Senin 23 Maret 2020, 13:25 WIB

Nielsen: Covid-19 Tingkatkan Jumlah Penonton Televisi

Dwi Tupani | Humaniora
Nielsen: Covid-19 Tingkatkan Jumlah Penonton Televisi

MI/AGUNG SASTRO WIBOWO
Ilustrasi menyaksikan televisi.

 

NIELSEN Television Audience Measurement (TAM) di Indonesia menyatakan pandemi  covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam hal mengkonsumsi media. 

Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama covid-19 pada 2 Maret 2020, belum terlihat perubahan yang signifikan pada pola konsumsi media. 

Namun semakin intensnya pemberitaan membuat masyarakat mulai memantau setiap perkembangan terkait covid-19 melalui berbagai media, tidak terkecuali televisi. 

"Hasil pantauan Nielsen TAM di 11 kota menunjukkan rata-rata kepemirsaan TV mulai meningkat dalam  seminggu terakhir, dari rata-rata rating 12% di tanggal 11 Maret menjadi 13,8% di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV," ujar Nielsen dalam keterangan resminya, Senin (23/3). 

Durasi menonton TV pun mengalami lonjakan lebih dari 40 menit, dari rata-rata 4 jam 48 menit di tanggal 11 Maret menjadi 5 jam 29 menit di tanggal 18 Maret. Penonton dari Kelas Atas (upper class) menunjukkan kecenderungan lebih lama menonton televisi sejak 14 Maret dan jumlahnya juga terus meningkat. Peningkatan ini terlihat dari rata-rata rating 11,2%n di tanggal 11 Maret menjadi 13,7% di tanggal 18 Maret.

"Maraknya pemberitaan di sejumlah stasiun televisi terkait covid-19 di sepanjang periode 1-18 Maret berkontribusi kepada kenaikan kepemirsaan program berita. Kepemirsaan televisi terhadap Program Berita naik signifikan (+25%), terutama pada  penonton  Kelas Atas. Kenaikan juga terlihat pada Program Anak-anak dan series," tambah Nielsen.

Kebijakan tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran covid-19 yang diterapkan sejak pertengahan Maret juga mempengaruhi kepemirsaan televisi. Segmen pemirsa Anak (usia 5-9 tahun) meningkat signifikan, dari rata-rata rating 12% menjadi 15,8% di tanggal 18 Maret. Bahkan di Jakarta kepemirsaan di segmen ini mencapai rating tertinggi yaitu 16,2%.

Nielsen TAM di Indonesia melakukan pengukuran kepemirsaan atas semua televisi nasional terhadap lebih dari 8,000 orang berusia 5 tahun keatas di 11 kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar dan Banjarmasin). Hasil pengukuran tersebut tertuang dalam nilai rating, share dan indeks.

Baca juga: Milenial Perlu Perangi Hoaks Covid-19

Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan isu kesehatan dan kebersihan menjadi hal yang sangat diperhatikan. Laporan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel) memperlihatkan bahwa  sepanjang bulan Maret, frekuensi iklan di televisi meningkat secara signifikan untuk beberapa produk yaitu produk pencegah penyakit seperti vitamin dan suplemen, dan penyembuh penyakit seperti obat batuk. 

“Sejalan dengan meningkatnya kasus COVID-19, isu kesehatan menjadi perhatian bagi masyarakat. Ini mendorong para pelaku industri khususnya terkait vitamin dan obat-obatan menangkap peluang untuk meningkatkan penjualan  produk mereka, dengan cara menambah spot dan anggaran beriklan baik di media elektronik seperti televisi maupun media digital,” kata Executive Director Media Nielsen (Indonesia)  Hellen Katherina, dalam keterangan yang sama.

Di awal Maret kategori Vitamin menayangkan 300 spot iklan per hari, sementara di tanggal 18 Maret iklan kategori produk ini tayang 601 spot per hari dengan total belanja iklan mencapai Rp15,3 miliar per hari. Hal yang serupa juga terjadi pada kategori obat batuk, yang menayangkan kurang dari 50 spot iklan di awal Maret dan meningkat menjadi 180 spot pada 18 Maret dengan total belanja iklan Rp5,6 miliar per hari.

Selain di televisi, kategori produk Vitamin dan Suplemen juga meningkatkan belanja iklannya di media digital. Berdasarkan pantauan Nielsen di Top 200 situs lokal, kedua kategori produk tersebut menggelontorkan total belanja iklan lebih dari Rp20 miliar pada minggu kedua bulan Maret, naik signifikan yang hanya Rp6 miliar di minggu kedua bulan Februari. 

Informasi belanja iklan diambil dari data Ad Intel yang memonitor aktivitas periklanan Indonesia. Di tahun 2018, monitoring iklan mencakup 15 stasiun TV nasional, 98 surat kabar, 65 majalah dan tabloid dan 200 situs. Angka belanja iklan didasarkan pada gross rate card, tanpa menghitung diskon, bonus, promo, harga paket, dan lain-lain. (RO/A-2)

 

 

Baca Juga

MI/Ramdani

Ussy Sulistiawaty Bagikan Hand Sanitizer Gratis

👤MI 🕔Sabtu 04 April 2020, 01:00 WIB
PRESENTER Ussy Sulistiawaty, 38, menunjukkan kepedulian sosial di tengah wabah virus korona dengan membagi-bagikan hand sanitizer...
AFP

Tom Holland Usir Bosan ala Spider-Man

👤Atikah Ismah Wahyu 🕔Sabtu 04 April 2020, 00:15 WIB
PANDEMI covid-19 yang melanda berbagai belahan dunia membuat masyarakat tinggal di rumah dan melakukan isolasi...
 SKETSA MI/Seno

Sebanyak 2.311 Pekerja Alami PHK Akibat Wabah Covid-19

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 03 April 2020, 21:52 WIB
Dengan begitu Pemerintah pusat melakukan segenap upaya untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah memberikan pelatihan dalam program...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya