Sabtu 21 Maret 2020, 22:17 WIB

Perang melawan Covid-19

Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Charles Meikyansah | Opini
Perang melawan Covid-19

Dok Pribadi
Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Charles Meikyansah

AWAL munculnya pandemi virus korona (covid-19) di Wuhan, Tiongkok, warga dunia menganggap serangan virus korona tidak begitu membahayakan dan bersifat sangat lokal. Terbatas di satu wilayah.

Evolusi dan mutasi virus korona dianggap hanya evolusi minor dari virus-virus yang telah muncul sebelumnya seperti H1N1, SARS, Ebola, dan sebagainya. Bahaya tapi sebaran dan dampaknya tidak semengerikan yang sekarang terjadi.

Kondisi yang demikian tecermin dari hampir seluruh negara yang gagap dalam menghadapi pandemi korona. Negara-negara tidak memiliki persiapan yang cukup dalam menghadapi pertumbuhan korban yang terjangkiti, termasuk Indonesia.

Memang data awal dan sebaran korona selalui berjalan landai. Dalam satu minggu awal ditemukannya korban korona dalam satu negara, data dan sebaran wilayah yang terjangkiti bergerak lambat, hanya satu sampai dua orang di satu lokasi.

Hal ini yang menyebabkan negara-negara yang terjangkiti terutama Indonesia tidak mengambil tindakan yang serius dan radikal. Hanya mengisolasi korban dan memberikan imbauan yang sifatnya normatif.

Celakanya, pertumbuhan sebaran dan korban korona selalu mengikuti model pertumbuhan eksponensial di mana pertumbuhan di awal selalu bergerak landai dan akhirnya melonjak drastis.

Lonjakan yang drastis membuat kondisi krisis. Dan kita sekarang berada dalam kondisi yang demikian. Data sebaran dan korban terus meningkat mengikuti model eksponensial di mana data dan sebaran korban tidak lagi berjalan landai tepi sudah terus melonjak drastis.

Data terakhir (Sabtu, 21/3/2020) menunjukkan jumlah korban sebanyak 450 yang positif Korona dengan korban yang mampu disembuhkan sebanyak 20 dan korban meninggal sebanyak 38. Artinya, mortalitiy rate akibat korona di Indonesia sebesar 8,4%. Persentase yang besar apabila merujuk pada mortalitiy rate di Tiongkok yang sebesar 4%.

Lalu, kapan data korban korona akan mulai turun? Pertanyaan yang membutuhkan kebijakan yang tepat dan cepat, serta membutuhkan kerja sama nasional dalam perang melawan korona. Semakin solid kerja sama seluruh elemen akan dapat menekan laju pertumbuhan korban korona.

Sekarang bukan waktunya berdebat untuk saling menyalahkan, tapi seperti kata Adlai Stevenson di New York Times tahun 1962 yang relevan untuk kondisi sekarang, "would rather light a candle than curse the darkness" (Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan).

Gotong Royong Nasional

Situasi yang krisis hari ini membutuhkan gotong royong nasional untuk bersama-sama melawan korona. Gotong royong paling mendasar dan penting adalah menerapkan social distancing secara serius.

Social distancing tidak bisa ditawar lagi. Kita semua harus membantu negara dengan sebisa mungkin dengan mengurangi mobilitas atau bahkan berdiam diri di rumah.

Simulasi New York Times menunjukkan dengan social distancing yang ketat kita berkontribusi sangat besar dalam menurunkan jumlah korban korona bahkan sampai 40%.

Hari ini berkoban demi negara tidak lagi harus berjuang dalam medan pertempuran tetapi sebisa mungkin social distancing.

Kesediaan pemerintah, DPR, elite politik, dan dunia usaha untuk bersama-sama mengurangi mobilitas dengan seruan work from home harus diapresiasi, akan tetapi juga harus diimbangi dengan keseriusan kita semua untuk social distancing.

Gotong royong nasional juga harus kita lakukan dengan bekerja sama menyukseskan kebijakan yang tengah diambil yaitu memperbanyak dan mempercepat test korona (rapid test).

Pemerintah harus mempercepat pengadaan infrastruktur lainya seperti alat pendekteksi dan obat sedangkan masyarakat secara sukarela untuk memeriksakan diri apabila merasa ada gejala terjangkit korona.

Kami di Partai Nasdem sudah melakukan gotong royong nasional dengan mengintruksikan social distancing, meliburkan seluruh tenaga ahli di Fraksi Partai Nasdem dengan work from home, dan membagikan masker. Partai NasDem juga siap apabila pemerintah sudah menyelenggarakan rapid test dengan menginstruksikan seluruh elemen dari tingkat paling bawah sampai pusat untuk melakukan tes korona.

Mitigasi korona hari ini tidak bisa dilakukan serampangan dan hanya mengandalkan kesukarelaan. Kita harus belajar dari Italia yang akhirnya melakukan kebijakan lockdown nasional setelah data korban menunjukkan lonjakan drastis. Telat dan biaya yang harus dibayar sangat mahal, tidak hanya jumlah korban yang besar tetapi juga kontraksi ekonomi yang dalam.

Keputusan pemerintah untuk mengambil mitigasi model Korea Selatan harus dilakukan secara serius. Sinergitas seluruh elemen menjadi kunci. Bahkan kalau perlu untuk melakukan intervensi kepada daerah atau intervensi daerah kepada masyarakat apabila tidak memberlakukan pembatasan mobilitas sosial dan social distancing.

Selain itu juga harus dilakukan kepada dunia usaha. Perusahaan sebisa mungkin mengurangi mobilitas sosial tentu pemerintah harus memberikan stimulus agar dunia usaha tidak mengalami kontraksi yang berat.

Momentum Berbenah dan Bersatu 

Tahun ini adalah tahun yang berat tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia. siklus pandemi 100 tahunan datang tiba-tiba di tengah optimisme untuk kerja, kerja, kerja. Meski menyisakan sedih dan kekhawatiran, korona memberikan cermin sekaligus hikmah bagi kita karena dengan korona kita bersatu.

Korona juga menunjukkan kepada kita apabila fondasi sistem kesehatan kita lemah dan pasca-korona harus dilakukan restorasi sistem kesehatan nasional yang serius. Kita juga harus investasi besar-besaran pada vaccine innovation.  

Ini penting karena, seperti kata Bill, "threat of deadly over 10 million people in the next few decade, its most likely to be a highly infectious virus rather than war, not missiles but microbes."

Maka, inovasi, kerja sama, dan perencanaan yang matang akan dapat meminimalisir risiko. Selebihnya, tetap waspada, karantina mandiri dan tetap lakukan social distancing secara ketat karena kita sedang berkontribusi bagi negara untuk memerangi pandemi. Kita akan mampu melewatinya dengan cepat. Badai pasti berlalu. Semoga.

Baca Juga

MI/DUTA

Orientasi Siswa Berbasis Virtual

👤Azwar Anas, Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe 🕔Senin 06 Juli 2020, 06:30 WIB
Tahun ajaran baru yang seyogianya dimulai pada pertengahan Juli mendatang masih begitu abu-abu akan bagaimana...
DOK PRIBADI

New Normal dan Kurikulum Fenomenologis

👤Khairil Azhar, Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma 🕔Senin 06 Juli 2020, 06:20 WIB
MENJELANG tahun pelajaran 2020-2021 beberapa keluhan disampaikan kawan-kawan guru. Keluhan-keluhan tersebut tidak saja dari mereka, tetapi...
MI/TIYOK

Kelompok Pendapatan Menengah Atas, Tantangan Implikasi Kebijakan

👤Teguh Dartanto, Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia 🕔Senin 06 Juli 2020, 06:00 WIB
 Terdapat tujuh negara yang mampu naik kelas pada 2020, yaitu Benin, Indonesia, Mauritius, Nauru, Nepal, Rumania, dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya