Selasa 24 Maret 2020, 16:50 WIB

Memperjuangkan Literasi di Atas Kayuhan Becah

Furqon Ulya Himawan | Humaniora
 

SUATU siang, sebuah becak bertuliskan Becak Pustakan demikian namanya, terparkir di depan gapura TK-SD Tarakanita Bumijo, Yogyakarta. Seorang lelaki paruh baya berdiri di sampingnya. Dia melihat jam tangan di tangannya. “Sebentar lagi saya mengantarkan anak yang pulang sekolah,” kata lelaki itu, di pertengahan Februari kemarin.

Sutopo, 73, nama lelaki itu lalu menunjuk pada seorang anak kecil yang berlari mendekati becaknya. Anak itu langsung naik becak dan mencari-cari buku yang tertata rapi di dalam becak. Tak berselang lama, muncul seorang perempuan mengikutinya dari belakang yang juga ikut naik becak.

Arkatama Leon Sanjaya, 4, nama anak itu. Dia memberikan satu buku pilihannya kepada Agustina Srimulat Pawarti, 63, perempuan yang ikut naik becak bersamanya, dan langsung membacakannya untuk Leon. Sutopo bergegas mengayuh becaknya, bergerak meninggalkan sekolahan menuju rumah Leon yang jaraknya 2 kilometer.

Sutopo adalah pemilik becak itu. Dia menyulap becak yang dibelinya seharga 650ribu, menjadi Becak Pustaka. Sutopo modifikasi sedemikian rupa becaknya. Dia melengkapi becaknya dengan rak buku di bagian belakang dan sisi kanan kiri. Di rak itulah Sutopo menata seratusan buku.

Ada beragam judul buku di Becak Pustaka milik Sutopo, mulai dari buku anak-anak, buku kisah-kisah inspiratif, buku sastra, dan kamus. Sutopo membebaskan siapa saja membacanya. Gratis dan tak perlu kartu anggota. “Yang baca mulai dari mahasiswa, anak-anak sekolah sampai penarik becak seperti saya,” katanya.

Buku cerita anak dan buku-buku kisah sukses orang-orang yang menginspirasi menjadi buku bacaan yang paling disukai. Seperti Leon yang senang sekali dibacakan buku anak-anak dan cerita inspiratif. Sutopo pun kadang rela mencarikan buku-buku pesanan pembacanya. “Ada pembaca yang minta dicarikan buku primbon Jawa atau resep masakan, ya saya carikan,” ujarnya sambil tersenyum.

Pembaca buku di Becak Pustaka boleh meminjam dan membawa pulang buku apa saja dan berapa pun jumlahnya. Sutopo tidak pernah mempersoalkan bukunya dipinjam dan tidak kembali, dan itu terjadi. Seperti mahasiswa yang meminjam 5 buku tapi hanya mengembalikannya 1 buku saja. “Saya malah merasa bahagia kalau buku-buku saya dipinjam dan dibaca,” ujarnya.

Mimpi becak listrik
Sutopo awalnya bekerja sebagai PNS di Kodim 0734 Yogyakarta. Setelah pensiun pada 2003, Sutopo memutuskan untuk tetap bekerja. Menjadi penarik becak adalah pilihannya karena selain membuat tubuh tetap bergerak, dia juga bisa memanfaatkan waktu menunggu penumpang dengan membaca buku. “2004 saya mulai menarik becak,” kenangnya.

Kegemarannya membaca sejak kecil berlanjut sampai Sutopo menarik becak. Dia menaruh buku-buku yang biasa dia baca di becak. Sejumlah penumpang yang melihat kegemaran Sutopo membaca, memberi sumbangan buku. Lamban laun bukunya menjadi banyak. “Lalu saya punya ide untuk menjadikan becak saya sebagai Becak Pustaka,” ujarnya.

Saban hari, mulai pukul 07.00 pagi, Sutopo sudah mangkal di Jalan Tentara Pelajar Kota Yogyakarta, dekat sekolah Leon. Setelah mengantarkan Leon ke rumah, dia kembali lagi mangkal di Jalan Tentara Pelajar, depan Bank BPD DIY. Sore hari sekitar pukul 17.00 Sutopo baru pulang ke rumah. Dan di hari Sabtu-Minggu, Sutopo mangkal di utara Tugu Jogja. “Jadi 1 minggu penuh saya mangkal,” katanya.

Meski usianya sudah 73 tahun, Sutopo tak pernah mengeluh capek saat mengayuh becaknya. Dia malah pernah menarik becak dari Kota Yogyakarta ke Candi Prambanan dan ke Candi Ratu Boko, lalu balik lagi ke Kota Yogyakarta. “Saya justru senang bisa mengantarkan penumpang dan penumpangnya mau membaca buku.”

Namun, Sutopo mengaku jangkauan Becak Pustakanya tidak bisa jauh. Makanya dia berencana mengubah becaknya menjadi becak listrik. Selain biar bisa menjangkau lebih jauh, Sutopo juga telah mendesain sendiri becaknya agar lebih longgar untuk menaruh buku.

Menurut Sutopo, masih ada sekitar 200 eksemplar buku bacaan yang tersimpan di rumah, belum dia tata di rak buku Becak Pustakanya karena ruangannya sempit. Hanya sekitar 100 buku saja yang sudah tertata di rak buku Becak Pustakanya. “Depan saya tutup, lalu rodanya kecil bisa untuk duduk seperti mobil dan agak lebar. Kalau becak saya ada mesinnya kan jumlah buku bisa ditambah dan jangkauannya bisa lebih jauh.

Tak sampai 15 menit, Sutopo telah sampai di rumah Leon. Setelah mendapat upah, Sutopo kembali lagi ke pangkalan becaknya dan menanti siapa saja yang ingin membaca buku-buku di Becak Pustaka.

“Leon senang naik Becak Pustaka karena banyak koleksi bacaannya. Dia selalu ingin dibacakan buku-buku cerita anak,” kata Pawarti. “Semoga Becak Pustaka bisa menggiatkan anak-anak untuk gemar membaca,” harapnya. (OL-12)

 

Baca Juga

Antara

Ada 1.753 Peserta Lulus Seleksi Jalur SNMPTN di UGM

👤Ardi Teristri Hardi 🕔Rabu 08 April 2020, 16:10 WIB
SEBANYAK 1.753 peserta lulus seleksi jalur SNMPTN 2020 di UGM. Mereka terbagi dalam kelompok program studi Saintek sebanyak 1.238 dan...
MI/Bary Fathahilah

75 Pasien Covid-19 di Jakarta Sembuh

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 08 April 2020, 16:10 WIB
Pemprov DKI Jakarta juga masih terus melakukan rapid test di 6 wilayah Kota/Kabupaten Administrasi DKI Jakarta dan Pusat Pelayanan...
MI

Pemerintah Jamin Bantu Calon Mahasiswa Terdampak Covid-19

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Rabu 08 April 2020, 15:53 WIB
Pemerintah memberi kesempatan kepada calon mahasiswa yang kondisi perekonomiannya terdampak akibat covid-19 untuk diikutsertakan dalam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya