Kamis 26 Maret 2020, 09:14 WIB

Pasien Korona dari Ruang Isolasi Khawatir Terhadap APD Petugas

Lina Herlina | Nusantara
 Pasien Korona dari Ruang Isolasi Khawatir Terhadap APD Petugas

Istimewa
Pasien di kamar isolasi memotret petugas medis dengan mengenakan APD membawakan sarapan.

 

TIM Gugus Penanggulangan Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan, baru saja kelar menggelar video konferen, terkait bertambahnya pasien positif korona menjadi 13 kasus. Angka yang relatif tinggi dibanding sehari sebelumnya yang hanya empat kasus. Tetiba notifikasi pesan di ponsel berbunyi. Saat dibuka, sebuah gambar sedikit buram terbuka. Itu adalah gambar sebuah kamar isolasi untuk pasien korona di Infection Center Rumah Sakit Umum Regional Wahidin Sudirohusodo, Makassar Sulawesi Selatan.

Foto tersebut, dikirim oleh salah satu dari sekian banyak pasien positif korona di sana. Pasien tersebut pada Rabu (25/3) adalah hari keempat ia menjalani perawatan di ruang isolasi tersebut. Ia mengaku dipindahkan ke ruang isolasi Selasa (23/3) malam.

"Ruang isolasi tersebut, bersebelahan dengan ruang isolasi sebelumnya. Saat masuk ke sini saya tidak banyak mengerti situasinya. Yang saya tahu adalah, ruang isolasi ini harus melewati banyak pintu, dan petugas medis yang bertugas di sini wajib menggunakan Alat Perlindungan Diri (APD) lengkap," tulis Ayu.

Setelah berpindah ruangan, ia baru mengaku lebih paham. 

"Ruang isolasi saya sebelumnya digunakan sebagai ruang isolasi observasi, karena sebagian dindingnya adalah kaca, aktivitas saya dengan mudah terlihat oleh para petugas medis. Sedangkan, ruang isolasi di sebelahnya, tempat saya saat ini, adalah ruang perawatan tanpa dinding kaca," jelasnya.

"Dari ruang isolasi kaca sebelumnya, saya juga mudah melihat aktivitas para petugas medis. Mereka mengenakan APD berwarna biru, kuning dan putih. Yang berwarna biru adalah jas hujan tipis biasanya dijajakkan di pinggir jalan," sambungnya.

Ia menggambarakan, jika posisi tempat tidurnya, dekat dengan jendela kaca yang menghadap ke parkiran. Kalau bosan, ia memilih melihat-lihat ke arah luar jendela saja sudahbjadi hal yang cukup menyenangkan. Hal-hal yang biasanya mudah ia peroleh kini menjadi sulit. 

"Contohnya sinar matahari dan udara segar. Benar, hal-hal menjadi lebih berarti setelah kita kehilangan. Semoga kehilangan ini hanya sementara," keluhnya.

Pasien tersebut melanjutkan bercerita, selama dua bulan ini, matanya, bahkan orang lain pun, mungkin akrab dengan APD yang dikenakan para petugas medis tersebut. 

"Tapi mungkin kita tidak tahu bahwa seragam APD yang mereka kenakan basah karena keringat akibat kegerahan karena kostum ini wajib dikenakan seharian penuh," lanjutnya.

Saat mendapat tindakan, pasien itu mengaku mendengar tarikan nafas berat saat diperiksa, karena masker ketat dan berlapis yang wajib mereka kenakan seharian. Seharian di ruang isolasi tanpa pendingin udara bagi yang hanya memakai kaos oblong seperti dirinya saja sudah cukup berat.

"Tidak terbayang berjam-jam dengan kostum tertutup dari kepala hingga kaki itu," tuturnya berkeluh kesah, tanpa ia tahu sendiri, dari mana penyakit yang nenggerogoti paru-paru itu bisa menghampiri dirinya, padahal ia tidak punya riwayat bepergian keluar kota, kecuali mendampingi pejabat di sebuah instansi pemerintah di Sulsel, karena ia seorang aparatur sipil negara (ASN).

"Saya jadi berpikir, kondisi berat pasien dan petugas medis seimbang. Bahkan mereka lebih berat dengan tanggung jawab bekerja dengan risiko terpapar virus dari pekerjaan mereka. Saat semua menghidar, mereka yang berada di garda terdepan. Kalimat ini sangat tepat," lanjutnya lagi.

Bahkan saat keluarga tidak bisa berdekatan, ia mengaku, jika mereka, para tim medis inilah, menjadi yang terdekat memeriksa suhu tubuh dengan menyentuh kulit pasien, memberi semangat secara langsung meski tanpa wajah yang bisa ia kenali.

"Ucapan terima kasih mereka setelah memeriksa disituasi yang kurang beruntung ini menambah getir perasaan saya. Semoga mereka dijauhkan dari segala marabahaya, keluarga mereka dilindungi dengan kasih sayang Tuhan, dan semoga kondisi ini segera berlalu," tutur ibu yang masih punya anak balita ini.

Meski kondisinya memprihatinkan, karena berada di ruang isolasi dan tidak bisa bertemu keluarga di luar sana, ia malah merasa sedih melihat resleting baju APD yang dikenakan salah satu perawat telah rusak.

baca juga: Pulang Dari Abu Dhabi, Warga Kota Tegal Positif Covid-19

"Saat ini jam di ponsel saya menunjukkan pukul 08.11, dan barusan seorang perawat masuk membawakan sarapan. Saya sempat mengambil gambarnya saat ia mendekati bilik saya. Ia berseragam kuning, dan sepertinya ia memakai APD dan syukurnya bukan jas hujan tipis," pungkasnya.

Saat ini, di Sulsel, selain 13 orang yang dinyatakan positif korona, dan seorang diantaranya meninggal dunia, masih ada 158 masuk dalam kategori orang dalam pementauan, 36 di antaranya sudah sehat. Dan masih ada 89 lainnya pasien dalam pengawasan, rinciannya 81 orang masih dirawat di rumah sakit dan 8 sisanya sudah dinyatakan sehat. (OL-3)

Baca Juga

Antara

Ini Instruksi Gubernur Sumut ke Kepala Daerah dan Direktur RS

👤Yoseph Pencawan 🕔Sabtu 04 April 2020, 21:28 WIB
Gubernur juga menyampaikan kepada direktur RS se-Sumatra Utara agar tidak menolak pasien yang terindikasi mengidap...
Antara

Sumut Pastikan Seorang Pasien Positif Korona Sembuh

👤Yoseph Pencawan 🕔Sabtu 04 April 2020, 21:23 WIB
Namun, sebelumnya dia mengatakan bahwa jumlah pasien positif di daerahnya masih mengalami...
Antara

Wali Nagari di Agam Diwajibkan Beli Produk Pangan Lokal

👤Yose Hendra 🕔Sabtu 04 April 2020, 21:20 WIB
"Bantuan dari setiap nagari yang disalurkan kepada masyarakat berbeda-beda, sesuai dengan hasil pangan di nagari masing-masing,"...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya