Senin 23 Maret 2020, 06:10 WIB

Belajar di Masa Pandemi

Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini
Belajar di Masa Pandemi

Dok. Pribadi

PANDEMI covid-19 telah menciptakan kebutuhan dan perlunya menjaga jarak dalam interaksi sosial (social distancing), karantina, dan isolasi sehingga setiap individu yang rentan tidak akan terkena vi­­rus. Upaya tersebut dilakukan—salah satunya—dengan tu­­juan agar sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan aki­­bat meningkatnya jumlah pasien yang harus dilayani.

Masyarakat seyogianya me­­mahami manfaat dari meng­upayakan kurva landai (flattening the curve), sebuah pendekatan yang digunakan untuk menghambat dan/atau menghentikan lajunya penye­­baran covid-19. Model ini meng­­hen­daki agar setiap indivi­du da­pat melakukan tanggung jawab/bagiannya guna memperlambat penyebaran virus. Keinginan untuk mewujudkan flattening the curve menjadi sa­­lah satu alasan utama kebi­­jakan pemerintah untuk meminta siswa belajar dari rumah (BDR), sehingga kesempatan mereka untuk dapat berkumpul dalam bentuk kerumunan dapat dicegah, dan karena itu peluang penyebaran covid-19 bisa dihambat.

Keluhan masyarakat

Dalam keadaan normal, pembelajaran model BDR (belajar di rumah) dan BDS (belajar di sekolah) bisa relatif sa­­ma tujuan dan kualitasnya. Yang membedakan mungkin hanya sarana pendukung yang digunakan. Pada keadaan da­rurat, ketika masyarakat (termasuk siswa dan guru) masih dibayangi wabah mematikan covid-19, seharusnya desain dan proses pembelajaran yang diterapkan berbeda sebab belajar tidak lagi bisa dianggap sebagai business as usual. Walaupun demikian, kebijakan BDR—yang diputuskan dengan tujuan untuk menghambat pe­­nyebaran virus—dalam prak­­tiknya tetap harus mengacu pa­da kurikulum nasional yang digunakan.

Kesiapan guru dan siswa dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran, khususnya pada jenjang pendidikan menengah, relatif baik dan terus mening­kat kualitasnya. Namun, muat­an pembelajaran daring masih perlu terus disempurnakan agar lebih interaktif sehingga memungkinkan siswa dapat lebih terlibat (engaged) dalam pro­ses pembelajaran. Daya du­kung teknologi juga perlu te­rus ditingkatkan kualitasnya, sebagaimana fasilitas yang digunakan perusahaan-per­­usahaan penyedia konten (content provider).

Kekurangsiapan guru dan manajemen sekolah serta mi­nimnya deliberasi yang dise­bab­kan terbatasnya waktu per­siapan yang diberikan, me­nyebabkan kebijakan BDR menuai kritikan/keluhan dari sebagian masyarakat (baca: orangtua siswa). Sebagian ma­­­syarakat mengeluhkan BDR, sebagai kegiatan memindahkan aktivitas kelas dari sekolah ke rumah dengan beban/tugas yang bahkan lebih banyak. Selain itu, beberapa sekolah juga tetap melakukan kegiatan penilaian untuk kepentingan rapor kenaikan kelas pada kelas-kelas rendah. Adapun siswa pada kelas akhir tetap dibayangi dengan ujian kelulusan/UNBK. Ujian akhir/UNBK sepertinya hanya akan ditunda penyelenggaraan dan bukan dihentikan. Siswa dihadapkan pada kecemasan yang berganda; wabah covid-19 dan tugas-tugas/ujian akhir se­­kolah/UNBK.

Pendekatan BDR yang digu­nakan sekarang menyebabkan siswa (dan mungkin juga guru), kehilangan kesempat­an untuk memahami dan me­ngerti dengan lebih dalam kejadian yang sedang dihadapi masyarakat dan bangsa saat ini. Mereka akan ke­hilangan momen penting un­tuk beref­leksi guna menumbuhkan sikap solidaritas sosial, peduli, empati, dan peluang untuk memikirkan kontribusi yang dapat diberikan untuk membantu lingkungan masyarakat di masa sulit ini.

Dalam kondisi darurat ini, kemasan muatan pembelajar­an BDR, seharusnya akan sarat dengan penguatan literasi dan karakter. Konten diajarkan, se­lain untuk mengembangkan pengetahuan siswa (rote learning), juga digunakan sebagai medium dalam menumbuhkan dan memperkuat kemampuan literasi dan karakter.

Sebagai sebuah aktivitas pem­belajaran formal, penilai­an tetap harus dilakukan. Namun, penilaian BDR dilakukan bukan untuk menentukan stan­dar pencapaian (attainment level) atau kepentingan nilai (assigning grade) semata. Penilaian dalam BDR dilakukan mestinya dengan tujuan untuk membantu siswa agar dapat menemukan cara bela­jar yang lebih baik bagi diri­nya pada setiap subjek yang dipelajari/diajarkan. Penilaian semacam ini disebut dengan penilaian formatif, yakni skor/nilai hasil sebuah aktivitas pe­nilaian bukanlah standar pen­capaian ataupun tujuan pro­ses pembelajaran. Karena jika kita menggunakannya sebagai tujuan proses pembelajaran, nilai sesungguhnya yang merupakan ukuran dari status pembelajaran akan hilang dan justru mendistorsi proses pembelajaran yang diharapkan (Rogertitcombe: 2015).

Untuk tujuan ini, berbagai metode penilaian bisa diguna­kan, baik berupa penilaian proyek, penilaian portofolio, ex­tended essays, dan bentuk penilaian lainnya yang relevan dengan tujuan pembelajaran.

Teknologi pembelajaran

Pengalaman pengelolaan pen­didikan dalam kondisi da­rurat sekarang ini, hendak­nya dapat menumbuhkan ke­­sadaran kolektif kita sebagai bangsa akan pentingnya tek­­nologi pembelajaran guna mewujudkan pendidikan bermutu dan berkeadilan. Konsep cyber schools dan/atau blen­ded learning, termasuk pe­nilaian disruptif (disruptive assessments), yang sudah banyak digunakan pada sejumlah sekolah/perguruan tinggi di mancanegara, hendaknya dijadikan kajian serius, konsis­ten, dan terukur oleh para pe­ngendali kebijakan pendidik­an pada tingkat nasional dan daerah.

Kenyataan, beberapa akade­misi akan memiliki kesempat­an untuk secara kritis terlibat dalam teori, penalaran peda­go­gis dan desain pembelajar­an yang terkait dengan pendidik­an daring dan jarak jauh ini. Sementara itu, guru juga sudah perlu untuk melakukan perbaikan dengan cepat sehingga tak lagi gagap dan memungkinkan pembelajaran daring dan jarak jauh dapat berjalan sebagaimana layaknya.

Menyelenggarakan pendidik­an daring dalam banyak kasus masih berupa kuliah atau se­­­minar, dengan melibatkan kelompok-kelompok besar in­­­dividu, semua menghadiri ruang yang sama, pada saat yang sama, tetapi mereka tidak serta-merta terlibat satu sama lain. Pengajaran yang lebih baik me­libatkan penilaian for­matif, dan ini tidak harus di­tandai dengan kerja keras. Teknik mempertanyakan, baik sinkron da­lam hal streaming ja­­rak jauh maupun asinkron dalam fasilitasi berbasis teks, yang memberikan bukti kepa­da guru/dosen untuk meres­pons dan menunjukkan arah pembelajaran bisa jauh lebih berharga. Pembelajaran se­lan­jutnya melibatkan siswa berkomunikasi satu sa­ma lain, dengan kegiatan terstruktur antara mode transmisi, ko­laborasi dan aplikasi. Ini se­mua bisa terjadi mengguna­kan teknologi yang tersedia se­karang dengan platform live-casting, dokumen kolaboratif, ruang dan aplikasi bersama (Matt Cornock: 2020).

Keadaan terkini dari teknologi informasi dan komunikasi tidak secara otomatis menciptakan lingkungan belajar yang inovatif dan berkualitas. Untuk membenarkan penggunaannya di kelas, mereka perlu me­nambahkan nilai dalam ben­­­tuk pada peningkatan mo­ti­vasi dan keterlibatan siswa. Wallahu a’lam.w

Baca Juga

Dok.Pribadi

Musim Semi Dinasti Politik

👤Adi Prayitno Dosen Politik FISIP UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Parameter Politik 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 04:09 WIB
Pada level ini, sejumlah parpol gagal bertransformasi menjadi partai modern. Jaring pengaman rekrutmen dan kaderisasi masih longgar. Mudah...
Dok.MI

Kemajemukan dan Edukasi

👤Mudji Sutrisno SJ Guru Besar STF Driyarkara, Dosen Pascasarjana UI, Budayawan 🕔Sabtu 08 Agustus 2020, 03:58 WIB
Indonesia yang secara politis menegaskan diri sebagai kami bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, secara kultural hanya akan terus ada dan...
Dok. Pribadi

Nasib Globalisasi setelah Covid-19 Berakhir

👤Agus Sugiarto Advisor, Otoritas Jasa Keuangan 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 04:05 WIB
DUNIA diperkirakan mengalami suatu perubahan yang fundamental setelah munculnya pandemi covid-19 yang terjadi sejak beberapa bulan yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya