Rabu 25 Maret 2020, 12:40 WIB

Prof.Rhenald Kasali: Tantangan dan Peluang di Era Covid-19

mediaindonesia.com | Ekonomi
Prof.Rhenald Kasali: Tantangan dan Peluang di Era Covid-19

Istimewa
Prof. Rhenald Kasal saat menggelar webinar Mahir Academy,Selasa malam (24/3)

 

WABAH corona dimulai pada 20 Januari 2020. Episentrumnya ada di Wuhan, Tiongkok. Globalisasi dan konektivitas transportasi membuat wabah itu seperti gempa yang memicu tsunami. Gelombangnya cepat menyebar ke berbagai belahan dunia.

"Corona ini memiliki karakter short term outbreak. Wabahnya bersifat sementara. Seperti tsunami, kejadiannya singkat, tapi dampaknya bisa luar biasa," kata Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali, saat menggelar webinar Mahir Academy by Rumah Perubahan berjudul The Outbreak: Challenges & Opportunities, Selasa malam 24/3).

Layaknya tsunami, penyebaran wabah terjadi begitu cepat. Kini Corona sudah menyebar hingga ke 173 negara. Dampak kemanusiaan maupun dampak ekonominya luar biasa. 

"Banyak negara kewalahan menghadapi pandemi ini, termasuk negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa," kata Rhenald. Karena itu, founder Rumah Perubahan ini mendorong agar semua pihak bahu membahu di tengah suasana sulit seperti saat ini. Pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat dan media harus bergerak bersama-sama. "Butuh kolaborasi besar-besaran untuk melalui masa-masa penuh tantangan seperti ini," ucapnya.

Prioritaskan Pekerja Informal dan Sektor UMKM Dari aspek dampak ekonomi, pakar manajemen ini mengingatkan jika kelompok yang paling rentan terdampak adalah sektor informal atau UMKM yang hidupnya mengandalkan perputaran uang harian. "Kelompok ini yang harus menjadi prioritas untuk dibantu," terangnya.

Karena itu, menurut Rhenald, pemerintah harus sesegera mungkin menerapkan strategi realokasi anggaran guna membantu kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan pekerja informal atau UMKM. "Masyarakat harus mendapat resources yang cukup untuk survive," ujarnya.

Rhenald menyebut, dampak wabah Corona memang menghantam semua sektor usaha. Namun, pelaku usaha skala besar setidaknya memiliki daya tahan lebih kuat karena masih bisa menggunakan cadangan asetnya untuk survive di tengah turunnya permintaan. 

"Dengan memprioritaskan bantuan pada masyarakat bawah, pemerintah bisa menjaga daya beli, sekaligus menggerakkan pasar. Jika permintaan barang dan jasa terjaga, pelaku usaha skala besar juga akan terbantu," jelasnya.

Bagi masyarakat, kata Rhenald, kini saatnya memperkuat kolaborasi R to R atau Rakyat dengan  Rakyat. Kepedulian sosial harus digaungkan. 

Penggalangan dana secara swadaya bisa dilakukan melalui komunitas maupun platform seperti Kitabisa.com dan yang lainnya. "Kita sangat butuh semangat gotong royong di saat seperti ini," katanya.

Jeli Melihat Opportunity

Sementara bagi pelaku usaha, Rhenald menyatakan jika di saat-saat penuh tantangan seperti ini, selalu ada opportunity yang terbuka. Kuncinya adalah optimisme, kreativitas, inovasi."Wabah SARS di Tiongkok pada 2003 lalu menjadi momentum pertumbuhan toko online Taobao milik Alibaba yang kini mendunia," sebutnya.

Di Indonesia, menurut Rhenald, ekspansi Susi Air juga bergerak cepat usai bencana tsunami Aceh pada akhir 2004. etika itu, pesawat Susi Air menjadi armada udara pertama yang berhasil masuk membawa bantuan ke Aceh. 

Sebelum tsunami Aceh, Susi Air hanya menggunakan armada pesawat untuk transportasi hasil laut seperti ikan dan lobster. Namun, kejadian tsunami membuat Susi Pudjiastuti menyadari betapa tingginya kebutuhan angkutan udara penumpang di wilayah terpencil. Sejak itulah, Susi Air menjadi spesialis maskapai perintis. "Artinya, jika melihat dengan jernih, selalu ada peluang di balik musibah," ucap Rhenald. 

Kejernihan berpikir itulah yang juga menjadi perhatian Rhenald. Dalam kondisi seperti ini, informasi bergerak bergitu cepat, menciptakan kesimpangsiuran bagi banyak pihak. Karena itulah, webinar berjudul The Outbreak: Challenges & Opportunities dilaksanakan.  

Seminar yang diselenggarakan platform Mahir Academy by Rumah Perubahan ini diselenggarakan secara gratis, sehingga bisa diakses oleh banyak orang. "Saya ingin masyarakat dan pelaku usaha mendapat pegangan agar tetap bisa berpikir jernih di saat seperti ini," terangnya.

Situasi ini juga sekaligus menjadi saat tepat bagi masyarakat untuk belajar tentang pemanfaatan teknologi di tengah himbauan social distancing. Kegiatan bekerja dari rumah maupun belajar dari rumah mendorong pemanfaatan teknologi online meeting secara pesat. "Orang tua, anak-anak, maupun pekerja bisa belajar menggunakan teknologi secara produktif," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Imbas Covid-19, Penumpang KRL Turun Drastis
Baca Juga: Jokowi Bakal Bahas Covid-19 dalam KTT G20 Virtual

Baca Juga

DOK Pemprov Riau

PUPR: Realisasi Jalan Tol Beroperasi Capai 210,3 Kilometer

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 19:30 WIB
Kementerian PUPR juga mencatat ada 11 ruas jalan tol yang rencananya akan dioperasikan sepanjang Oktober hingga Desember...
ANTARA/Sigid Kurniawan

IHSG Terkoreksi Bakar Saham Rokok

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 18:58 WIB
PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terkoreksi 2.525 poin (-5,86%), PT PT Hanjaya Man dala Sampoerna Tbk (HMSP) terkoreksi 85 poin (-5,67%), PT...
Dok.MI

UU Ciptaker Buka Hambatan UMKM untuk Berkembang

👤RO/Micom 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 18:41 WIB
Dalam UU Ciptaker memastikan pelaku usaha kecil mendapatkan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya