantika Jelita 🕔Senin 26 Oktober 2020, 08:21 WIB
Saat ini, penataan Pulau Rinca tengah memasuki tahap pembongkaran bangunan eksisting dan pembuangan puing, pembersihan pile cap, dan...
MI/Denny Susanto

Ragam Hasil Hutan Penopang Hidup Masyarakat Kaki Meratus

👤Denny Susanto 🕔Senin 26 Oktober 2020, 08:20 WIB
Masyarakat Dayak di Kaki Pegunungan Meratus mengembangkan budidaya pangan seperti madu, kopi dan tanaman sengon dalam program perhutanan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya